Ahmad Luthfi Dorong UMKM Jateng Olah Pangan Lokal Jadi Produk Bernilai Tambah

Adityo Dwi Riyantoto • Dipublikasikan Jumat, 2 Oktober 2026 | 14:28 WIB
Gubernur Ahmad Luthfi saat menghadiri Final Showcase Lumbung Karya Indonesia di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Kamis, 1 Oktober 2026.
Gubernur Ahmad Luthfi saat menghadiri Final Showcase Lumbung Karya Indonesia di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Kamis, 1 Oktober 2026.

 

METROPEKALONGAN.COM, Semarang - Pangan lokal Jawa Tengah memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat jika tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah.

Salah satu contohnya adalah singkong yang dapat diolah menjadi tepung mocaf, es krim hingga berbagai produk turunan lainnya.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan potensi tersebut dengan meningkatkan kualitas produk, memperkuat branding, melengkapi legalitas dan sertifikasi, serta memperluas akses pasar.

Hal itu disampaikan Luthfi saat menghadiri Final Showcase Lumbung Karya Indonesia di Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Kamis, 1 Oktober 2026.

“Pangan lokal tidak hanya berbicara tentang produksi, tetapi juga bagaimana bahan baku yang ada di daerah dapat diolah menjadi produk bernilai tambah, menciptakan peluang usaha, dan membuka pasar yang lebih luas,” kata Luthfi.

UMKM Jateng Didominasi Usaha Mikro

Menurut Ahmad Luthfi, Jawa Tengah memiliki modal besar untuk mengembangkan ekonomi berbasis pangan lokal. Selain memiliki beragam komoditas pertanian, Jawa Tengah juga memiliki jumlah UMKM yang mencapai sekitar 4,06 juta berdasarkan pendataan Sistem Informasi Data Tunggal Kementerian UMKM 2025.

Dari jumlah tersebut, sekitar 97,95 persen merupakan usaha mikro.

Besarnya jumlah pelaku UMKM tersebut, menurut Luthfi, perlu diikuti dengan upaya agar usaha masyarakat tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan naik kelas.

Salah satu caranya adalah meningkatkan nilai ekonomi bahan baku lokal melalui pengolahan menjadi produk jadi.

“UMKM yang ada di Jawa Tengah harus bisa mengambil peluang tersebut. Pangan lokal jangan berhenti sebagai komoditas. Harus ada nilai tambah sehingga yang tumbuh bukan hanya produknya, tetapi juga usahanya, lapangan kerjanya, dan ekonomi daerahnya,” ujarnya.

Pemprov Jateng, lanjut Luthfi, terus memberikan dukungan melalui pendampingan dan pembinaan UMKM. Dukungan pembiayaan juga diberikan melalui Bank Jateng dengan skema kredit berbunga rendah untuk membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksinya.

Singkong Cilacap Diolah Jadi Mocaf dan Es Krim

Gambaran mengenai besarnya potensi pangan lokal tersebut terlihat dari Nirbaya Mocaf, salah satu penerima penghargaan dalam Lumbung Karya Indonesia.

UMKM yang diinisiasi Lapas Nirbaya, Nusakambangan, Cilacap, tersebut mengolah singkong menjadi berbagai produk bernilai tambah sekaligus melibatkan warga binaan dalam proses produksinya.

Singkong yang diperoleh dari Cilacap dan daerah sekitarnya diolah menjadi tepung mocaf. Produk tersebut kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk turunan, termasuk es krim.

Tidak hanya bagian utama singkong yang dimanfaatkan. Kulit singkong juga diolah menjadi gula yang kemudian digunakan untuk membuat kombucha. Sementara ampas kulit singkong dimanfaatkan sebagai pakan ayam petelur.

“Semua bahan singkong kami ambil dari wilayah Cilacap dan sekitarnya, termasuk dari kebun singkong yang ditanam sendiri oleh warga binaan. Kami membeli dengan harga sesuai yang ditetapkan pemerintah,” kata Kalapas Nirbaya Nusakambangan, Helmi Najih.

Dalam satu pekan, produksi Nirbaya Mocaf mencapai sekitar dua ton singkong.

Tepung mocaf yang dihasilkan kemudian dikembangkan menjadi berbagai produk turunan. Salah satunya es krim yang sekitar 80 persen bahan bakunya berasal dari singkong.

Kolaborasi Dibutuhkan untuk Kembangkan UMKM

Ahmad Luthfi mengatakan pengembangan UMKM tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi dengan berbagai pihak diperlukan untuk membangun ekosistem usaha mulai dari sektor hulu hingga hilir.

Salah satunya dilakukan melalui Lumbung Karya Indonesia yang memberikan kurasi, pendampingan, serta pembinaan kepada pelaku usaha untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk.

“Saya mengapresiasi Lumbung Karya Indonesia karena merupakan salah satu kesempatan emas bagi seluruh masyarakat dan pelaku usaha untuk menampilkan karya dan inovasi produk yang memiliki nilai tambah. Kalau bisa event seperti ini dilakukan setiap bulan,” ujar Luthfi.

Staff Ahli Bidang Maritim Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Sugeng Santoso, mengatakan kolaborasi lintas sektor diperlukan untuk membangun ekosistem pangan dan ekonomi yang berkelanjutan.

“Di sini ada sinergi banyak hal, dari hulu sampai hilir. Kami senang hadir ke sini untuk berkolaborasi karena dalam Lumbung Karya Indonesia ini ada startup, ekonomi kreatif subsektor kuliner, dan UMKM. Tiga hal ini diharapkan dapat berkontribusi dalam perekonomian,” katanya.

Menurut Sugeng, Jawa Tengah memiliki basis ekonomi yang kuat karena didukung sektor pertanian dan industri pengolahan.

Pengembangan pangan lokal menjadi produk bernilai tambah dapat mempertemukan potensi bahan baku daerah dengan inovasi, kreativitas, dan akses pasar.

Lima Pelaku Usaha Raih Penghargaan

Dalam Final Showcase Lumbung Karya Indonesia, sejumlah pelaku usaha menerima penghargaan dalam berbagai kategori.

Tococo Indonesia meraih Best Local Roots Innovation, Nirbaya Mocaf mendapatkan Best Innovation & Transformation, PT Allisha Gesang Sejahtera memperoleh Best Business Readiness, Dalem Wangi meraih Most Impactful & Replicable, sedangkan Cumi Item Rasa Yang Berkah mendapatkan Best Growth Potential.

Berbagai inovasi tersebut menunjukkan bahwa pangan lokal Jawa Tengah memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Dengan dukungan inovasi, pendampingan, pembiayaan, legalitas, branding, dan akses pasar, bahan pangan yang selama ini dijual dalam bentuk mentah dapat diolah menjadi produk baru yang memiliki nilai jual dan pasar yang lebih luas.

Pada akhirnya, peningkatan nilai tambah pangan lokal tidak hanya berdampak terhadap produk, tetapi juga dapat membuka peluang usaha, menciptakan lapangan kerja, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di daerah.

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
umkm jateng olahan pangan lokal pangan lokal jawa tengah makana olahan Gubernur Ahmad Luthfi