METROPEKALONGAN.COM- Penggunaan wewangian mulai semakin dekat dengan kehidupan anak-anak hingga remaja, terutama mereka yang memasuki usia sekolah dasar akhir, SMP, dan SMA.
Bagi sebagian anak dan remaja, parfum bukan sekadar untuk membuat tubuh lebih harum. Wewangian juga mulai dipandang sebagai bagian dari gaya hidup, penunjang kepercayaan diri, hingga cara mengekspresikan karakter.
Fenomena tersebut semakin kuat seiring masifnya penggunaan media sosial. Video pendek, konten beauty creator, fragrance reviewer, hingga rekomendasi teman membuat anak-anak dan remaja semakin mengenal berbagai jenis parfum.
Sejumlah laporan pada 2026 bahkan menunjukkan Generasi Alpha dan Generasi Z semakin menjadikan parfum sebagai bagian dari ekspresi diri. Mereka tidak hanya mempertimbangkan aroma, tetapi juga kemasan, harga, citra merek dan popularitas produk di media sosial.
Hal tersebut ditambah dengan perkembangan industri lokal dalam beberapa tahun terakhir semakin memperluas pilihan konsumen. Brand lokal bermunculan dengan menawarkan aroma yang beragam serta harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan sejumlah merek internasional.
Ketertarikan terhadap parfum biasanya mulai terlihat ketika anak memasuki fase praremaja. Pada usia tersebut, perhatian terhadap penampilan, kebersihan diri dan penerimaan sosial dari lingkungan pertemanan mulai meningkat.
Bagi anak SD, produk wewangian yang ringan seperti body mist atau parfum khusus anak masih menjadi pilihan. Sementara ketika memasuki SMP dan SMA, pilihan mulai bergeser ke parfum dengan karakter aroma yang lebih kompleks.
Sejumlah rekomendasi parfum untuk anak sekolah yang beredar pada 2026 bahkan memasukkan produk seperti Eskulin Kids dan Zara Kids sebagai pilihan untuk usia lebih muda.
Namun, tren tersebut juga membuat orang tua perlu memperhatikan jenis produk yang digunakan. Parfum anak dan remaja sebaiknya disesuaikan dengan usia, digunakan secukupnya dan tidak berlebihan.
Media Sosial Ikut Mengubah Cara Remaja Memilih Parfum
Jika dahulu seseorang memilih parfum berdasarkan rekomendasi keluarga atau mencoba langsung di toko, kini prosesnya semakin banyak berlangsung secara digital.
Remaja dapat mengenal sebuah parfum melalui TikTok, Instagram, YouTube, marketplace maupun komunitas fragrance. Review mengenai ketahanan aroma, notes parfum, harga dan kemiripan dengan parfum terkenal menjadi bahan pertimbangan sebelum membeli.
Tidak mengherankan jika parfum kemudian berkembang menjadi bagian dari budaya digital anak muda.
Bahkan, sejumlah brand lokal mampu membangun popularitas melalui konten media sosial sebelum memperluas penjualan melalui marketplace maupun toko offline.
MyKonos hingga HMNS Masuk Daftar Merek Terlaris
Pertumbuhan pasar parfum juga terlihat dari dominasi merek lokal di marketplace.
Berdasarkan data yang dikutip Databoks, delapan dari 10 merek parfum dan fragrance dengan pangsa pasar terbesar di Shopee Indonesia pada kuartal I 2026 merupakan merek lokal.
MyKonos berada di posisi pertama dengan pangsa pasar 5,27 persen, disusul Octarine 3,90 persen dan Scarlett 3,87 persen. HMNS berada di posisi berikutnya dengan 3,40 persen, kemudian Saff & Co. sebesar 2,51 persen.
Daftar tersebut juga menunjukkan hadirnya merek Timur Tengah seperti Afnan dan Ahmed Al Maghribi di antara produk yang banyak dibeli konsumen.
Sementara pada kuartal IV 2025, MyKonos juga berada di posisi teratas dengan pangsa 3,80 persen, disusul Scarlett, HMNS, Saff & Co. dan Octarine.
Data tersebut memang menggambarkan penjualan di Shopee secara keseluruhan, bukan khusus konsumen anak atau remaja. Namun, angka tersebut menunjukkan semakin kuatnya posisi brand lokal dalam pasar parfum Indonesia.
Aroma Fruity, Fresh, Floral hingga Vanilla Jadi Favorit
Lalu, aroma seperti apa yang paling diminati anak muda?
Tren yang berkembang menunjukkan aroma fruity, fresh, floral dan gourmand menjadi karakter yang banyak mendapat perhatian dari konsumen muda. Aroma tersebut cenderung memberikan kesan ceria, bersih, manis dan mudah digunakan untuk aktivitas sehari-hari.
1. Fruity
Aroma buah seperti strawberry, apple, pear, peach, citrus dan berry banyak dikaitkan dengan kesan ceria dan youthful.
Karakter seperti ini relatif mudah diterima oleh pengguna parfum pemula, termasuk remaja yang baru mulai mengenal fragrance.
2. Fresh dan citrus
Aroma fresh, aquatic dan citrus memberikan kesan bersih dan ringan. Karakter tersebut cocok digunakan untuk aktivitas sekolah maupun kegiatan di luar ruangan karena umumnya terasa lebih ringan dibandingkan aroma yang sangat pekat.
3. Floral
Aroma bunga seperti rose, jasmine, peony dan lavender masih menjadi pilihan populer, terutama untuk pengguna yang menginginkan kesan feminin, lembut dan elegan.
4. Gourmand dan vanilla
Aroma gourmand yang menyerupai makanan manis juga semakin populer. Vanilla menjadi salah satu karakter aroma yang banyak mendapat perhatian dalam tren parfum 2026. Sejumlah ulasan fragrance terbaru bahkan menempatkan vanilla sebagai salah satu note yang banyak disukai karena memberikan kesan hangat, manis dan nyaman.
5. Musk dan clean scent
Untuk pengguna yang menginginkan aroma bersih dan tidak terlalu mencolok, musk dan clean scent menjadi pilihan. Karakter ini juga mudah dipadukan dengan aroma lain sehingga populer dalam produk parfum unisex.
Harga Terjangkau Jadi Salah Satu Daya Tarik
Selain aroma, harga menjadi faktor penting dalam perkembangan parfum di kalangan anak muda.
Munculnya berbagai brand lokal membuat konsumen mempunyai banyak pilihan dengan harga yang lebih mudah dijangkau. Industri parfum lokal bahkan mencatat pertumbuhan yang signifikan di kanal digital.
Data menyebut nilai penjualan e-commerce parfum lokal mencapai sekitar Rp6,1 triliun pada 2025. Pertumbuhan tersebut antara lain didorong konsep parfum sebagai bentuk affordable luxury, yaitu produk yang memberikan pengalaman premium dengan harga yang relatif lebih terjangkau.
Tren parfum di kalangan anak-anak dan remaja pada akhirnya menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang wewangian.
Parfum tidak lagi semata-mata digunakan agar tubuh harum. Bagi sebagian anak muda, aroma tertentu dapat menjadi bagian dari identitas, suasana hati, penampilan dan cara mereka membangun kepercayaan diri. (dit)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto