METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Dunia kepemiluan dan panggung musik mungkin terlihat seperti dua jalan yang berbeda. Namun bagi Fajar Randi Yogananda, M.I.Pol., keduanya justru berjalan beriringan dalam kehidupan sehari-hari.
Di balik kesibukannya sebagai Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Pekalongan, Fajar masih menyempatkan diri membaca dan bernyanyi.
Bahkan, ketika ada kesempatan, ia ikut kompetisi menyanyi. Di Kota Pekalongan, ia tercatat dua kali mengikuti kompetisi pada 2022 dan 2024, masing-masing meraih juara tiga dan juara dua.
Namun jauh sebelum duduk sebagai penyelenggara pemilu, ketertarikan Fajar terhadap dunia kepemiluan sudah tumbuh sejak masa kuliah.
Langkah pertamanya dimulai ketika ia menjadi anggota komisi pemilihan umum di tingkat universitas. Dari pengalaman sederhana itu, Fajar mulai memahami bahwa pemilu membutuhkan persiapan, ketelitian, dan kerja bersama agar seluruh tahapan dapat berjalan dengan baik.
Baca Juga: Pemkot Pekalongan Dorong Pembatik Kantongi Sertifikasi
Pengalaman di tingkat kampus itulah yang kemudian menjadi pintu masuk Fajar untuk menekuni dunia kepemiluan secara lebih serius.
Pengalaman di tingkat kampus itulah yang kemudian menjadi pintu masuk Fajar untuk menekuni dunia kepemiluan secara lebih serius.
Kini, ia dipercaya menjadi Ketua KPU Kota Pekalongan. Laman resmi KPU Kota Pekalongan juga mencantumkan Fajar Randi Yogananda sebagai ketua lembaga tersebut.
Bagi Fajar, menjadi penyelenggara pemilu bukan hanya tentang bekerja di balik meja atau mengawal tahapan administratif. Ada tantangan untuk membuat masyarakat memahami kepemiluan, terutama generasi muda yang hidup dalam arus informasi digital.
Karena itu, ia mencoba mencari cara komunikasi yang lebih dekat dengan generasi muda. Salah satunya melalui buku.
Fajar menulis buku berjudul “Jangan Ada Kesalahan Teknis di Antara Kita”. Judul tersebut sengaja dibuat dengan pendekatan yang lebih ringan agar menarik perhatian pembaca, terutama Gen Z.
Menurut Fajar, literasi masih menjadi pekerjaan bersama. Ia ingin buku yang ditulisnya tidak hanya dibaca oleh orang-orang yang sudah akrab dengan dunia pemilu, tetapi juga masyarakat yang selama ini merasa politik dan kepemiluan sebagai sesuatu yang rumit.
Judul buku itu sendiri berangkat dari kalimat yang kerap terdengar dalam berbagai acara, yakni “mohon maaf ada kesalahan teknis”.
Dari kalimat tersebut muncul gagasan awal yang kemudian berkembang menjadi judul buku. Setelah berkonsultasi dengan pimpinan, Fajar memilih judul yang berbeda karena penyelenggara pemilu memiliki tuntutan untuk menjalankan regulasi secara benar.
Di balik judul yang terdengar santai itu, ada pesan yang ingin disampaikan Fajar: masyarakat perlu semakin dekat dengan dunia kepemiluan melalui literasi.
Pengalaman Fajar sebagai penyelenggara pemilu juga tidak selalu berlangsung formal dan rapi seperti yang terlihat dari luar. Salah satu pengalaman yang paling diingatnya justru terjadi ketika logistik pemilu tiba di Kota Pekalongan pada malam hari.
Baca Juga: Dari Keraton hingga Jadi Seragam Kerja, Ini Sejarah Batik
Saat itu, surat suara dikirim menggunakan truk dari Jawa Timur. Persoalan muncul ketika truk hendak masuk menuju gudang. Pelindung saluran pembuangan yang berada di jalur menuju gudang tidak cukup kuat menahan beban kendaraan.
Saat itu, surat suara dikirim menggunakan truk dari Jawa Timur. Persoalan muncul ketika truk hendak masuk menuju gudang. Pelindung saluran pembuangan yang berada di jalur menuju gudang tidak cukup kuat menahan beban kendaraan.
Agar truk dapat melewati jalur tersebut, sebagian surat suara harus dipindahkan terlebih dahulu ke kendaraan-kendaraan kecil. Setelah itu, logistik dibawa menuju gudang secara bertahap.
Masalah belum selesai. Koordinator tenaga bongkar muat yang biasanya dihubungi ternyata tidak dapat dikontak. Tim sempat mempertimbangkan untuk menunda proses bongkar hingga pagi.
Namun keputusan itu memiliki risiko lain. Truk tersebut juga membawa logistik untuk daerah lain. Jika proses bongkar ditunda, distribusi logistik ke daerah berikutnya bisa ikut terlambat.
Di sisi lain, cuaca malam itu mulai tidak bersahabat. Langit mendung dan suara petir terdengar. Posisi truk juga tidak dapat masuk sepenuhnya ke dalam gudang sehingga ada kekhawatiran hujan akan mengganggu kondisi surat suara.
