Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, perempuan muda ini menyimpan satu tekad yang terus ia jaga sejak kecil. Yakni, menjadi sarjana pertama di keluarganya dan mengangkat derajat kedua orang tuanya.
Mimpi itu tidak datang tanpa perjuangan. Setelah lulus SMK jurusan Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO), Sri diam-diam mendaftarkan diri ke perguruan tinggi.
Takdir berkata lain. Ia diterima di Program Studi Pendidikan Teknik Otomotif Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Pada semester pertama dan kedua, biaya kuliah masih bisa ditopang dari tabungan yang dimilikinya. Namun memasuki semester ketiga, seluruh tabungannya habis. Biaya hidup dan uang kuliah tunggal (UKT) menjadi persoalan besar yang harus dia hadapi.
Saat kondisi semakin sulit, kakaknya sempat menyarankan agar ia cuti kuliah dan bekerja. Namun kedua orang tuanya justru memberikan dukungan yang tak pernah ia lupakan.
“Bapak dan ibu bilang, jangan cuti. Mereka akan berusaha mencarikan uang agar saya tetap bisa kuliah,” tuturnya.
Bahkan, keluarga sempat mempertaruhkan sertifikat rumah demi membayar biaya pendidikan. Peristiwa itu menjadi titik balik bagi Sri. Sejak saat itu, ia bertekad tidak lagi membebani orang tuanya.
Ia mulai berjuang membiayai kuliah dan kehidupannya sendiri. Berbagai beasiswa diburu dan berhasil diraih. Mulai dari Beasiswa Rumah Amal Unnes, Beasiswa Bintang Muda Teknik, hingga Beasiswa Jamaah Muslim Fakultas yang membantunya bertahan selama beberapa semester.
Tak hanya itu, bantuan juga datang dari para dosen yang peduli terhadap perjuangannya. Melalui program kost pesantren atau “kostren”, ia bersama sejumlah mahasiswa lain mendapatkan tempat tinggal gratis berkat dukungan Dosen Psikologi Unnes, Aziz dan Dosen Bahasa Inggris Zulfa.
Meski demikian, kebutuhan hidup sehari-hari tetap harus dipenuhi. Sri pun menjelma menjadi mahasiswa serba bisa.
Rutinitasnya kala itu tidak hanya kuliah. Ia harus membagi waktu antara belajar, bekerja, berorganisasi, dan mengejar prestasi.
Dari organisasi tersebut, ia menemukan lingkungan yang positif, memperluas relasi, dan memperoleh banyak kesempatan mengikuti berbagai kompetisi.
Selepas sidang skripsi, Sri sempat bekerja di sebuah perusahaan selama dua bulan. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sang ibu didiagnosis menderita gagal ginjal dan harus menjalani cuci darah rutin dua kali setiap pekan.
Tanpa banyak pertimbangan, ia memilih mengundurkan diri dari pekerjaannya. Bagi Sri, mendampingi ibunya adalah prioritas yang tidak bisa digantikan siapa pun.
“Karena tidak ada yang mengantar, akhirnya saya memutuskan resign untuk merawat dan mengantar ibu cuci darah,” ungkapnya.
Kini, dari perjalanan panjang penuh keterbatasan itu, Sri mulai merintis startup layanan jasa Sri Tolong Sri yang menyasar masyarakat Kabupaten Batang dan sekitarnya.
Bagi Sri Hartatik, kesuksesan bukanlah soal seberapa cepat mencapai puncak, melainkan seberapa kuat bertahan ketika keadaan memaksa untuk menyerah.