Perempuan asal Kediri, Jawa Timur, ini dikenal memiliki karakter vokal khas sinden. Penampilannya juga kerap mempertahankan identitas budaya Jawa, salah satunya melalui penggunaan kebaya, kain jarik dan sanggul atau konde dan tentunya, tingkah lakunya yang lucu cukup memikat para penggemarnya.
Pada 2026, Niken Salindry telah menginjak usia 18 tahun. Namanya pun tidak hanya dikenal di kalangan pencinta campursari dan musik Jawa, tetapi juga semakin populer di media sosial.
Berikut empat fakta unik tentang Niken Salindry yang menarik untuk diketahui.
1. Sudah Menyinden Sejak Usia 2 Tahun
Bakat seni Niken Salindry ternyata sudah terlihat sejak usia sangat dini. Sejumlah sumber menyebut Niken mulai belajar menyinden sejak berusia sekitar 2 tahun.
Kemampuan tersebut kemudian terus diasah hingga pada usia 4 tahun dirinya sudah mulai tampil di berbagai panggung. Niken bahkan kerap ikut dalam pertunjukan wayang yang digelar oleh sang ayah.
Perjalanan tersebut membuat Niken mendapat julukan sebagai sinden cilik sebelum akhirnya berkembang menjadi penyanyi dangdut dan campursari.
2. Putri Seorang Dalang
Darah seni Niken Salindry tidak datang begitu saja. Ia merupakan putri dari Ki Degleng Gondosupono, seorang dalang asal Kediri, dan Ny Wiwin Arumita.
Lingkungan keluarga yang dekat dengan kesenian tradisional Jawa turut membentuk kemampuan Niken. Sejak kecil ia sudah akrab dengan dunia pewayangan, karawitan dan seni suara.
Selain belajar dari keluarga, Niken juga pernah mengikuti kegiatan ekstrakurikuler karawitan dan latihan vokal ketika masih bersekolah.
3. Viral Berkat Lagu Jawa dan Campursari
Popularitas Niken semakin melejit ketika penampilannya membawakan lagu-lagu Jawa dan campursari ramai beredar di media sosial.
Salah satu yang ikut mengangkat namanya adalah "Mangku Purel" versi campursari. Video penampilannya mendapatkan perhatian besar di YouTube dan media sosial hingga ditonton jutaan kali.
Kesuksesan tersebut memperlihatkan bahwa musik tradisional Jawa masih memiliki pasar yang kuat, terutama ketika dikemas dengan gaya yang dekat dengan generasi muda.
4. Mengidolakan Soimah
Di balik kesuksesannya sebagai sinden muda, Niken Salindry juga memiliki sosok yang menjadi inspirasinya, yakni Soimah.
Niken dikenal mengagumi Soimah yang juga memiliki kemampuan sebagai penyanyi, sinden dan entertainer. Kesamaan dalam mempertahankan unsur budaya Jawa menjadi salah satu hal yang membuat Niken menjadikan Soimah sebagai salah satu idolanya.
Berikut biodata Niken Salindry berdasarkan sejumlah profil yang pernah dipublikasikan media:
-
Nama lengkap: Dimas Niken Salindri
-
Nama panggung: Niken Salindry
-
Tanggal lahir: 29 Juni 2008*
-
Usia: 18 tahun pada 2026
-
Asal: Kediri, Jawa Timur
-
Orang tua: Ki Degleng Gondosupono dan Ny Wiwin Arumita
-
Profesi: Pesinden dan penyanyi dangdut/campursari
-
Pendidikan: SMP Negeri 6 Kediri
-
Instagram: @niken_salindry_reall
-
TikTok: @nikensalindryrealll
-
YouTube: Niken Salindry Official
*Sejumlah media menuliskan 29 Juni 2008, sementara detik.com pernah mencantumkan 28 Juni 2008. Karena terdapat perbedaan pencantuman tanggal, informasi tanggal lahir sebaiknya dikonfirmasi melalui sumber resmi atau akun resmi Niken.
Dari Sinden Cilik Menjadi Bintang Muda
Perjalanan Niken Salindry menjadi contoh bagaimana kesenian tradisional dapat berkembang mengikuti zaman. Kemampuannya menyinden sejak kecil menjadi modal penting ketika ia mulai masuk ke industri musik yang lebih luas.
Kini, Niken tidak lagi sekadar dikenal sebagai sinden cilik asal Kediri. Pada usia 18 tahun, ia telah berkembang menjadi penyanyi muda yang aktif membawakan musik dangdut, campursari dan lagu-lagu bernuansa Jawa.
Perpaduan antara suara khas sinden, penampilan yang tetap membawa identitas budaya Jawa serta popularitas media sosial membuat nama Niken Salindry semakin diperhitungkan di industri musik Tanah Air.
Sementara itu, Niken Salindry dijadwalkan akan meramaikan perayaan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan bersama dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon Semar Mbangun Kayangan , dengan dalang Ki Purbo Asmoro.
Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Pekalongan Sukirman mengatakan, pagelaran wayang kulit menjadi salah satu bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-404 Kabupaten Pekalongan. Kegiatan tersebut diharapkan bisa menjadi ruang hiburan sekaligus mendekatkan masyarakat dengan kesenian tradisional.
"Kami berharap masyarakat menyaksikan. Kami mengundang seluruh masyarakat," tandas Sukirman. (dit)