Pilihan akhirnya jatuh pada satu keputusan: bongkar sekarang. Fajar bersama tim pun turun tangan. Mereka yang sehari-hari mengurus penyelenggaraan pemilu akhirnya berubah menjadi tenaga bongkar dadakan.
Baca Juga: Sempat Diklaim Cina dan Malaysia, IShowSpeed Temukan Fakta, Batik Asli Indonesia
Bagi Fajar, pengalaman itu menjadi salah satu gambaran bahwa tanggung jawab sebagai penyelenggara pemilu terkadang menuntut kesiapan untuk melakukan hal-hal di luar pekerjaan rutin.
Bagi Fajar, pengalaman itu menjadi salah satu gambaran bahwa tanggung jawab sebagai penyelenggara pemilu terkadang menuntut kesiapan untuk melakukan hal-hal di luar pekerjaan rutin.
“Ini adalah risiko yang harus kami ambil sebagai penyelenggara,” ujarnya.
Menghadapi dinamika politik yang terkadang memanas, Fajar memilih komunikasi sebagai cara utama untuk menjaga suasana tetap kondusif.
Menurut dia, komunikasi bukan hanya soal menyampaikan informasi. Penyelenggara juga harus mau mendengarkan pihak lain agar persoalan dapat dibicarakan secara dua arah.
Baginya, suasana komunikasi yang baik menjadi bagian penting dalam mencari solusi ketika muncul perbedaan pandangan dalam proses ke-pemiluan.
Prinsip tersebut menjadi semakin penting karena pekerjaan penyelenggara pemilu bersinggungan dengan banyak pihak, termasuk peserta pemilu, saksi, pemerintah, masyarakat, hingga berbagai kelompok pemangku kepentingan.
Baca Juga: Siapa yang Ajukan Batik Indonesia ke UNESCO?
Baca Juga: Kenapa 2 Oktober Diperingati sebagai Hari Batik?
Di tengah pekerjaan yang penuh tekanan dan memiliki waktu kerja tidak selalu teratur, Fajar memiliki cara sederhana untuk menjaga keseimbangan.
Di tengah pekerjaan yang penuh tekanan dan memiliki waktu kerja tidak selalu teratur, Fajar memiliki cara sederhana untuk menjaga keseimbangan.
Setiap pagi, ia berusaha menyempatkan diri membaca. Bagi Fajar, membaca bukan sekadar aktivitas untuk menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang untuk menenangkan pikiran.
Namun, ketika buku sudah ditutup, musik menjadi ruang lain untuk melepas penat. Fajar mengaku senang bernyanyi. Ia bahkan tidak hanya bernyanyi untuk kesenangan pribadi, tetapi sesekali mengikuti kompetisi.
Di Kota Pekalongan, pengalaman itu membawanya meraih juara tiga pada 2022 dan juara dua pada 2024.
Kebiasaan membaca dan bernyanyi tersebut memperlihatkan sisi lain Fajar di luar rutinitasnya sebagai penyelenggara pemilu.
Ia melihat pendekatan terhadap generasi muda tidak harus selalu dilakukan melalui bahasa formal. Pesan tentang kepemiluan juga bisa dikemas melalui buku, kreativitas, kegiatan yang dekat dengan anak muda, hingga ruang-ruang yang memungkinkan komunikasi berlangsung lebih cair.
Itulah sebabnya Fajar ingin literasi kepemiluan dapat hadir dengan cara yang lebih mudah diterima.
Bagi dia, mendekati Gen Z berarti memahami cara mereka mendapatkan informasi sekaligus menghadirkan pesan kepemiluan dalam format yang tidak terasa berjarak.
Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.
Fajar menyebut keluarga sebagai support system terbaik. Istri menjadi teman bertukar pikiran sekaligus orang yang terus mendukung keputusan yang diambilnya.
Namun, bagi Fajar, ada satu hal yang jauh lebih sederhana sekaligus bermakna. Keluarga adalah alasan untuk pulang.
Ketika ditanya apa yang akan ia katakan kepada dirinya sendiri jika dapat kembali ke hari pertama dilantik pada November 2023, Fajar tidak memilih kalimat panjang. “Terima kasih sudah berusaha keras dan bertahan sampai sejauh ini.”
Kalimat itu seperti merangkum perjalanan yang telah dilewatinya: dari mengenal pemilu di bangku kuliah, menjadi penyelenggara, menghadapi persoalan logistik di tengah malam, menulis buku, hingga tetap menemukan ruang untuk bernyanyi.
Kini, Fajar ingin meninggalkan sesuatu yang lebih panjang daripada sekadar catatan tentang tahapan pemilu.
"Saya berharap KPU Kota Pekalongan dapat berkembang menjadi pusat riset kepemiluan di kota tersebut. Buku dan jurnal yang disusunnya diharapkan dapat dibaca lebih banyak pihak, sementara data kepemiluan yang dimiliki lembaga dapat semakin mudah diakses masyarakat," tandasnya.(han)
Sumber : metropekalongan.com