METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Bertahun-tahun mengabdikan diri di wilayah-wilayah terjauh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), menghadapi dinginnya Pegunungan Papua hingga memimpin prajurit di Maluku Utara, kini Letkol Inf Muhammad Nurul Chabibi, S.H. kembali menapakkan kaki di Pulau Jawa.
Di balik senyum ramahnya, tersimpan perjalanan panjang seorang prajurit yang sejak muda memilih jalan pengabdian jauh dari tanah kelahirannya. Lahir dan besar di Magelang dari pasangan wiraswasta, Muhammad Nurul Chabibi menghabiskan masa kecil hingga remaja di kota yang dikenal sebagai "Kawah Candradimuka" para taruna TNI.
Rumahnya berada di jalur yang kerap dilalui para taruna Akademi Militer saat latihan. Setiap hari ia melihat iring-iringan prajurit dan kendaraan militer melintas di depan rumah. Namun, kala itu ia mengaku belum pernah membayangkan akan menjadi seorang tentara.
"Kalau niat dari kecil sebenarnya tidak ada bayangan menjadi tentara. Tapi karena lingkungan dan ada saudara yang menjadi anggota TNI, akhirnya saya mencoba mendaftar," kenangnya.
Tahun 2002 menjadi titik awal perjalanannya ketika diterima sebagai Taruna Akademi Militer. Tiga tahun kemudian ia resmi dilantik menjadi perwira TNI Angkatan Darat. Namun berbeda dengan sebagian lulusan yang berharap bertugas dekat keluarga, Chabibi justru memiliki keinginan sebaliknya.
"Saya mencari penempatan yang paling jauh di Indonesia," ujarnya sambil tersenyum.
Keinginannya Terkabul
Tahun 2006, ia ditugaskan ke Merauke, Papua bagian selatan. Di sanalah perjalanan panjangnya sebagai prajurit dimulai.
Selama hampir sembilan tahun bertugas di Bumi Cenderawasih, ia merasakan langsung kerasnya kehidupan di wilayah perbatasan. Bukan hanya medan yang berat, tetapi juga tantangan menjaga keutuhan NKRI di daerah dengan kondisi geografis yang sulit dijangkau.
Selepas Papua, kariernya berlanjut ke Korem 073/Makutarama Salatiga, kemudian dipercaya menjadi Kepala Seksi Teritorial (Kasdim) di Jepara. Perjalanan pengabdiannya berlanjut ke Sumatera Selatan sebagai bagian dari Rindam II/Sriwijaya sebelum bertugas di Kodam II/Sriwijaya.
Pada 2024, ia kembali dipercaya mengemban tugas di wilayah timur Indonesia sebagai Komandan Batalyon Infanteri (Danyonif) 732/Banau di bawah Kodam XVI/Pattimura yang bermarkas di Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara.
Tak lama kemudian, ia kembali menerima tugas yang penuh risiko.
Sebagai Komandan Satgas Mobile RI-PNG Yonif 732/Banau di bawah Komando Operasi (Koops) Habema, ia memimpin sekitar 450 prajurit menjalankan operasi di Kabupaten Puncak, Papua Pegunungan, salah satu wilayah dengan dinamika keamanan paling tinggi di Indonesia.
Baginya, setiap keberangkatan menuju daerah operasi selalu menyisakan pergulatan batin.
"Yang pertama terpikir pasti keluarga. Kalau saya ada apa-apa bagaimana anak dan istri. Saya yakin semua prajurit juga berpikir seperti itu," ungkap ayah dua anak tersebut.
Namun rasa khawatir itu dijawab dengan keyakinan dan kepemimpinan yang kuat.
Selama sekitar sepuluh bulan menjalankan operasi, seluruh prajurit yang dipimpinnya kembali dalam keadaan lengkap.
"Saya berangkat membawa 450 anggota, dan Alhamdulillah semuanya kembali dengan selamat," katanya.
Prestasi yang paling membanggakan bukanlah keberhasilan dalam kontak senjata.
Justru keberhasilan merangkul hati masyarakat Papua.
Melalui pendekatan humanis, Letkol Chabibi berhasil mengajak lima anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kampung Jampul, Distrik Beoga Barat, Kabupaten Puncak, untuk kembali ke pangkuan NKRI.
Kelima pemuda tersebut mengucapkan ikrar setia kepada Indonesia dengan didampingi kepala suku setempat. Mereka kemudian menjalani proses reintegrasi sosial dengan jaminan keamanan dari Satgas.
Keberhasilan tersebut menjadi salah satu contoh pendekatan teritorial yang mengedepankan dialog dibanding kekuatan senjata.
Pendekatan kemanusiaan juga diwujudkan melalui berbagai program sosial.
Ia menggagas Program ROSITA (Borong Hasil Tani) yang membeli langsung hasil kebun mama-mama Papua dengan harga layak demi meningkatkan perekonomian masyarakat.
Ada pula Program PASTOOR (Pelayanan Kesehatan Door to Door), yakni pelayanan kesehatan gratis yang mendatangi rumah-rumah warga di pedalaman.
Sementara melalui Program Banau Berbagi Jumat, prajurit membagikan makanan bergizi kepada anak-anak Papua sebagai upaya membantu pencegahan stunting.
Tak hanya itu, saat kekurangan tenaga pendidik terjadi di sejumlah kampung, ia memerintahkan prajuritnya menjadi guru.
Anak-anak di Kampung Dangbet dan Julukoma diajari membaca, menulis, berhitung, hingga menyanyikan lagu-lagu kebangsaan.
Pendekatan tersebut mendapat apresiasi dari Panglima Koops Habema karena dinilai berhasil membangun kepercayaan masyarakat melalui sentuhan kemanusiaan.
Kini, pengalaman panjang itu menjadi bekal saat mengemban amanah baru sebagai Dandim 0710/Pekalongan sejak 21 Juni 2026.
Menurutnya, bertugas di Pekalongan terasa seperti kembali ke rumah sendiri setelah sebagian besar karier militernya dihabiskan di luar Pulau Jawa.
"Alhamdulillah, rasanya seperti pulang ke rumah. Sebelumnya saya lebih banyak berdinas di luar Jawa," tuturnya.
Meski baru beberapa pekan bertugas, ia langsung bergerak melakukan pemetaan persoalan wilayah atau yang ia sebut sebagai "belanja masalah". Baginya, memahami kondisi daerah menjadi langkah awal sebelum menyusun berbagai program kerja.
Ia menegaskan fokus utamanya adalah menjaga kondusifitas wilayah sekaligus mendukung seluruh program prioritas pemerintah, termasuk memperkuat sinergi bersama Pemerintah Kota Pekalongan, Pemerintah Kabupaten Pekalongan, Forkopimda, Polri, Kejaksaan, DPRD, instansi vertikal, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga kalangan pemuda.
"Tujuan akhirnya adalah menciptakan wilayah yang aman, guyub, dan kondusif sehingga pembangunan bisa berjalan dengan baik," katanya.
Di tengah kesibukan mengenal wilayah tugas barunya, Letkol Chabibi juga mulai menikmati kekayaan kuliner Pekalongan.
Tauco, garang asem, hingga megono sudah masuk dalam daftar makanan favorit yang telah ia cicipi.
Baginya, mengenal kuliner lokal merupakan bagian dari upaya mengenal masyarakat yang akan dilayaninya.
"Kalau ditanya sekarang, saya sudah orang Pekalongan. KTP saya juga sudah pindah ke sini," ujarnya sambil tertawa. (han/dit)