Peternak Ayam di Jawa Tengah Mulai Hilangan Kesabaran, Harga Telur Anjlok, Biaya Pakan Terus Melonjak

Adityo Dwi Riyantoto • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 10:03 WIB
BAGIKAN AYAM: Massa aksi Aliansi Peternak Ayam Petelur Kabupaten Pekalongan membagikan ayam kepasa warga usai menggelar demonstrasi, Senin (10/8/2026).
BAGIKAN AYAM: Massa aksi Aliansi Peternak Ayam Petelur Kabupaten Pekalongan membagikan ayam kepasa warga usai menggelar demonstrasi, Senin (10/8/2026).

METROPEKALONGAN.COM, Semarang -  Peternak ayam petelur di sejumlah daerah Temanggung, Batang, Kendal, Pekalongan, dan Magelang, melakukan aksi protes serentak dengan cara tak biasa: ribuan ayam dibagikan gratis kepada masyarakat. Senin (10/8).

Sedikitnya 22.900 ekor ayam dibagikan dalam aksi tersebut. Jumlah terbesar berasal dari Kendal sebanyak 15 ribu ekor, kemudian Temanggung 5.500 ekor, Magelang, 1.300 ekor, Batang 600 ekor, dan Pekalongan sekitar 500 ekor.

Bagi peternak, ayam yang dibagikan bukan sekadar bantuan kepada warga. Itu menjadi simbol bahwa mereka sudah berada di titik tertekan. Biaya produksi tak lagi sebanding dengan harga jual telur.

Di Temanggung, sekitar 550 peternak dan anak kandang menggelar aksi di Alun-alun. Mereka awalnya menyiapkan 3.000 ekor ayam, tetapi jumlahnya bertambah hingga 5.500 ekor.

Harga telur di tingkat peternak kini hanya Rp19.000-Rp20.000 per kilogram. Padahal, biaya produksi mencapai sekitar Rp24.500 per kilogram. Harga pakan juga sudah berada di kisaran Rp7.600-Rp8.000 per kilogram.

“Kami membutuhkan harga telur setidaknya Rp24.500 agar bisa menutup biaya produksi. Itu pun masih di bawah HAP pemerintah sekitar Rp26.500,” kata penanggung jawab aksi, Buyung Adi Nugraha.

Kondisi serupa terjadi di Kendal. Sebanyak 1.247 peternak bersama pekerjanya turun ke Alun-alun Kendal. Mereka membawa ribuan ayam yang kemudian dibagikan gratis.

Ketua Koperasi Unggas Sejahtera Kendal Suwardi mengatakan, peternak sudah kesulitan memenuhi kebutuhan pakan. Harga pakan mencapai Rp7.600 per kilogram atau naik sekitar 25 persen. Sebaliknya, harga telur hanya Rp19.000-Rp20.000 per kilogram.

“Peternak rakyat benar-benar sangat sulit. Kami sudah tidak kuat memberi makan unggas-unggas kami,” ujarnya.

Di Batang, 600 ayam dibagikan dalam aksi Koperasi Peternak Unggas Sejahtera. Peternak menyoroti harga jagung yang mencapai Rp7.000 per kilogram, jauh di atas HAP Rp5.500.

Harga telur juga disebut anjlok selama empat bulan. Peternak mengaku menanggung kerugian Rp5.000-Rp7.000 per kilogram.

Ketua koperasi, Joko Pramono, meminta pemerintah segera mengambil langkah konkret. Jika dalam sebulan tak ada kebijakan, peternak Batang mengancam menggelar aksi lebih besar dengan membagikan hingga 5.000-10.000 ayam.

Sementara di Pekalongan, peternak membawa sekitar 500 ayam saat menggelar demonstrasi di depan Kantor Bupati. Harga telur di tingkat kandang hanya sekitar Rp21.000 per kilogram, sedangkan biaya produksi mencapai Rp25.000.

“Empat ribu rupiah bukan angka kecil. Dikalikan hari dan bulan, kerugiannya bisa jutaan rupiah,” kata perwakilan Aliansi Peternak Ayam Petelur Kabupaten Pekalongan Kus Budianto.

Pemandangan serupa juga terlihat di Magelang. Ratusan peternak ayam petelur yang tergabung dalam Paguyuban Peternak Petelur Magelang (P3M) turun ke jalan di Alun-Alun Kota Magelang, Senin (10/8). Mereka membagikan sekitar 1.300 ribu ayam secara gratis sebagai bentuk protes atas tingginya biaya produksi dan anjloknya harga telur.

Sekretaris P3M Arif Sosiawan mengatakan, harga telur ayam ras kini hanya sekitar Rp20.500 per kilogram, jauh di bawah HAP Rp26.500. Kondisi itu terjadi sejak April, sementara HPP peternak mencapai Rp22 ribu per kilogram. Artinya, peternak harus menanggung kerugian sekitar Rp1.500 setiap kilogram telur yang dijual.

Koordinator P3M Yudha Mandala mendesak pemerintah turun tangan menekan harga bahan baku pakan sekaligus memperkuat penyerapan telur peternak melalui program pemerintah. Menurut dia, persoalan peternak bukan hanya harga telur, tetapi biaya produksi yang terus membengkak.

Perwakilan Bulog M Ihsan Suraadilaga menyebut harga jagung di Bulog Rp6.400 per kilogram, namun bisa ditebus peternak Rp5.000 per kilogram. Bulog, kata dia, siap menyerap jagung petani dan menyalurkannya kepada peternak dengan harga tersebut.

Tak hanya harga telur dan pakan. Peternak juga meminta pemerintah membatasi dominasi perusahaan besar, memperpanjang subsidi pakan dan jagung, serta memperluas penyerapan telur melalui program pangan pemerintah, termasuk Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pemkab di sejumlah daerah menyatakan akan meneruskan aspirasi tersebut ke pemerintah pusat. Pemkab Temanggung bahkan telah mengirim surat kepada Menteri Pertanian pada 7 Agustus lalu, berisi usulan pengendalian harga pakan, penyesuaian HAP telur, perlindungan peternak rakyat, dan penyerapan telur melalui program MBG.

Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari dan Pemkab Pekalongan juga menyatakan siap menindaklanjuti keluhan peternak.

Namun, bagi peternak, waktu terus berjalan. Selama harga telur masih di bawah biaya produksi dan harga pakan tak kunjung turun, kandang tetap menjadi sumber kerugian. Ayam yang biasanya menjadi sumber penghasilan, kini justru dibagikan cuma-cuma. (dev/bud/yan/nra/mg4/mg8/zal)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
bagi-bagi ayam aksi bagi ayam peternak ayam harga telur anjlok peternak ayam petelur