Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Jawa Tengah Nasional Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Hati-Hati Jika Lihat Sosok Cantik, Saat Melewati Pal 15 Alas Roban Batang

Lutfi Hanafi • Kamis, 4 Januari 2024 - 21:49 WIB

TUNGGU LEMPARAN UANG : Mbah Warno saat menunggu pengemudi melempar uang, saat melewati Pal 15 Jalur Alas Roban Batang.
TUNGGU LEMPARAN UANG : Mbah Warno saat menunggu pengemudi melempar uang, saat melewati Pal 15 Jalur Alas Roban Batang.

BATANG, METROPEKALONGAN.COM – Jawa Tengah kini dilengkapi jalan tol Trans Jawa. 

Meski begitu, para pengguna jalur pantura Jawa Tengah dari Kota Semarang ke wilayah barat Jakarta atau sebaliknya, selalu melewati jalur Alas Roban.

Jalur ini terletak di ujung bagian timur Kabupaten Batang, tepatnya di Kecamatan Gringsing.

Selama ini, banyak pihak mengakui jalur ini sudah angker sejak zaman Mataram kuno.

Hal ini karena jalur tersebut dibuat di masa Hindia Belanda atau Jalan Daendels. Tepatnya di wilayah Desa Plelen.

Para pengendara akan melewati jalan berkelok tajam menembus hutan jati sejauh 6 kilometer. 

Perlu konsentrasi tinggi saat lewat, karena kanan kiri jalan terdapat jurang curam. 

Jika malam hari, keadaan gelap gulita, karena tidak ada lampu penerangan sama sekali. Bahkan jarang ada rumah penduduk.

Cerita keangkeran Alas Roban sendiri ada banyak versi. 

Salah satu yang kesohor adalah di Pal 15. 

Sudah banyak cerita beredar mengenai rumah makan gaib yang sering mengalihkan pandangan pengguna jalan. 

Bahkan tidak hanya satu atau dua orang yang pernah mengalami.

Di beberapa sosial media, sudah banyak yang mengungkap.

METROPEKALONGAN.COM berkesempatan bertemu dengan warga asli setempat, Suwarno, 80, warga asli Dukuh Bunderan, Plelen.

Mbah Warno - biasa dipanggil- sudah puluhan tahun berprofesi “menjaga” jalan tikungan Pal 15.

Karena kabar keangkeran Alas Roban itulah, memantik para pengendara untuk melempar uang.

Bahkan kebiasaan melempar uang itu sudah sejak dulu.

Hal ini diyakini sebagai bentuk buang sial dan mencari keselamatan.

Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk "menjaga" dan mengarahkan kendaraan yang lewat. 

Salah satunya Mbah Warno. Sudah sejak muda puluhan tahun kini.

“Kalau ramai, sehari bisa dapat puluhan hingga ratusan ribu rupiah,” ujarnya.

Tapi sejak ada jalur alternatif dan jalan lingkar, volume kendaraan yang melewati jalan Daendels Alas Roban sudah sangat jarang.

Apalagi sekarang sudah ada jalan tol. Hal ini berdampak dengan pendapatannya.

Mbah Warno yang kerap menunggu di jalur Alas Roban memiliki pengalaman mistis.

Mbah Warno bercerita, pernah ada serombongan orang yang berhenti dan makan pecel lele saat malam hari.

Kemudian pada siangnya, kembali ke lokasi yang sama, ternyata mereka makan di atas jurang curam.

Tidak ada tanda-tanda pernah ada warung pecel berdiri di lokasi tersebut.

Yang paling menarik lagi, kata Mbah Warno adalah, penunggu gaib berwujud sosok wanita cantik memakai kebaya hijau muda yang disebut Gadungan.

Gadung dalam bahasa setempat berarti hijau. Sosok ini, katanya sering menggoda pengguna jalan. 

Terutama sopir truk yang lewat di malam hari. Jika sopir itu mata keranjang, maka dengan senang hati akan memberikan tumpangan.

Selanjutnya dipastikan akan celaka, entah menabrak tebing atau masuk jurang.

Keberadaan Gadungan tidak dapat ditelusuri dari mana cerita berawal.

Tapi beberapa mantan pengemudi mengatakan pernah melihat keberadaannya. Tahun 80-an ada truk muatan semen masuk jurang.

Sebelum meninggal, pengemudinya bercerita jika sebelum kejadian dirinya memberikan tumpangan seorang wanita berbaju hijau.

Menurut Mbah Warno, Gadungan adalah wujud ujian keimanan seseorang. Jika tergoda dengan kecantikan Gadungan berarti imannya kurang.

Hal tersebut dibenarkan, Sobirin, 63,. Dulu sewaktu Alas Roban masih ramai, Sobirin membuka warung makan di pinggir Alas Roban. Sobirin mengaku sering diganggu.

Ada yang berwujud makhluk berambut gimbal bertubuh besar, ada yang berkelebat putih-putih, ada juga yang hanya tercium aroma busuknya.

Tapi hanya sekelebat saja dan tidak mengganggu secara fisik.

“Saya justru senang kalau diganggu, karena biasanya warung tambah laris," serunya sambil tergelak. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#alas roban #Gringsing #mistis #daendels