Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Begini Sejarah Lengkap Makam Syekh Maulana Maghribi di Ujungnegoro Batang

Riyan Fadli • Senin, 18 Desember 2023 | 15:54 WIB
Suasana Makam Syekh Maulana Maghribi di Ujungnegoro, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang. (Riyan Fadli Jawa Pos Radar Semarang)
Suasana Makam Syekh Maulana Maghribi di Ujungnegoro, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang. (Riyan Fadli Jawa Pos Radar Semarang)

BATANG, METROPEKALONGAN.COM - Unik, di pesisir Kabupaten Batang ada sebuah bukit yang sering dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah. Lokasinya di Pesisir pantai Ujungnegoro, Kecamatan Kandeman. Di puncak bukit itu ada makam salah satu ulama penyebar agama Islam di tanah Jawa, yaitu Syekh Maulana Maghribi. 

Geografis di sana terbilang unik, hanya satu bukit itu yang berbatasan langsung dengan bibir pantai. Kondisi demikian bisa dilihat sepanjang garis pantai mulai dari Sigandu, Ujungnegoro hingga Roban.

Jawa Pos Metro Pekalongan berkesempatan mengunjungi makam tersebut di Desa Ujungnegoro beberapa waktu lalu. Kami bertemu Ahmad Zahroh, tokoh agama yang merupakan Penghulu KUA Tulis II, Kecamatan Kandeman. 

Ia menjelaskan, sejarah Syekh Maulana Maghribi berkaitan dengan Sultan Alfatih dari Turki Usmani yang mengirimkan beberapa ulama ke Indonesia. 

Saat itu kepercayaan masyarakat masih animisme dan dinamisme. Misi pertama pengiriman ulama gagal. Selanjutnya dikirim Syekh Subakir yang membawa rombongan dengan menumbali tanah Jawa. 

Setelah itu tanah Jawa bisa dimasuki orang luar dari komunitas luar animisme dinamisme. Setelah Syekh Subakir kembali ke negeri asalnya. Selanjutnya Sultan Alfatih mengutus kembali rombongan ulama dari Maroko.

Mereka berasal dari negeri Maghribi. Maghribi bukanlah sebuah nama pribadi, bisa disebut sebagai sebutan, klan atau marga.

Setelah melalui Pantai Tuban dan Demak. Rombongan tersebut ada yang singgah di Ujungnegoro. Kemudian ke Wonobodro, juga ke Pemalang, dan lain sebagainya. Makamnya tersebar hingga ke Jawa Timur. 

Kemiripan nama Maghribi di makam-makam itu juga terkadang membingungkan masyarakat awam. 

Kenapa di Ujungnegoro namanya Syekh Maulana Maghribi, sedangkan di Wonobodro juga demikian. Masyarakat awam banyak mengira bahwa itu adalah satu pribadi. 

"Adanya makam tersebut diuri-uri oleh masyarakat sekitar. Sehingga menciptakan keislaman yang sangat kental. 

Sejarahnya, dahulu ada yang bermimpi, ditemui dalam alam bawah sadar. Kemudian ditashih atau diperiksa kebenarannya," ujarnya saat berbincang di kantornya.

Ia menjelaskan, keberadaan makam tersebut dikuatkan oleh Habib Luthfi bin Yahya. Sebelumnya, makam tersebut awalnya ditemukan sekitar tahun 1940-an, sebelum kemerdekaan. 

Mulai ramai dan diketahui banyak orang pada tahun 60-an. Usai ramai peziarah, makam tersebut terus dipelihara, diziarahi, dikhol kan, disyiarkan, dan lain sebagainya.

Makam mulai dipugar tahun 1990-an, di bawah kepemimpinan lurah setempat, Kasmudi. Pemugaran dan perawatan dilakukan terus menerus hingga saat ini. Apalagi dengan adanya proyek PLTU 2x1.000 mega watt. Makam tersebut semakin terawat.

Uniknya, di depan bangunan makam tersebut ada sumber mata air. Air terus mengalir, dan ditampung ke dalam kendi. 

Ada dua kendi yang menampung air yang keluar. Air muncul dari bawah kendi yang sengaja dilubangi. Lokasinya berada di dekat pohon besar yang telah ditebang. 

"Itu biasanya untuk minum, wudhu, cuci muka, dan lain sebagainya. Bahkan ada yang percaya air tersebut bisa mengobati," ucapnya.

Ia menambahkan, makam tersebut juga berkaitan dengan dataran tinggi Dieng. Tepat di bawah tebing makam ada gua. Namanya gua Aswatama atau Aswatomo dalam ejaan Bahasa Jawa. 

"Dahulu ada perang Baratayudha, antara Kurawa dan Pandawa. Aswatomo adalah anak dari pendeta Durna. Ia bertapa di gua tersebut. Melalui gua itu Aswatomo mengejar para Pandawa di Dieng," jelas Zahroh.

Selama bertapa, Aswatomo menggali gua. Ia mendapatkan pesan untuk sampai ke Dieng tidak boleh menengok ke belakang. Ia mengingkarinya, sehingga gua kembali merapat dan berbelok ke Batur. 

"Kita mengembangkan makam secara integral, sehingga betul-betul menjadi wisata religi di Kabupaten Batang," tegasnya.

Gua tersebut kini kondisinya telah tertutup pasir pantai. Koran ini berkeliling area makam bersama Tugiyo, ketua pengurus makam. 

Menurutnya, dahulu gua tersebut lebarnya 2 meter dan dalam. Seiring abrasi yang mengikis pantai, gua itu telah tertutup. Menyisakan beberapa sentimeter mulut gua bagian atas.

"Sebenarnya di belakang makam utama ada 2 patok makam lagi, tapi sekarang sudah tidak ada. Tebing sering mengalami longsor sampai belakang bangunan makam," ucapnya.

Kasturi bin Sodri, juru kunci makam menambahkan tentang sejarah makam Syekh Maulana Maghribi. Sebelumnya masyarakat melakukan nyadran, namun mulai tahun 1960-an berganti dengan kegiatan khol.

"Syekh Maulana Maghribi ini dulu menyebarkan Islam di Ujungnegoro dan daerah sekitarnya. Abah Luthfi mengatakan Ujungnegoro adalah pandernya (pusat, Red) Jawa Tengah bahkan Indonesia. Kalau Ujungnegoro makmur, mriko-mriko makmur, Ujungnegoro aman, mriko-mrikoyo aman," tandasnya. (yan/ida)

 

 

 

Editor : Ida Nor Layla
#Ziarah Walisongo #wisata religi #Kabupaten Batang #Syekh Maulana Maghribi