METROPEKALONGAN.COM, Semarang - Sumber air yang selama ini menjadi andalan warga Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, mulai tersendat dalam dua pekan terakhir. Ketika aliran muncul, warga harus antre untuk menampung air.
Atas kondisi tersebut, PMI Kota Semarang menyalurkan 5.000 liter air bersih ke Masjid Al-Hidayah, Jabungan Sidoro RT 2 RW 3, Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik. Air tersebut diperuntukkan bagi warga sekitar yang mulai kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan konsumsi, Senin (3/8/2026).
Istikhoroh, 33, warga RT 2 RW 3, mengatakan kebutuhan mandi dan mencuci sebenarnya masih dapat dipenuhi dari Pamsimas. Namun, air Pamsimas tidak digunakan untuk minum. "Masalahnya airnya ada kandungan zat besi, jadi tidak bisa untuk minum," katanya.
Untuk kebutuhan minum, warga mengandalkan air dari sumber Pegung. Namun, sejak sekitar dua minggu terakhir, alirannya mulai tidak stabil. Kadang mengalir, kemudian kembali mati. "Kalau sedang hidup, kami bisa mengambil. Tapi harus antre karena banyak warga yang membutuhkan," ujarnya.
Istikhoroh menyebut, warga membayar Pamsimas sekitar Rp 2 ribu per kubik. Dalam sebulan, kebutuhan air keluarganya bisa mencapai 30-40 kubik. "Kadang bayar Rp 60 ribu per bulan, itupun untuk mandi saja," jelasnya.
Warga lainnya, Sarini, juga merasakan hal serupa. Dalam beberapa pekan terakhir, dirinya lebih banyak menunggu air mengalir melalui selang kecil untuk kemudian ditampung. "Kalau ada air hujan mengalir, ya kami tampung. Kalau tidak mengalir, ya tidak bisa," tuturnya.
Baca Juga: 11 kabupaten/kota di Jawa Tengah Dalam Status Siaga Darurat Kekeringan
Lurah Jabungan Muchammad Chasani mengatakan wilayahnya memiliki sekitar 2.500 penduduk yang tersebar di tujuh RW. Dari jumlah tersebut, tiga RW mulai terdampak kekeringan, yakni RW 3, RW 4, dan RW 5. "Yang paling dibutuhkan warga memang air minum. Kalau untuk mencuci dan kebutuhan lainnya, sementara masih bisa memanfaatkan sungai," katanya. (fgr/dit)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto