Sekolah Mitra Kesempatan Kedua Setelah Gagal ke Sekolah Negeri

Adityo Dwi Riyantoto • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 15:13 WIB
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen ini memastikan anak dari keluarga kurang mampu tetap bisa melanjutkan pendidikan. 
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin Maimoen ini memastikan anak dari keluarga kurang mampu tetap bisa melanjutkan pendidikan. 

 

METROPEKALONGAN.COM, Semarang- Gagal masuk sekolah negeri tak lantas memupus harapan siswa untuk mendapatkan pendidikan sesuai minatnya. Program sekolah mitra menjadi salah satu jalan alternatif bagi siswa dari keluarga kurang mampu untuk tetap melanjutkan pendidikan tanpa terbebani biaya sekolah.

Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan sekaligus Ketua Tim Pengembang Sekolah SMK Ibu Kartini, Subagyo Subali, mengatakan sekolah mulai menerima siswa melalui program sekolah mitra sejak tahun ajaran 2025/2026. Tahun ini menjadi tahun kedua sekolah menerima siswa jalur afirmasi.

"Dengan kami digandeng sebagai sekolah mitra, nama sekolah kami ikut tercantum sebagai salah satu SMK yang terpampang di SPMB negeri secara online," katanya.

SMK Ibu Kartini memiliki empat konsentrasi keahlian. Yakni Rekayasa Perangkat Lunak (RPL), Kuliner, Desain Komunikasi Visual (DKV), serta Desain dan Produksi Busana. Namun, khusus jalur afirmasi, sekolah sementara membuka satu konsentrasi, yakni Desain dan Produksi Busana.

Baca Juga: Sekolah Mitra Jadi Jalan Keluar, Saat Daya Tampung SMA/SMK Negeri Terbatas, 

Kuota yang disiapkan satu rombongan belajar sebanyak 36 siswa. Namun, jumlah siswa yang diterima sepenuhnya berdasarkan hasil seleksi sistem SPMB. Tahun lalu terdapat 10 siswa afirmasi yang diterima. Sedangkan tahun ini enam siswa.

Subagyo mengatakan, sekolah tidak membedakan perlakuan terhadap siswa afirmasi dan reguler. Bahkan, status siswa sengaja tidak diumumkan agar tidak memunculkan rasa minder. "Tidak ada perbedaan perlakuan sama sekali. Yang tahu afirmasi atau tidak hanya bagian administrasi. Ini dalam rangka menjaga psikis mereka," tegasnya.

Siswa afirmasi dibebaskan dari uang gedung dan SPP rutin. Sementara kebutuhan praktik tetap disesuaikan dengan kondisi masing-masing siswa.

 

 

Sempat Ditolak Sekolah Negeri

Bagi siswa, program afirmasi menjadi kesempatan kedua setelah gagal masuk sekolah negeri.

Inayatul Maula Khansa Atifah, siswa kelas X Busana, misalnya. Ia sebelumnya sempat mendaftar ke SMKN 8 dan SMKN 6 Semarang. Namun, upaya tersebut belum membuahkan hasil.

Ia kemudian mencoba mendaftar melalui jalur nilai. Persaingan yang ketat membuatnya kembali kesulitan. Hingga akhirnya, Khansa masuk SMK Ibu Kartini melalui jalur afirmasi.

Setelah masuk, Khansa justru merasa nyaman. Ia bisa beradaptasi dengan teman-teman dan mulai belajar lebih bertanggung jawab serta peduli terhadap lingkungan. "Fasilitasnya lengkap banget. Untuk alat menjahit dan patung untuk bikin desain busana semuanya tersedia," katanya.

Khansa juga merasakan langsung manfaat pembebasan biaya pendidikan. Ia tidak perlu membayar SPP seperti siswa reguler. "Sekolah gratis. Kami tidak bayar, hanya untuk praktik dan itu juga tidak terlalu berat," ujarnya.

Sementara itu, Nisa Oktafianti, teman sekelas Khansa, juga memiliki pengalaman serupa. Sebelum masuk SMK Ibu Kartini, ia mendaftar ke sejumlah SMK negeri, di antaranya SMKN 7, SMKN 4, dan SMKN 3 Semarang. Namun, semuanya tidak lolos.

Kondisi tersebut sempat membuat Nisa merasa down. Apalagi, ia harus mempertimbangkan kondisi ekonomi keluarga karena dibesarkan oleh orang tua tunggal.

Kesempatan melalui jalur afirmasi akhirnya membuat Nisa bisa melanjutkan pendidikan. Ia justru merasa pembelajaran di sekolah lebih menyenangkan.

 

Orang Tua Lega

Manfaat program sekolah mitra juga dirasakan langsung orang tua. Ari Tri Anggoro, orang tua Nisa Oktafianti, menilai kualitas pendidikan di SMK Ibu Kartini sangat memadai. Menurutnya, program tersebut membantu mengurangi beban biaya pendidikan keluarga. Tidak ada biaya tambahan yang dirasakan memberatkan.

"Bagus, kualitas sekolah sangat memadai. Program ini juga mengurangi beban biaya saya," katanya.

Ari menilai Nisa tetap mendapatkan layanan pendidikan yang layak. Bahkan, ia melihat sekolah mampu memberikan bekal ilmu yang dapat digunakan anak untuk mengejar cita-cita.

Hal serupa disampaikan Anggi Primalasari, orang tua Khansa. Ia menyebut kualitas pendidikan di SMK Ibu Kartini sangat memuaskan.

Anggi mengatakan, tidak ada biaya tambahan yang memberatkan. Kebutuhan seragam pun dinilai masih terjangkau karena orang tua diberi kebebasan membeli di sekolah atau di luar. "Seragam yang dijual di sekolah juga sangat murah dan sudah berbentuk seragam, bukan kain. Bagi saya tidak masalah," ujarnya.

Bagi SMK Ibu Kartini, pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa sekolah mitra bukan sekadar tempat persinggahan bagi siswa yang gagal masuk sekolah negeri. Lebih dari itu, program tersebut bisa menjadi pintu bagi siswa untuk menemukan ruang belajar yang sesuai minat sekaligus memberi keringanan bagi keluarga. (fgr)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
hari jadi ke-81 jateng sekolah mitra jateng pendidikan jateng jawa tengah Ahmad Luthfi