METROPEKALONGAN.COM, Jakarta- Dalam persidangandugaan korupsi kuota haji Indonesia pada tahun 2023-2024, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Ario Bimo Nandito Ariotedjo alias Dito Ariotedjo sebagai saksi.
Dalam kesempatan menggali keterangan saksi, Gus Yaqut menyoroti foto pertemuan pengusaha sekaligus bos PT Maktour, Fuad Hasan Mansyur, dengan Presiden Prabowo Subianto yang saat itu masih menjabat sebagai Menteri era Presiden ke-7 Joko Widodo dan bersamaan dengan penyelenggaraan haji tahun 2024 yang disorot oleh DPR dan KPK.
Gus Yaqut kemudian meminta Dito menjelaskan secara spesifik apa yang disampaikan Jokowi ketika meminta dukungan terkait tambahan kuota haji.
Dito mengaku tidak mengingat secara persis isi pembicaraan tersebut. Namun, dia menjelaskan bahwa pembicaraan itu terjadi dalam suasana ketika Perdana Menteri Arab Saudi Mohammed bin Salman atau MBS menanyakan hal-hal yang perlu segera dieksekusi dan dikonkretkan.
"Saya tidak ingat persis, tapi kurang lebih suasananya adalah ketika yang tadi saya sampaikan, ketika Perdana Menteri/Raja Arab menanyakan kira-kira apa saja yang harus kita segera eksekusi, apa yang harus kita segera dikongkritkan, begitu. Kurang lebih seperti itu," ujar Dito.
Gus Yaqut lalu mengutip kembali keterangan Dito dalam BAP yang menyebut bahwa telah ada pembahasan mengenai penambahan kuota haji dan hal tersebut telah disetujui MBS.
Baca Juga: Eks Menpora Dito Ariotedjo Ungkap Asal Usul Kuota Haji Tambahan 2024 di Sidang Gus Yaqut
Namun, dalam pembahasan tersebut belum disebutkan jumlah kuota yang akan diberikan Pemerintah Arab Saudi.
"Benar ada pembahasan terkait penambahan kuota dan telah disetujui oleh Perdana Menteri Arab Saudi Muhammad bin Salman Al Saud atau MBS, namun tidak dibahas jumlah kuota yang diberikan oleh Kerajaan Arab Saudi. Begitu, ya?" tanya Gus Yaqut.
"Betul," jawab Dito.
Gus Yaqut pun memastikan bahwa pada saat itu belum ada kejelasan mengenai jumlah kuota tambahan yang diberikan Arab Saudi.
"Belum," jawab Dito.
Gus Yaqut akhirnya menanyakan apakah informasi tersebut sudah disampaikan kepada Fuad Hasan Mansyur, yang merupakan mertua Dito.
"Belum. Itu kan sehari setelahnya," kata Dito.
Dito menjelaskan bahwa rapat terkait pembahasan tersebut dilakukan setelah makan siang.
Gus Yaqut kembali memastikan apakah pada saat itu belum ada komunikasi dengan Fuad mengenai tambahan kuota haji, termasuk mengenai jumlah kuota yang akan diminta.
"Jadi belum terinfo pada waktu itu ke Pak Fuad? Belum ada komunikasi juga ke Pak Fuad misalnya enaknya minta berapa nih Pak, gitu? Belum ada?" tanya Gus Yaqut.
"Tidak. Tidak ada," jawab Dito.
Sebelumnya, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji sekaligus mantan Menteri Agama ad interim, Muhadjir Effendy, mengungkapkan bahwa Pemerintah Arab Saudi pernah memberikan tambahan 10.000 kuota haji kepada Presiden Joko Widodo pada 2022.
Menurut Muhadjir, pemberian tambahan kuota tersebut berlangsung secara mendadak. Kondisi itu membuat pemerintah Indonesia harus segera menyiapkan langkah untuk merealisasikan tambahan kuota tersebut.
Jokowi sebelumnya mengatakan Indonesia memperoleh tambahan 20.000 kuota haji untuk pelaksanaan ibadah haji 2024 setelah melakukan pertemuan bilateral dengan MBS pada Kamis, 19 Oktober 2023.
Dalam pertemuan yang berlangsung di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN dan Gulf Cooperation Council (GCC) di Riyadh, Jumat (20/10/2023), Jokowi menyampaikan kepada MBS mengenai panjangnya antrean keberangkatan haji di Indonesia. Jokowi meminta perhatian Pemerintah Arab Saudi agar Indonesia mendapatkan tambahan kuota haji. (dit)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto