Semakin Mengkhawatirkan, Macan Tutul Ungaran Tersisa Empat Sampai Tujuh Ekor

Adityo Dwi Riyantoto • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 11:06 WIB
Foto: Ilustrasi
Foto: Ilustrasi

 

METROPEKALONGAN.COM, Ungaran  Populasi macan tutul jawa (Panthera pardus melas) di kawasan Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, semakin mengkhawatirkan dan membutuhkan langkah konservasi yang lebih serius, Kondisi satwa endemik Pulau Jawa tersebutdiperkirakan tinggal empat hingga tujuh ekor.

Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof Hendra Gunawan, menyebut Gunung Ungaran merupakan salah satu habitat penting macan tutul jawa di Jawa Tengah, selain Gunung Muria.

Meski hingga kini keberadaan satwa itu belum berhasil terekam kamera jebak (camera trap), tanda-tanda keberadaannya masih ditemukan. Tim peneliti menjumpai jejak berupa kotoran dan bekas cakaran yang mengindikasikan macan tutul jawa masih bertahan di kawasan hutan Gunung Ungaran.

"Hasil diskusi bersama peneliti Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan Djarum Foundation menunjukkan populasinya diperkirakan tinggal hitungan jari. Keterbatasan kamera jebak menjadi kendala utama untuk memastikan jumlahnya. Idealnya dibutuhkan sekitar 40 unit kamera jebak agar pemantauan lebih efektif," ujar Hendra dalam keterangan tertulis, Minggu (19/7/2026).

Hendra menjelaskan, berdasarkan penelitian menggunakan pemodelan daya dukung habitat pada 2010, populasi macan tutul jawa di Gunung Ungaran diperkirakan hanya empat hingga tujuh individu. Jumlah tersebut menggambarkan rapuhnya keberlangsungan predator puncak terakhir di Pulau Jawa.

Keberadaan macan tutul jawa memiliki peran penting menjaga keseimbangan ekosistem. Satwa ini mengendalikan populasi mangsa seperti rusa, kijang, babi hutan, dan sejumlah primata. Hilangnya predator puncak dikhawatirkan memicu ketidakseimbangan rantai makanan di hutan.

Baca Juga: Sempat Dianggap Hilang, Burung Langka Raja Udang Kalung Biru Ditemukan di Hutan Tombo Batang

Karena itu, BRIN menilai penambahan kamera jebak dan pemantauan jangka panjang menjadi kebutuhan mendesak untuk memperoleh data populasi yang lebih akurat.

Selain pemantauan, BRIN juga mendorong agar kawasan hutan Gunung Ungaran mendapat perlindungan lebih kuat melalui penetapan sebagai kawasan konservasi. Saat ini sebagian besar wilayah tersebut masih berstatus hutan produksi dan hutan lindung sehingga aktivitas manusia masih cukup tinggi.

Ancaman terhadap macan tutul jawa berasal dari penyusutan dan fragmentasi habitat, konflik dengan manusia, serta berkurangnya satwa mangsa akibat perburuan. Dengan populasi yang diperkirakan tinggal empat hingga tujuh ekor, upaya penyelamatan dinilai tidak bisa lagi ditunda.

"Perlindungan habitat, peningkatan pemantauan ilmiah, serta kolaborasi pemerintah, peneliti, lembaga konservasi, dan masyarakat menjadi kunci agar macan tutul jawa tetap bertahan sebagai predator terakhir di ekosistem hutan Pulau Jawa," pungkas Hendra. (ria/dit)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
macan tutul jawa gunung ungaran konservasi keanekaragaman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Kabupaten Semarang