Cegah Penyebaran TBC, Kemenkes Perkuat Deteksi Dini di 884 Puskesmas Jateng

Adityo Dwi Riyantoto • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 09:03 WIB
Sekda Sumarno saat acara Pembukaan Monitoring dan Evaluasi Active Case Finding (ACF) TBC Provinsi Jawa Tengah (ist)
Sekda Sumarno saat acara Pembukaan Monitoring dan Evaluasi Active Case Finding (ACF) TBC Provinsi Jawa Tengah (ist)

 

METROPEKALONGAN.COM, Karanganyar- Sebanyak 884 puskesmas di Jawa Tengah bakal dilengkapi alat diagnostik tuberkulosis (TBC) mulai Oktober 2026. Dukungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ini ditujukan untuk mempercepat deteksi dini dan penanggulangan penyakit TBC di wilayah Jawa Tengah.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengapresiasi dukungan pemerintah pusat dalam memperkuat upaya penanggulangan TBC, terutama melalui penyediaan peralatan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama.

Hal tersebut disampaikan Sumarno saat membuka kegiatan Monitoring dan Evaluasi Active Case Finding (ACF) TBC Provinsi Jawa Tengah di Anaya Azana Villa & Resort, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Senin (28/9/2026).

Menurut Sumarno, penyediaan alat diagnostik TBC menjadi modal penting untuk mempercepat penemuan kasus di masyarakat. Upaya tersebut juga akan diperkuat melalui kolaborasi dengan kader kesehatan di tingkat desa.

“Di masing-masing desa nanti juga ada kader berdasarkan kasus. Operasional dari Kementerian Kesehatan,” ujar Sumarno.

Baca Juga: Pekerja Diminta Tak Abaikan Gejala TBC, Segera Periksa Jika Batuk Tak Kunjung Reda

Ia menilai, keterlibatan kader desa dapat membantu memperluas jangkauan penemuan kasus TBC. Dengan demikian, masyarakat yang diduga terinfeksi dapat segera diarahkan untuk menjalani pemeriksaan dan memperoleh penanganan medis.

Deteksi Dini TBC hingga Kontak Erat Pasien

Sumarno menegaskan, penanggulangan TBC tidak cukup hanya dengan menemukan dan mengobati pasien yang telah terinfeksi. Pemeriksaan terhadap orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien juga perlu ditingkatkan.

Penelusuran kontak erat menjadi salah satu langkah penting untuk menemukan kasus baru sekaligus mencegah penularan penyakit di lingkungan keluarga dan masyarakat.

Karena itu, pemerintah mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam upaya deteksi dini TBC. Kesadaran untuk memeriksakan diri ketika memiliki gejala atau riwayat kontak dengan pasien juga menjadi bagian penting dari strategi tersebut.

Kemenkes Perkuat Pencegahan dan Penemuan Kasus TBC

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus mengatakan, kegiatan monitoring dan evaluasi dilakukan untuk mengetahui perkembangan program penanggulangan TBC sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang masih perlu diperbaiki.

Melalui evaluasi tersebut, pemerintah dapat memperkuat koordinasi dan memastikan program penanggulangan TBC berjalan sesuai target.

“Kita memonitor selama beberapa bulan ini apa yang telah dikerjakan dan melihat perkembangannya. Kita melihat apa yang masih kurang dan kita saling mengisi,” kata Benjamin.

Ia menjelaskan, upaya penanggulangan TBC kini tidak hanya berfokus pada pengobatan pasien, tetapi juga memperkuat aspek pencegahan.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah pemeriksaan terhadap masyarakat yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan pemeriksaan menggunakan X-ray.

Melalui pemeriksaan tersebut, kasus TBC diharapkan dapat ditemukan lebih awal. Masyarakat yang membutuhkan pengobatan pencegahan dapat segera ditangani, sedangkan mereka yang telah terinfeksi bisa mendapatkan pengobatan sesuai kebutuhan medis.

“Untuk pengobatan sudah bagus. Kita sekarang mengejar di pencegahan. Masyarakat yang kontak erat dilakukan CKG dengan X-ray,” jelasnya.

884 Puskesmas di Jateng Segera Dilengkapi Alat Diagnostik

Benjamin menambahkan, Kementerian Kesehatan akan menyediakan alat diagnostik TBC untuk seluruh puskesmas di Jawa Tengah.

Total sebanyak 884 puskesmas ditargetkan menerima peralatan tersebut mulai Oktober 2026. Penyediaan alat ini diharapkan memperkuat pelaksanaan Active Case Finding atau penemuan kasus secara aktif.

Dengan dukungan tersebut, pemeriksaan TBC di tingkat pelayanan kesehatan dasar diharapkan semakin mudah dijangkau masyarakat. Penemuan kasus secara lebih cepat juga menjadi bagian penting dalam memutus rantai penularan.

Selain memperkuat sarana diagnostik, upaya penanggulangan TBC di Jawa Tengah dilakukan melalui koordinasi lintas sektor dan peningkatan peran masyarakat.

Desa dan Kelurahan di Jateng Dicanangkan Siaga TBC

Kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut turut dihadiri Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus serta perwakilan dinas kesehatan dari sejumlah provinsi, yakni Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jawa Timur, dan Jawa Barat.

Pada kesempatan yang sama, pemerintah juga mencanangkan program Desa/Kelurahan Siaga Tuberkulosis (TB) di Jawa Tengah.

Program ini diharapkan memperkuat peran pemerintah desa dan masyarakat dalam mendukung penemuan kasus, meningkatkan kesadaran untuk melakukan pemeriksaan, serta memastikan pasien TBC memperoleh akses pengobatan.

Melalui penyediaan alat diagnostik di 884 puskesmas, penguatan kader kesehatan, dan pemeriksaan kontak erat, pemerintah berharap upaya deteksi dini dan penanggulangan TBC di Jawa Tengah dapat berjalan lebih optimal. (*)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Alat Diagnostik TBC tuberkulosis jateng TBC Jawa Tengah Deteksi Dini TBC Sekda Sumarno