METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Jalan hidup, Tuhan Yang Maha Kuasa yang menentukan. Itulah yang dirasakan Widhi Astri Aprillia Nia. Lahir dan besar di Bandung, menempuh pendidikan Ilmu Pemerintahan di Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Bandung. Tapi tinggalnya sementara ini jauh dari Bandung.
Widhi Astri setelah lulus kuliah, terbilang sangat beruntung karena langsung diterima bekerja di PT Jamsostek, yang kini bertransformasi menjadi BPJS Ketenagakerjaan. Dia remaja, tak membayangkan akan menjalani karir di wilayah Indonesia timur.
Tapi penugasan pertamanya justru membawanya menjauh ribuan kilometer dari kampung halamannya. Tahun 2003, ia ditempatkan di Kendari, Sulawesi Tenggara. Empat tahun bertugas di Kendari, Widhi justru dipindahkan ke Manado. Di kota itulah, takdir mempertemukannya dengan sang suami yang merupakan putra asli Sulawesi Utara.
“Tuhan memiliki cara unik mempertemukan jodoh. Kalau jodoh saya ada di Bandung mungkin hidup saya berbeda. Tapi ternyata Tuhan mempertemukan saya dengan orang Manado,” kenangnya sambil tersenyum.
Dari Manado, karirnya terus berkembang. Ia pernah bertugas di Palopo, kembali ke Manado, hingga dipercaya menjadi Kepala Kantor Cabang Perintis BPJS Ketenagakerjaan di Minahasa pada 2015.
Tanggung jawab yang lebih besar itu, membawanya ke Bitung, Makassar, Gorontalo. Namun setelah dua dekade berpetualang melintasi daerah di Sulawesi, tepatnya pada Agustus 2025 mendapat amanah memimpin BPJS Ketenagakerjaan Cabang Pekalongan.
22 tahun di Sulawesi, bagi Widhi Astri bukan hanya fokus pada pekerjaan. Ia juga mempelajari beragam budaya, karakter masyarakat, dan cara membangun kesadaran akan pentingnya perlindungan sosial ketenagakerjaan.
Salah satu pengalaman yang paling membekas di hatinya saat bertugas di Gorontalo. Di daerah tersebut, masyarakat sangat memahami manfaat program Jaminan Kematian BPJS Ketenagakerjaan.
Menurutnya, budaya lokal yang memiliki rangkaian prosesi adat panjang saat ada anggota keluarga yang meninggal, menyadarkan masyarakat akan pentingnya perlindungan finansial.
“Di sana, manfaat santunan kematian sangat dirasakan masyarakat. Mereka paham bahwa perlindungan itu bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya.
Pengalaman tersebut menjadi pelajaran berharga yang dia bawa hingga sekarang. Ia melihat bahwa edukasi dan pemahaman masyarakat menjadi kunci keberhasilan perluasan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
Meski sukses meniti karier di berbagai daerah, perjalanan panjang itu menuntut pengorbanan besar. Saat ini, suami dan ketiga anaknya masih tinggal di Manado.
Jarak yang memisahkan ribuan kilometer itu menyebabkan intensitas pertemuan fisik berkurang. Menjaga komunikasi keluarga, lebih banyak dilakukan melalui video call.
Baginya kini, tantangan terbesar bukanlah target pekerjaan, melainkan menahan rindu kepada keluarga.
“Anak-anak sekarang mungkin cukup dengan video call. Tapi sebagai ibu, kadang yang sulit justru menahan rasa kangen,” ungkapnya.
Kerinduan itulah yang membuat Widhi mulai merancang babak baru dalam kehidupannya. Setelah lebih dari dua dekade bertugas di Sulawesi, ia berencana memboyong seluruh keluarganya kembali ke Pulau Jawa, khususnya Bandung dalam beberapa tahun mendatang.
Namun sebelum itu terwujud, Widhi ingin menuntaskan misinya di wilayah tugasnya di Pekalongan.
Menurutnya, Pekalongan memiliki potensi besar. Dirinya masih bertekad untuk meningkatkan cakupan perlindungan pekerja, terutama di sektor UMKM, pekerja rentan, ekosistem keagamaan, hingga pelaku usaha mandiri.
Ia lebih optimistis, setelah mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah yang dinilainya memiliki komitmen kuat terhadap perlindungan pekerja.
Di Pekalongan, diakuinya, masih ada potensi yang sangat luas untuk meningkatkan jumlah peserta BPJS Ketenagakerjaan. Karena itu, berbagai inovasi yang pernah diterapkan di Sulawesi, kini mulai dicoba dan disesuaikan dengan karakter masyarakat Jawa.
“Setiap daerah punya budaya berbeda. Terpenting adalah bagaimana kita bisa menghadirkan perlindungan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” tuturnya.
Bagi Widhi, perlindungan ketenagakerjaan bukan sekadar program administratif atau angka kepesertaan. Di balik setiap kartu peserta, ada keluarga yang perlu dijaga, ada masa depan anak-anak yang harus dipastikan tetap berjalan, ketika risiko hidup datang tanpa diduga.
Dari Kendari hingga Pekalongan, dari Minahasa hingga Gorontalo, perjalanan panjang itu telah membentuk dirinya menjadi sosok pemimpin yang memahami bahwa perlindungan sosial bukan hanya soal regulasi, tetapi juga tentang menghadirkan rasa aman bagi para pekerja dan keluarga mereka. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla