METROPEKALONGAN.COM- Perubahan pasar otomotif membuat konsumen tidak lagi cukup membandingkan harga beli mobil semata. Biaya kepemilikan selama beberapa tahun juga perlu diperhitungkan.
Mobil listrik berpotensi menawarkan biaya energi dan perawatan rutin yang lebih rendah, terutama jika pengisian daya dilakukan di rumah. Namun, calon pemilik perlu mempertimbangkan ketersediaan fasilitas pengisian daya, kebutuhan perjalanan, garansi baterai, serta biaya penggantian komponen apabila diperlukan.
Sementara itu, mobil bensin bekas menawarkan pilihan model yang beragam, jaringan bengkel yang luas, dan kemudahan mengisi bahan bakar. Konsekuensinya, pemilik tetap harus menanggung biaya BBM dan perawatan mesin konvensional.
Karena itu, kendaraan yang paling ekonomis akan bergantung pada pola penggunaan masing-masing konsumen. Mobil listrik dapat lebih menarik untuk penggunaan harian di perkotaan, sedangkan mobil bensin bekas bisa lebih sesuai bagi konsumen yang membutuhkan fleksibilitas perjalanan atau belum memiliki fasilitas pengisian daya.
Masuknya deretan produsen otomotif yang merilis model EV kompak berharga ramah kantong seperti Wuling Air EV, VinFast VF 3, Seres E1, hingga BYD Atto 1 menjadi pemicu utama. Konsumen kini disajikan opsi membawa pulang kendaraan listrik kondisi baru dari diler dengan harga yang sama atau bahkan lebih murah dibanding harga pasaran MPV/sedan bensin bekas tahun muda.
Persaingan ini kian panas karena mobil listrik baru dibekali berbagai keunggulan bernilai tambah:
-
Garansi Resmi Baterai: Jaminan baterai dan komponen EV rata-rata hingga 8 tahun dari pabrikan.
-
Efisiensi Biaya Operasional: Biaya pengisian daya listrik harian terbukti jauh lebih murah dibanding konsumsi BBM rutin.
-
Insentif Pajak & Bebas Aturan: Bebas dari pembatasan ganjil-genap di kota besar serta skema PKB/BBNKB yang disubsidi pemerintah.
Bagaimana Prospek Pasar Mobil Bekas ke Depan?
Dalam beberapa tahun mendatang, pasar mobil bekas berpotensi semakin tersegmentasi. Mobil listrik murah dapat menekan daya tarik sebagian mobil bensin bekas yang memiliki harga berdekatan, terutama jika biaya kepemilikannya tidak lagi kompetitif.
Namun, mobil bekas bermesin bensin tidak serta-merta kehilangan pasar. Konsumen dengan anggaran terbatas, kebutuhan perjalanan jarak jauh, atau akses pengisian daya yang terbatas masih memiliki alasan untuk memilih kendaraan konvensional.
Dealer mobil bekas juga perlu menyesuaikan strategi dengan lebih selektif dalam menentukan stok. Kendaraan yang memiliki riwayat servis jelas, kondisi baik, konsumsi BBM efisien, serta harga sesuai pasar berpeluang lebih mudah menarik pembeli.
Pada akhirnya, nasib mobil bekas di tengah gempuran mobil listrik murah akan ditentukan oleh kemampuan kendaraan tersebut menawarkan nilai yang sepadan dengan uang yang dikeluarkan konsumen.
Bagi calon pembeli, kondisi ini justru membuka lebih banyak pilihan. Kuncinya bukan sekadar mencari mobil dengan harga termurah, melainkan menghitung total biaya kepemilikan, memeriksa kondisi kendaraan, dan menyesuaikannya dengan kebutuhan sehari-hari. (*)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto