Kekeringan di Jawa Tengah Meluas, BNPB Salurkan Jutaan Liter Air Bersih Atasi Kekeringan

Adityo Dwi Riyantoto • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 12:22 WIB
Sebanyak 30.000 liter didistribusikan kepada warga oleh BPBD Kabupaten Banyumas  di wilayah terdampak kekeringan.  (Foto : BPBD Kabupaten Banyumas)
Sebanyak 30.000 liter didistribusikan kepada warga oleh BPBD Kabupaten Banyumas di wilayah terdampak kekeringan. (Foto : BPBD Kabupaten Banyumas)

 

METROPEKALONGAN.COM, Jakarta -  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah perkembangan situasi dan penanganan bencana di sejumlah wilayah Indonesia. Berdasarkan data yang dihimpun, kekeringan masih mendominasi kejadian bencana di berbagai wilayah. 

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menjelaskan, di Provinsi Jawa Tengah beberapa wilayah terjadi kekeringan, sejak bulan Juni hingga Juli 2026. Hal tersebut berdampak kepada ribuan jiwa. Seperti yang terjadi di Kabupaten Banyumas,  sejak awal Juli 2026 telah berdampak pada 2.867 kepala keluarga atau 9.002 jiwa.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPBD setempat menyalurkan 15.000 liter air bersih atau tiga tangki untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat.

Kekeringan lanjut Abdul,  juga terjadi di Kabupaten Cilacap yang terjadi sejak Juni 2026 juga masih berlangsung dan berdampak pada 8.154 kepala keluarga atau 27.605 jiwa. Hingga Senin (21/07/2026), total distribusi air bersih mencapai 60 tangki atau setara 315.000 liter.

Sementara itu, kekeringan di Kabupaten Klaten yang terjadi sejak pertengahan Juni 2026 telah berdampak pada 3.330 kepala keluarga atau 10.908 jiwa.

"Selama periode 15 Juni hingga 21 Juli 2026, bantuan air bersih yang disalurkan di Kecamatan Kemalang telah mencapai 321 tangki atau setara 1.605.000 liter," ungkapnya.

Di Kabupaten Sragen, kekeringan yang terjadi sejak awal Juli 2026 berdampak pada 294 kepala keluarga atau 736 jiwa. BPBD Kabupaten Sragen mendistribusikan 10.000 liter air bersih ke Desa Galeh, Kecamatan Tangen, serta Desa Poleng, Kecamatan Gesi.

Selanjutnya, kekeringan di Kabupaten Grobogan yang terjadi sejak Mei 2026 masih berdampak pada 1.128 kepala keluarga. BPBD Kabupaten Grobogan menyalurkan bantuan air bersih sebanyak 20.000 liter ke Desa Selo dan Desa Monggot.

Di Kabupaten Pemalang, kekeringan yang terjadi sejak Juni 2026 berdampak pada 5.346 kepala keluarga. Tim gabungan BPBD dan PMI telah mendistribusikan 81.000 liter air bersih, terdiri atas 56.000 liter dari BPBD dan 25.000 liter dari PMI.

Selain penyaluran air bersih oleh pemerintah daerah, BNPB juga terus memperkuat upaya mitigasi menghadapi musim kemarau dan potensi El Nino melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah prioritas, pembangunan sumur bor, serta pipanisasi untuk menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat dan mendukung kebutuhan pertanian di daerah rawan kekeringan.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana selama musim kemarau, termasuk kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan.

Sementara itu, Kalahar BPBD Jateng Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan data yang diterima BPBD Jateng menyebut, kabupaten/kota sudah menyiapkan secara totalitas itu sebanyak 123 juta liter. Pihaknya terus melakukan pemantauan terhadap distribusi air bersih di daerah yang sudah mulai kekurangan air.

“BPBD Provinsi Jawa Tengah mencatat sebanyak 15 kabupaten/kota, dengan 157 desa pada 64 kecamatan yang terdampak kekeringan. Sebanyak 21.949 Kepala Keluarga atau 61.456 jiwa, menjadi penerima manfaat bantuan air bersih,” tandasnya (dit)

 

 

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
kekeringan di jawa tengah bantuan air bersih droping air bersih musim kemarau