METROPEKALONGAN.COM, Semarang – Ancaman krisis air tanah membayangi Kota Semarang seiring potensi kemunculan fenomena El Nino yang dijuluki "Godzilla". Kekeringan berkepanjangan dikhawatirkan mendorong pengambilan air tanah secara masif. Dampaknya bukan hanya berkurangnya cadangan air, tetapi juga mempercepat penurunan muka tanah yang selama ini menjadi persoalan serius di ibu kota Jawa Tengah.
Ketua Perhimpunan Ahli Airtanah Indonesia (PAAI) Irwan Iskandar mengatakan, berkurangnya curah hujan membuat pasokan air permukaan semakin terbatas. Kondisi itu memicu masyarakat maupun pelaku industri beralih memanfaatkan air tanah.
"Apalagi sekarang kita menghadapi El Nino Godzilla. Dalam kondisi seperti ini kerentanan sumber daya air menjadi jauh lebih bermasalah," ujarnya dalam The 8th Annual Scientific Meeting PAAI yang digelar bersama ICENIS 2026 di Semarang, Rabu (29/7).
Irwan mengingatkan, pengambilan air tanah secara berlebihan akan menurunkan muka air tanah dan memicu kompaksi lapisan tanah. Wilayah Pantura, termasuk Semarang, menjadi daerah yang paling rentan karena didominasi tanah aluvial muda yang mudah mengalami amblesan.
Menurut dia, ancaman tersebut dapat semakin besar jika praktik pengambilan air tanah tidak dikendalikan. PAAI juga menyoroti dugaan masih adanya sumur bor ilegal yang mengambil air tanah tanpa izin. Karena itu, pengawasan dan penegakan aturan perlu diperketat agar laju penurunan muka tanah tidak semakin parah.
Dekan Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro Prof Mochamad Agung Wibowo menambahkan, upaya penyelamatan air tanah harus dimulai dengan memperbesar daya resap air hujan. Menurutnya, penggunaan beton dan paving secara berlebihan membuat air hujan tidak dapat meresap ke dalam tanah sehingga cadangan air tanah terus menurun.
Ia menilai peningkatan ruang resapan menjadi langkah penting untuk menjaga ketersediaan air tanah di Semarang, sekaligus mengurangi risiko penurunan muka tanah yang dipicu kombinasi eksploitasi air tanah dan dampak El Nino.
Editor : Adityo Dwi Riyantoto