METROPEKALONGAN.COM, Semarang – Harga cabai merah yang menembus Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram membebani pedagang makanan dan pengusaha katering.
Untuk menekan dampak kenaikan harga bahan pokok, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) bersama Bank Indonesia menggelar intervensi harga pangan melalui aksi peduli pedagang, petani, dan masyarakat.
Kegiatan yang dirangkaikan dengan gerakan pangan murah tersebut berlangsung di Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Kompleks Tarubudaya, Ungaran, Kabupaten Semarang, Senin (12/10/2026).
Program ini menyasar pedagang warung, pengusaha katering, petani, serta masyarakat di Kabupaten Semarang dan Kota Semarang. Selain membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga lebih terjangkau, kegiatan ini bertujuan menjaga stabilitas harga pangan dan mengendalikan inflasi di Jawa Tengah.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan, pemerintah menggandeng Bank Indonesia, Perum Bulog, dan petani untuk memperkuat pengendalian harga sekaligus memastikan ketersediaan bahan pokok di pasaran.
“Ini bentuk intervensi. Kita gandeng Bulog, kita gandeng BI, kita gandeng para petani. Jadi, kita pertemukan antara pedagang, petani, dan pemerintah untuk bersama-sama melakukan penetrasi harga, menjaga inflasi, serta ketersediaan dan keterjangkauan bahan pokok,” kata Ahmad Luthfi seusai membuka dan meninjau kegiatan tersebut.
Menurut Luthfi, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar upaya pengendalian harga pangan tidak hanya terpusat di Semarang, tetapi juga menjangkau berbagai daerah di Jawa Tengah.
Ia berharap langkah tersebut dapat menjadi model kerja sama untuk menjaga inflasi tetap terkendali sekaligus memastikan masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga yang wajar.
Pasar Murah Jateng Bantu Pedagang Tekan Biaya Produksi
Kenaikan harga cabai memberikan tekanan terhadap biaya produksi pelaku usaha kuliner. Joko, pedagang nasi goreng, mengaku kesulitan menghadapi kenaikan harga cabai dalam dua pekan terakhir.
Sebagai bahan utama pembuatan sambal, cabai menjadi salah satu komponen penting yang memengaruhi pengeluaran usahanya. Di sisi lain, ia harus mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau bagi pelanggan.
Melalui gerakan pangan murah yang digelar Pemprov Jateng, Joko dapat membeli cabai dengan harga lebih rendah dibandingkan harga pembelian terakhirnya di pasaran.
“Ini baru beli cabai 3 kilogram. Harga cabai di pasaran terakhir beli Rp65 ribu, di sini dapat Rp45 ribu. Biasanya untuk membuat sambal saya butuh 5 kilogram untuk satu minggu. Sangat membantu sekali,” kata Joko.
Dengan harga Rp45.000 per kilogram, Joko menghemat Rp20.000 untuk setiap kilogram cabai dibandingkan harga pembelian terakhirnya sebesar Rp65.000 per kilogram.
Selisih harga tersebut membantu mengurangi biaya bahan baku, terutama bagi pedagang makanan yang menggunakan cabai dalam jumlah cukup besar setiap hari.
Manfaat gerakan pangan murah juga dirasakan Dari, pengusaha katering yang telah menjalankan usahanya selama 12 tahun. Ia mengatakan, kenaikan harga bahan pokok, khususnya beras dan ayam, berdampak langsung terhadap biaya operasional usaha.
Namun, menaikkan harga menu bukan pilihan mudah karena berisiko membuat pelanggan beralih ke penyedia jasa katering lain.
“Kalau kita naikkan harga, pelanggan tidak mungkin karena bisa lari. Jadi, program ini sangat membantu. Yang berpengaruh bagi kami itu harga ayam dan beras,” ujar Dari.
Ia mencontohkan, harga beras di pasaran yang berkisar Rp14.000 hingga Rp15.000 per kilogram dapat diperoleh melalui kegiatan tersebut dengan harga Rp11.000 per kilogram.
Harga yang lebih rendah itu memberi kesempatan kepada pelaku usaha untuk menekan pengeluaran tanpa harus segera menaikkan harga jual kepada konsumen.
Pemprov Jateng Antisipasi Dampak El Nino terhadap Produksi Pangan
Selain mengendalikan harga bahan pokok, Pemprov Jateng juga menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi dampak El Nino yang dapat memicu kekeringan dan mengganggu produksi pertanian.
Dalam kegiatan tersebut, pemerintah menyalurkan bantuan beras kepada masyarakat. Sementara itu, petani memperoleh dukungan berupa sarana perpipaan dan rumah burung hantu untuk membantu mendukung kegiatan pertanian.
Pemprov Jateng juga mendorong penyesuaian pola tanam sesuai kondisi wilayah dan kebutuhan petani. Langkah ini diharapkan dapat membantu mempertahankan produktivitas pertanian di tengah tantangan perubahan kondisi cuaca.
“Pola tanam petani juga disesuaikan dengan program dari Distannak. Karena El Nino inilah maka kita harus mempunyai ide kreatif dalam rangka pengendalian bahan pokok penting di wilayah kita dari hulu sampai hilir,” kata Ahmad Luthfi.
Menurutnya, pengendalian harga pangan perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tingkat produksi hingga distribusi kepada konsumen. Dengan demikian, gangguan produksi maupun distribusi dapat diantisipasi agar tidak semakin menekan harga bahan pokok.
Produksi Padi, Cabai, dan Bawang Merah Jateng Jadi Modal Jaga Pasokan
Berdasarkan data yang disampaikan Pemprov Jateng, produksi padi di Jawa Tengah selama Januari-Oktober 2026 diperkirakan mencapai 8,4 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah tersebut setara dengan sekitar 4,9 juta ton beras.
Sementara itu, produksi cabai diperkirakan mencapai 404,91 ribu ton dan produksi bawang merah mencapai 408,76 ribu ton.
Besarnya produksi pertanian tersebut menjadi salah satu modal penting bagi Jawa Tengah dalam menjaga ketersediaan bahan pangan. Meski demikian, produksi yang tinggi perlu didukung distribusi yang lancar agar hasil panen dapat menjangkau pasar dengan harga yang tetap terjangkau.
Melalui sinergi pemerintah daerah, Bank Indonesia, Bulog, petani, dan pelaku usaha, intervensi harga pangan diharapkan mampu membantu masyarakat menghadapi kenaikan harga kebutuhan pokok.
Upaya tersebut juga diharapkan dapat menjaga keberlangsungan usaha kecil, mengendalikan inflasi, serta memperkuat ketahanan pangan Jawa Tengah dalam menghadapi potensi dampak El Nino. (*)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto