Konsumsi Ikan Jateng Belum Optimal, Sumarno Dorong Distribusi Ikan Segar ke Wilayah Tengah

Adityo Dwi Riyantoto • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 12:56 WIB
Sosialisasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Gedung Grhadika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (30/9/2026).
Sosialisasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Gedung Grhadika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (30/9/2026).

 

METROPEKALONGAN.COM, Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong penguatan rantai distribusi ikan segar dari wilayah pesisir menuju daerah tengah Jawa Tengah. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan konsumsi ikan sekaligus mendorong masyarakat lebih terbiasa mengonsumsi ikan segar.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengatakan persoalan konsumsi ikan di Jawa Tengah tidak hanya berkaitan dengan harga dan ketersediaan. Faktor kebiasaan masyarakat juga menjadi salah satu tantangan.

Hal itu disampaikan Sumarno saat mewakili Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dalam Sosialisasi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 74 Tahun 2026 tentang Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Gedung Grhadika Bhakti Praja, Semarang, Rabu (30/9/2026).

Menurut Sumarno, masyarakat di sejumlah wilayah tengah Jawa Tengah, seperti Solo dan Boyolali, secara turun-temurun belum terbiasa mengonsumsi ikan segar. Ikan yang lebih mudah ditemui masyarakat di wilayah tersebut umumnya berupa produk olahan atau ikan yang telah diawetkan.

“Inilah yang harus kita gerakkan, bagaimana ikan-ikan segar bisa masuk ke tengah Jawa Tengah,” ujar Sumarno.

Distribusi Ikan Segar Jadi Kunci

Sumarno menilai penguatan rantai distribusi menjadi salah satu langkah penting untuk mengubah pola konsumsi masyarakat. Pemerintah perlu melibatkan pelaku usaha perdagangan agar ikan hasil tangkapan maupun budidaya dari kawasan pesisir dapat lebih mudah menjangkau masyarakat di wilayah tengah Jawa Tengah.

Menurut dia, potensi produksi perikanan Jawa Tengah sebenarnya cukup besar. Produksi ikan budidaya disebut mendekati 500 ribu ton, sementara hasil tangkapan juga berada di kisaran 500 ribu ton.

Di sisi lain, konsumsi ikan masyarakat Jawa Tengah disebut baru sekitar 400 ribu ton.

“Produksi kita sebenarnya bisa memenuhi. Kita konsumsinya baru 400 ribu ton. Banyak yang keluar, karena dari Jawa Tengah banyak yang diekspor, ada ke Jepang, ada ke Eropa,” katanya.

Sejumlah komoditas ikan, termasuk nila, juga masih banyak dipasarkan ke luar daerah maupun diekspor. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena ikan yang dihasilkan di daerah Jawa Tengah belum seluruhnya terserap untuk konsumsi masyarakat setempat.

MBG Bisa Jadi Sarana Tingkatkan Konsumsi Ikan

Pemprov Jawa Tengah selanjutnya akan mendorong berbagai langkah untuk meningkatkan konsumsi ikan. Salah satunya dengan memanfaatkan program pemerintah sebagai sarana untuk memperkenalkan ikan dalam pola konsumsi masyarakat.

Sumarno mengatakan penyediaan makanan dalam berbagai kegiatan pemerintahan dapat menjadi salah satu pintu masuk. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperluas konsumsi ikan.

Pengintegrasian ikan ke dalam program pangan pemerintah sejalan dengan semangat Gemarikan yang menempatkan konsumsi ikan tidak hanya sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan pangan, tetapi juga berkaitan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan ekonomi sektor perikanan.

Target Konsumsi Ikan Nasional 26,83 Kg per Kapita

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan Hanif Faisol Murofiq mengatakan Perpres Nomor 74 Tahun 2026 mengamanatkan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan sebagai gerakan nasional.

Menurut Hanif, gerakan tersebut tidak hanya berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia serta penguatan ekonomi.

Indonesia memiliki potensi sumber daya perikanan yang besar karena sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan laut. Karena itu, peningkatan konsumsi ikan diharapkan dapat memperkuat asupan protein masyarakat sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi nelayan.

Konsumsi ikan nasional ditargetkan mencapai sekitar 26,83 kilogram per kapita per tahun pada 2029.

Sementara itu, Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan Ashaf mengatakan implementasi Perpres Nomor 74 Tahun 2026 akan dilakukan secara lintas kementerian dan lembaga hingga pemerintah daerah.

Salah satu bentuk implementasinya adalah mengintegrasikan konsumsi ikan ke dalam program MBG. Ikan dapat menjadi salah satu sumber protein dalam menu makanan yang diberikan kepada masyarakat.

Didit mengatakan ikan memiliki sejumlah keunggulan sebagai sumber protein, mulai dari harga yang relatif terjangkau, kandungan protein yang tinggi, hingga ketersediaannya yang luas di Indonesia.

Dengan penguatan distribusi dari kawasan pesisir ke wilayah tengah, pemerintah berharap potensi produksi perikanan Jawa Tengah tidak hanya terserap pasar luar daerah dan ekspor, tetapi juga semakin banyak dikonsumsi oleh masyarakat di dalam provinsi.

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
konsumsi ikan segar konsumsi ikan di jawa tengah gemar makan ikan Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) jawa tengah