Sebaran Abu Anak Krakatau ke Arah Barat, BMKG Imbau Warga Tetap Tenang

Adityo Dwi Riyantoto • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 14:35 WIB

 

Foto udara Gunung Anak Krakatau, Sabtu (5/9/2026) petang. (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi )
Foto udara Gunung Anak Krakatau, Sabtu (5/9/2026) petang. (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi )

METROPEKALONGAN.COM- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang meluas ke sejumlah wilayah di Jawa dan Sumatra.

“Berdasarkan analisis citra satelit Himawari-9 pukul 09.00 WIB, pola angin secara umum mendorong perluasan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau ke arah barat,” ungkap Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani.

BMKG telah menerbitkan 39 dokumen Significant Meteorological Information (SIGMET) sejak erupsi pertama GAK pada 4 September 2026. SIGMET terbaru mencatat abu vulkanik teramati hingga ketinggian 15.000 kaki (4,57 km) dan bergerak ke arah barat dengan kecepatan 15 knot.

Pada lapisan permukaan hingga 15.000 kaki (4,57 km), abu meluas ke arah barat daya hingga barat laut. Wilayah yang terdampak mencakup sebagian Banten, Jawa Barat bagian barat-selatan, Lampung, dan Bengkulu serta perairan sekitarnya.

Sementara itu, abu pada lapisan permukaan hingga 50.000 kaki (15,24 km) teramati lebih jauh di Samudra Hindia. Sebarannya berada di sebelah barat hingga barat daya Bengkulu, Lampung, dan Banten serta bergerak menjauhi wilayah Indonesia

Baca Juga: Dampak Sebaran Abu Vulkanik, 6 Bandara Masih Ditutup untuk Penerbangan

Sebaran abu di udara mengganggu keselamatan penerbangan. Hasil paper test pukul 07.00 WIB juga mengonfirmasi indikasi positif keberadaan abu vulkanik di sejumlah bandara.

Perum LPPNPI atau AirNav Indonesia kemudian menerbitkan Notice to Airmen (NOTAM) hingga pukul 08.30 WIB. NOTAM tersebut menginstruksikan penutupan sementara delapan bandara hingga pukul 18.00 WIB.

Delapan bandara itu berada di wilayah Jawa dan Sumatra. Bandara tersebut yakni Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Husein Sastranegara, Budiarto, Pondok Cabe, Muhammad Taufiq Kiemas, dan Atungbusu.

Plh. Deputi Bidang Geofisika BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan 20 tsunami gauge di sekitar Selat Sunda tidak mendeteksi anomali muka air laut yang mengindikasikan tsunami. Pengukuran lightning detector dan sensor magnet bumi mencatat peningkatan aktivitas petir vulkanik serta gangguan geomagnetik pada pukul 00.00–04.00 WIB.

“Namun, intensitas gangguan geofisika ini tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan erupsi pertama pada 4 September lalu,” tandasnya (dit)

BMKG memastikan jalur penyeberangan Selat Sunda berada dalam kondisi aman. Pemantauan menggunakan HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung menunjukkan probabilitas tsunami berada pada kategori rendah atau di bawah 50 persen per pukul 08.00 WIB.

Arus permukaan laut bergerak dominan ke arah barat daya menuju Samudra Hindia dengan kecepatan 0,4–0,9 knot. Tinggi gelombang tercatat 0,3–1,2 meter dan diprakirakan mencapai 0,5–2,0 meter pada 08–13 September 2026.

“Informasi mengenai kondisi arus dan gelombang tersebut terus diperbarui dan dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan bagi otoritas terkait dalam pengambilan keputusan operasional transportasi dan penyeberangan di Selat Sunda. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan untuk mendeteksi setiap perubahan kondisi laut secara cepat,” lanjutnya.

Faisal meminta warga di wilayah yang terpapar abu vulkanik tetap waspada dan menjaga kesehatan. Dia juga mengingatkan masyarakat merujuk informasi dari kanal resmi. (dit)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Gunung Anak Krakatau abu vulkanik Gunung Anak Krakatau bandara ditutup Abu vulkanik anak krakatau