Ahmad Luthfi Dorong Bursa Wirausaha 2026 Jadi Jalan UMKM Jateng Naik Kelas

Adityo Dwi Riyantoto • Dipublikasikan Rabu, 7 Oktober 2026 | 21:25 WIB
4,2 Juta UMKM di Jateng Didorong Naik Kelas Lewat Bursa Wirausaha 2026
4,2 Juta UMKM di Jateng Didorong Naik Kelas Lewat Bursa Wirausaha 2026

METROPEKALONGAN.COM, Semarang – Bursa Wirausaha Unggulan 2026 di Jawa Tengah tidak hanya diarahkan sebagai ajang pamer produk.

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendorong kegiatan tersebut menjadi pintu masuk untuk memperluas pasar, membuka kemitraan, melahirkan wirausaha muda, serta mendorong UMKM naik kelas dan menciptakan lapangan kerja.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, ruang pertemuan antara pelaku usaha, mahasiswa, perguruan tinggi, pemerintah, dan dunia usaha penting untuk membangun ekosistem kewirausahaan yang lebih kuat.

Hal itu disampaikan Ahmad Luthfi saat menghadiri Bursa Wirausaha Unggulan 2026 di Muladi Dome Universitas Diponegoro (Undip), Rabu (7/10/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan 27 lembaga inkubator dari Jawa Tengah-DIY, pelaku UMKM, serta sekitar 760 mahasiswa calon pengusaha dari 17 perguruan tinggi di Jawa Tengah dan DIY.

“Terima kasih kepada Kementerian UMKM yang hari ini melakukan bursa usaha terkait dengan kesempatan kerja dan wirausaha. Undip sebagai hub-nya, ini ada adik-adik mahasiswa dan UMKM di seluruh kabupaten/kota hadir untuk mengembangkan ekonomi baru di wilayah kita,” kata Luthfi.

Wirausaha Muda Harus Terhubung dengan Pasar

Menurut Ahmad Luthfi, pengembangan wirausaha muda tidak cukup hanya melalui pelatihan. Calon pengusaha perlu mendapatkan akses pasar, pembiayaan, teknologi, serta jejaring kemitraan agar mampu mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Hal tersebut dinilai penting karena UMKM menjadi salah satu penopang perekonomian Jawa Tengah.

Saat ini terdapat sekitar 4,2 juta UMKM yang tersebar di 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Dari jumlah tersebut, sekitar 97,95 persen merupakan usaha mikro.

Sementara itu, hingga triwulan II 2026, Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah telah membina 201.035 unit usaha dengan nilai aset sekitar Rp39,74 triliun dan omzet mencapai sekitar Rp70,74 triliun.

Ahmad Luthfi menegaskan, besarnya jumlah UMKM tersebut harus diikuti peningkatan kapasitas dan skala usaha.

“UMKM harus mempunyai dampak dan naik kelas. Mulai dari mikro menjadi kecil hingga menengah dan dapat ekspor produk. Di saat kondisi geopolitik kemudian keterbatasan fiskal, UMKM kita harus bisa naik kelas,” tegasnya.

Pemprov Jateng Perkuat Inkubasi Wirausaha

Pemprov Jawa Tengah terus memperluas ruang tumbuh bagi calon pengusaha maupun pelaku usaha yang sudah berjalan. Salah satunya dilakukan melalui penguatan kapasitas kewirausahaan dan inkubasi bisnis.

Program Akademi Balatkop dan Hetero Business Leap diarahkan agar pembekalan kepada calon pengusaha tidak berhenti pada teori.

Materi yang diberikan mencakup pola pikir kewirausahaan, pengembangan produk, pemasaran, pemanfaatan teknologi digital, pengelolaan usaha, hingga strategi memperluas pasar.

Antusiasme masyarakat terhadap pengembangan kapasitas kewirausahaan juga terus meningkat.

Pada 2025, Akademi Balatkop mencatat 4.193 pendaftar. Peminatan terbesar berada pada bidang digital marketing, keuangan bisnis, dan English conversation. Sementara platform e-learning Akademi Balatkop telah diakses 740 orang.

Pada 2026, terdapat 2.282 wirausaha binaan yang terdiri dari 1.398 calon wirausaha, 436 wirausaha pemula, dan 448 wirausaha mapan.

Bidang makanan menjadi peminatan terbesar dengan 48,9 persen, disusul kerajinan 13,3 persen dan jasa digital 13,3 persen.

Bagi Ahmad Luthfi, peningkatan kapasitas tersebut harus berujung pada kemampuan pelaku usaha memperluas pasar dan menciptakan lapangan pekerjaan baru.

“Kita gandeng seluruh stakeholder yang ada kemudian memperbanyak kegiatan-kegiatan pameran sehingga bisa berkembang bersama. Termasuk juga soal digitalisasi,” ujarnya.

Investasi UMK Jateng Capai Rp11,40 Triliun

Penguatan UMKM juga menjadi bagian dari strategi memperkuat ekonomi daerah di tengah pertumbuhan investasi.

Pada semester I 2026, realisasi investasi pada Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Jawa Tengah mencapai Rp11,40 triliun.

Angka tersebut terdiri atas investasi usaha mikro sebesar Rp10,11 triliun dan usaha kecil sebesar Rp1,29 triliun.

Investasi tersebut tidak hanya menunjukkan aktivitas ekonomi, tetapi juga berpotensi memperluas kesempatan kerja dan memperkuat rantai usaha di daerah.

Karena itu, Pemprov Jawa Tengah juga memperkuat akses permodalan bagi pelaku UMKM. Salah satunya melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga 6 persen dari Bank Jateng.

Selain pembiayaan, pendampingan juga diarahkan pada peningkatan kualitas produk, kemasan, pemasaran, serta pemanfaatan teknologi digital.

Dengan begitu, pelaku usaha diharapkan tidak hanya mampu memproduksi barang, tetapi juga memiliki kemampuan menjangkau konsumen yang lebih luas.

Sementara itu, Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM M Riza Damanik mengatakan, Bursa Wirausaha Unggulan 2026 bukan sekadar kegiatan seremonial.

Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pengembangan kewirausahaan yang dimulai dari proses inkubasi oleh lembaga inkubator dan perguruan tinggi.

“Diharapkan kegiatan ini menjadi ruang yang dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa atau calon wirausaha muda untuk lebih produktif,” ujarnya.

Dengan mempertemukan kampus, lembaga inkubator, pemerintah, pelaku UMKM, dan pasar dalam satu ekosistem, Bursa Wirausaha Unggulan 2026 diharapkan tidak berhenti pada transaksi dalam satu hari.

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk melahirkan pengusaha baru, mengembangkan usaha lokal, memperluas akses pasar, dan membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat Jawa Tengah. (*)

 

 

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
umkm jateng Bursa Wirausaha Unggulan 2026 wirausaha muda UMKM Naik Kelas Ahmad Luthfi