Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Sri Hartatik, Anak Pencari Pasir di Batang, Kini Bisa Bangun Startup Jasa, Setelah Kerja Serabutan dan Andalkan Beasiswa

Lutfi Hanafi • Rabu, 24 Juni 2026 | 16:05 WIB
dok Pribadi
FOTO BERSAMA - Sri Hartatik berfoto bersama dengan orang tua dan saudaranya usai menggelar wisuda beberapa waktu kemarin.
dok Pribadi FOTO BERSAMA - Sri Hartatik berfoto bersama dengan orang tua dan saudaranya usai menggelar wisuda beberapa waktu kemarin.
 
METROPEKALONGAN.COM, Batang - Mimpi besar terkadang lahir dari tempat yang paling sederhana. Di sebuah rumah di Desa Posong, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Sri Hartatik tumbuh dalam keluarga yang jauh dari kemewahan.
 
Ayahnya bekerja mencari pasir di sungai untuk dijual kembali, sementara sang ibu menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai buruh tani sebelum akhirnya berhenti bekerja karena sakit.

Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, perempuan muda ini menyimpan satu tekad yang terus ia jaga sejak kecil. Yakni, menjadi sarjana pertama di keluarganya dan mengangkat derajat kedua orang tuanya.

Mimpi itu tidak datang tanpa perjuangan. Setelah lulus SMK jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO), Sri diam-diam mendaftarkan diri ke perguruan tinggi.
 
Ia bahkan tidak berani memberitahukan kepada kedua orang tuanya karena khawatir membebani kondisi ekonomi keluarga. “Kalau waktu itu tidak diterima, mungkin saya tidak akan kuliah,” kenangnya.

Takdir berkata lain. Ia diterima di Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Semarang (Unnes).
 
Jurusan yang dipilih ini berbanding lurus dengan cita-citanya menjadi guru. Namun perjuangan sesungguhnya justru dimulai setelah memasuki dunia kampus.

Pada semester pertama dan kedua, biaya kuliah masih bisa ditopang dari tabungan yang dimilikinya. Namun memasuki semester ketiga, seluruh tabungannya habis. Biaya hidup dan uang kuliah tunggal (UKT) menjadi persoalan besar yang harus dia hadapi.

Saat kondisi semakin sulit, kakaknya sempat menyarankan agar ia cuti kuliah dan bekerja. Namun kedua orang tuanya justru memberikan dukungan yang tak pernah ia lupakan.

“Bapak dan ibu bilang, jangan cuti. Mereka akan berusaha mencarikan uang agar saya tetap bisa kuliah,” tuturnya.

Bahkan, keluarga sempat mempertaruhkan sertifikat rumah demi membayar biaya pendidikan. Peristiwa itu menjadi titik balik bagi Sri. Sejak saat itu, ia bertekad tidak lagi membebani orang tuanya.

Ia mulai berjuang membiayai kuliah dan kehidupannya sendiri. Berbagai beasiswa diburu dan berhasil diraih. Mulai dari Beasiswa Rumah Amal Unnes, Beasiswa Bintang Muda Teknik, hingga Beasiswa Jamaah Muslim Fakultas yang membantunya bertahan selama beberapa semester.

Tak hanya itu, bantuan juga datang dari para dosen yang peduli terhadap perjuangannya. Melalui program kost pesantren atau “kostren”, ia bersama sejumlah mahasiswa lain mendapatkan tempat tinggal gratis berkat dukungan Dosen Psikologi Unnes, Aziz dan Dosen Bahasa Inggris Zulfa.

Meski demikian, kebutuhan hidup sehari-hari tetap harus dipenuhi. Sri pun menjelma menjadi mahasiswa serba bisa.
 
Ia membuka jasa antar jemput, jasa titip, layanan bantuan harian yang ia sebut “Jasa Sri Tolong Sri”, mengajar les privat, berjualan makanan ringan hingga menjual bunga segar. “Pokoknya apa saja saya kerjakan selama halal,” katanya.
 
BAWA TITIPAN -  Sri Hartatik saat membawa menu makan order jasa Sri Tolong Sri ke rumah pelanggannya.
BAWA TITIPAN -  Sri Hartatik saat membawa menu makan order jasa Sri Tolong Sri ke rumah pelanggannya.

Rutinitasnya kala itu tidak hanya kuliah. Ia harus membagi waktu antara belajar, bekerja, berorganisasi, dan mengejar prestasi.
 
Ia aktif di UKM Rebana Modern Unnes, UKM Pencak Silat, organisasi daerah Kembang Sutra Batang, hingga PK IPNU IPPNU Unnes.

Dari organisasi tersebut, ia menemukan lingkungan yang positif, memperluas relasi, dan memperoleh banyak kesempatan mengikuti berbagai kompetisi.
 
Berbagai aktivitas itu justru membentuk mental tangguh yang kini menjadi modal berharga dalam hidupnya.

Selepas sidang skripsi, Sri sempat bekerja di sebuah perusahaan selama dua bulan. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sang ibu didiagnosis menderita gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah rutin dua kali setiap pekan.

Tanpa banyak pertimbangan, ia memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya. Bagi Sri, mendampingi ibunya adalah prioritas yang tidak bisa digantikan siapa pun.

“Karena tidak ada yang mengantar, akhirnya saya memutuskan resign untuk merawat dan mengantar ibu cuci darah,” ungkapnya.

Kini, dari perjalanan panjang penuh keterbatasan itu, Sri mulai merintis startup layanan jasa Sri Tolong Sri yang menyasar masyarakat Kabupaten Batang dan sekitarnya.
 
Berawal dari jasa titip, antar jemput, hingga berbagai layanan bantuan yang pernah ia jalankan saat kuliah, ia ingin menghadirkan solusi yang memudahkan kebutuhan masyarakat sekaligus membuka peluang kerja bagi anak-anak muda di daerahnya.

Bagi Sri Hartatik, kesuksesan bukanlah soal seberapa cepat mencapai puncak, melainkan seberapa kuat bertahan ketika keadaan memaksa untuk menyerah.
 
Dari kampung kecil di Pantura Batang, ia membuktikan bahwa mimpi sederhana seorang anak buruh pasir dapat tumbuh menjadi harapan besar yang memberi manfaat bagi banyak orang. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla
#IPNU IPPNU #uang kuliah tunggal #Sri Hartatik #Sri Tolong Sri #unnes