Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Misteri Gunung Gandul Alas Roban, Pernah Sesatkan Travel dan Tempat Keramat Pemburu Togel

Lutfi Hanafi • Rabu, 6 Desember 2023 | 09:30 WIB
GUNUNG GANDUL - Kades Madugowongjati Edy Zaenuryanto menunjukkan gua kecil sisa keberadaan Gunung Gandul.
GUNUNG GANDUL - Kades Madugowongjati Edy Zaenuryanto menunjukkan gua kecil sisa keberadaan Gunung Gandul.

BATANG, METROPEKALONGAN – Kawasan Pantura di Kabupaten Batang sudah dikenal dengan Alas Roban yang penuh msiteri.

Salah satunya, Gunung Gandul di desa Madugowongjati Kecamatan Gringsing mungkin belum begitu akrab di telinga karena hanya sedikit yang tahu.

Karena lokasinya berbentuk tebing padas di tepi jalan, penghubung alternatif dari desa Madugowongjati ke Kecamatan Tersono. Dan terletak sekitar 500 meter di sebelah selatan desa.

Tahun 2020, tepatnya bulan Oktober Gunung Gandul membuat gempar masyarakat. Karena ada minibus travel dari Jawa Timur yang kesasar pada malam hari.

Menurut penuturan supir travel sebelum kejadian dirinya memberi tumpangan kepada seorang nenek yang jalannya pincang di jembatan Pantura Kali Kuto.

Supir dan penumpang lain merasa melewati jalan raya yang lebar dan terang benderang. Setelah nenek itu minta turun suasana berubah menjadi gelap gulita.

Jalan yang sebelumnya lebar berubah menjadi jalan setapak dan berada di tengah hutan.

Supir dan penumpang yang ketakutan akhirnya berjalan kaki menuju perkampungan untuk minta pertolongan.

Anehnya mobil tidak mengalami kerusakan sedikitpun. Di jalan juga tidak ditemukan jejak bekas dilewati.

Padahal jalan sempit itu posisinya menanjak dipenuhi batu-batu besar dan mustahil bisa dilalui mobil. Sepeda motorpun sulit melewati.

TESESAT - Mobul travel asal Jatim yang tersesat ke dekat Gunung Gandul alas roban Batang, pada Okotober 2020 lampau.
TESESAT - Mobul travel asal Jatim yang tersesat ke dekat Gunung Gandul alas roban Batang, pada Okotober 2020 lampau.

"Cerita itu bukan hoax tapi nyata karena saya juga ikut mengevakuasi,” seru Kades Madugowongjati Edy Zaenuryanto kepada metropekalongan.com.

Perlu waktu sehari penuh untuk menyingkirkan batu-batu besar supaya mobil bisa keluar. Bahkan sebut, Edy Zaenuryanto.

Kejadian mobil kesasar tidak hanya sekali itu tapi sudah sering. Namun tidak diviralkan di media sosial, karena keterbatasan teknologi pada tahun sebelumnya.

Diungkapkan, Edy, disebut Gunung Ngadul, karena dulu ada batu besar yang menempel di tebing itu.

Dan posisinya seperti menggantung akalu dalam isitlah Jawa ‘ngandul’, ehingga dinamakan demikian.

Setahun yang lalu batu tersebut terkena proyek pelebaran jalan dan sekarang hanya menyisakan ceruk dengan gua kecil di tengahnya.

Masyarakat setempat, menghormati tempat itu karena dianggap keramat. Karena konon Gunung Gandul ditunggui oleh danyang, bernama Dewi Sri, yang dipercaya menjaga kesuburan pertanian.

Lebih jauh Edy Zaenuryanto menyebut Gunung Gandul itu sebagai tempat pesugihan tanpa tumbal dan pemburu togel.

"Yang datang orang-orang dari jauh. Saya sendiri tidak tahu ritualnya seperti apa,” ujarnya.

Masyarakat Madugowongjati hanya mengeramatkan dan mengambil manfaat dari air yang keluar dari Gunung Gandul.

Rofik salah seorang warga setempat yang pernah mengantar pemburu togel menjadi saksi keangkeran Gunung Gandul.

"Habis maghrib saya diminta mengantar dua orang dari Weleri untuk berburu nomor togel. Ketika dupa dibakar dan ritual dimulai tiba-tiba ada angin besar memutar kami. Anehnya hanya tempat kami yang kena angin sedangkan pohon disebelah tidak. Kami bertiga terpental dan batal ritual," ucap Rofik panjang lebar.

Aura di lokasi Gunung Gandul memang membuat ciut nyali. Meskipun jalan sudah dilebarkan dan diperkeras, tetap sulit dilewati.

Keunikan lainnya, gua kecil di tebing ternyata menjadi akses menuju telaga bawah tanah yang tidak pernah kering. Air dari sumber inilah yang mencukupi puluhan keluarga di kampung sekitar.

Masyarakat memasang pipa paralon dan memanfaatkan gaya gravitasi untuk mengalirkan air.

Konon jika ada yang punya hajat dan menggunakan air itu tapi tidak menaruh sesaji maka air yang keluar akan keruh berlumpur.

Kepercayaan itu masih dipegang oleh masyarakat setempat sampai sekarang.

Edy Zaenuryanto dan masyarakat Madugowongjati berharap legenda Gunung Gandul tetap terjaga karena menjadi kearifan lokal dan kekayaan budaya.

Dengan adanya cerita rakyat itu masyarakat menjadi lebih bijak dan tidak sembarangan merusak alam.

"Setiap malam Senin Kliwon kami memberi sesaji dupa dan kembang setaman. Bukan musyrik tapi kami menghormati adat dan kebiasaan leluhur," pungkas Edy. (han)

Editor : Agus AP
#alas roban #Gringsing #gunung #togel #tersesat di hutan #alas roban batang #misteri #tersesat #pantura batang