Minim Tempat Bermain, Murid SD Sekolah Rakyat Menangis

Adityo Dwi Riyantoto • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 12:52 WIB
Anggota DPD RI Muhdi saat mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi Kota Semarang di Tembalang, Senin (19/10).
Anggota DPD RI Muhdi saat mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi Kota Semarang di Tembalang, Senin (19/10).

 
METROPEKALONGAN.COM, Semarang - Minimnya sarana bermain membuat sejumlah murid SD di Sekolah Rakyat Terintegrasi Kota Semarang tak betah. Bahkan, beberapa anak dilaporkan menangis karena tak menemukan tempat bermain yang sesuai dengan usia mereka.

Kondisi itu menjadi sorotan Anggota DPD RI Muhdi saat mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi Kota Semarang di Tembalang, Senin (19/10). Ia menilai fasilitas bermain perlu segera dilengkapi, terutama untuk siswa kelas I hingga kelas III SD.

“Banyak anak SD yang menangis juga. Mereka mengaku tidak betah. Ketika ditanya alasannya, tidak ada tempat main,” kata Muhdi saat berdiskusi dengan jajaran pimpinan sekolah.

Menurut dia, kebutuhan sarana bermain tidak bisa diabaikan. Anak-anak usia sekolah dasar, khususnya kelas awal, masih membutuhkan ruang dan fasilitas bermain sebagai bagian dari aktivitas sehari-hari di sekolah.

Muhdi mengaku terkejut melihat banyaknya siswa SD di sekolah tersebut. Namun, jumlah itu belum diimbangi ketersediaan alat bermain yang memadai.

“Jumlah anak SD-nya banyak. Namun, nampaknya masih perlu ada alat bermain untuk anak-anak seusia kelas I, kelas II, dan kelas III yang pada umumnya belum tersedia secara cukup,” tegasnya.

Baca Juga: 1.947 Sertifikat Tanah Petani Eks PT Pagilaran di Jateng Dikembalikan Gratis

Ia berharap kekurangan tersebut segera ditangani. Sebab, Sekolah Rakyat tak cukup hanya menyediakan pendidikan. Lingkungan sekolah juga harus nyaman dan mendukung kebutuhan anak sesuai usianya.

Selain sarana bermain, Muhdi menyoroti kondisi ruang belajar yang masih terasa panas. Jika belum memungkinkan memasang pendingin udara (AC), ia menyarankan penambahan kipas angin agar siswa lebih nyaman mengikuti pelajaran.

“Kalau belum memungkinkan pakai AC, paling tidak kipas angin yang cukup perlu ditambah sehingga anak-anak lebih nyaman mengikuti proses belajar mengajar,” ujarnya.

Layanan kesehatan siswa juga menjadi perhatian. Muhdi menilai keberadaan perawat perlu didukung layanan dokter secara berkala. Terlebih, jumlah siswa cukup banyak, sedangkan akses menuju puskesmas relatif jauh.

Ia berharap dokter bisa datang secara rutin, misalnya beberapa jam dalam sehari atau beberapa hari dalam sepekan, untuk memastikan kebutuhan kesehatan siswa tertangani.

“Walaupun sudah dikirim perawat, saya berharap, dengan jumlah siswa sebanyak ini dan Puskesmas yang cukup jauh, apakah tidak mungkin ada dokter yang berkunjung ke sini secara berkala,” katanya.

Sementara itu, Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi Kota Semarang Ridho Irwanto mengatakan, saat ini terdapat 356 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA, termasuk siswa rintisan.

Ridho mengakui fasilitas bermain dan layanan kesehatan masih perlu dilengkapi. Pihak sekolah telah mengajukan kebutuhan tersebut kepada kementerian terkait.

Baca Juga: Polda Jateng Gelar Operasi Narkoba di Tempat Hiburan Malam Semarang, Ini Hasilnya

“Memang ada beberapa hal yang membutuhkan dukungan. Contohnya tempat bermain anak dan layanan dokter agar pelayanan kesehatan di sekolah bisa maksimal,” ungkapnya.

Ia menyebut kebutuhan alat bermain telah mendapat perhatian kementerian. Pemenuhannya ditargetkan pada November mendatang. Pihak sekolah kini tinggal menunggu realisasi bantuan tersebut.

“Sudah disampaikan dan menjadi atensi. Rencananya, pada November akan dipenuhi dari kementerian untuk tempat bermainnya. Tinggal menunggu,” jelasnya. (kap)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sekolah Rakyat sekolah rakyat semarang anggota DPD RI Muhdi tempat bermain sekolah rakyat Sekolah Rakyat Terintegrasi