RIbuan mata tertuju pada parade kostum yang bukan sekadar hiburan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana generasi muda ikut menerjemahkan warisan batik ke dalam karya yang lebih berani dan kekinian.
Digelar sebagai bagian dari rangkaian Hari Batik Nasional 2026, PBNC mengambil rute dari depan Pengadilan Negeri Pekalongan atau SMP Negeri 2 Kota Pekalongan hingga Museum Batik Kota Pekalongan.
Kawasan Budaya Jetayu menjadi titik penting perayaan, sekaligus terhubung dengan KreaKota 2026 yang berlangsung 1–4 Oktober 2026 di kawasan Ex Rumah Dinas Bakorwil 3 Pekalongan.
Di sepanjang jalan, batik tampil dalam wajah yang beragam. Motif khas Pekalongan tidak lagi sekadar melekat pada kain, tetapi menjelma menjadi kostum parade dengan sentuhan desain modern.
Pegawai pemerintah, pelajar, komunitas seni, hingga pelaku usaha batik ikut membawa kreativitas masing-masing ke tengah keramaian.
Pemandangan itu sekaligus memperlihatkan satu hal: batik memiliki ruang yang luas untuk terus berkembang mengikuti zaman.
Baca Juga: HBN 2026 di Kota Pekalongan, Ada Gunungan Nasi Hingga Senam Bersama
PBNC 2026 juga menjadi ruang bertemunya budaya tradisional dengan kreativitas generasi masa kini. Kehadiran Putri Pariwisata Nusantara 2026 dalam balutan kebaya menambah warna pada parade malam tersebut.
PBNC 2026 juga menjadi ruang bertemunya budaya tradisional dengan kreativitas generasi masa kini. Kehadiran Putri Pariwisata Nusantara 2026 dalam balutan kebaya menambah warna pada parade malam tersebut.
Sementara itu, DPC Harpi Melati Kota Pekalongan turut memperkenalkan Tata Rias Pengantin Srimpi Pesisiran. Tradisi rias pengantin khas Pekalongan itu menjadi pengingat bahwa ekonomi kreatif tidak harus meninggalkan akar budaya.
Wali Kota Pekalongan H. A. Afzan Arslan Djunaid atau Aaf mengapresiasi antusiasme masyarakat yang memenuhi jalur karnaval. Menurutnya, meski persiapan PBNC 2026 berlangsung dalam waktu relatif singkat, gelaran tersebut tetap mampu menghadirkan karya pembatik serta putra-putri terbaik Kota Pekalongan.
“Alhamdulillah berjalan lancar dan antusias masyarakat juga sangat luar biasa. Semuanya serba mendadak, tetapi Alhamdulillah masih bisa menampilkan para pembatik, putra-putri kita yang terbaik. Batik-batik yang ada di Kota Pekalongan juga semuanya tampil,” tuturnya.
Baca Juga: Fajar Randi, dari Panggung Musik ke Dunia Pemilu
Bagi Aaf, predikat Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia bukan sekadar kebanggaan. Status tersebut menjadi dorongan untuk terus mengembangkan batik sekaligus membuka ruang bagi berbagai potensi masyarakat.
Bagi Aaf, predikat Pekalongan sebagai Kota Batik Dunia bukan sekadar kebanggaan. Status tersebut menjadi dorongan untuk terus mengembangkan batik sekaligus membuka ruang bagi berbagai potensi masyarakat.
Sebab, kekuatan ekonomi kreatif Pekalongan tidak berhenti pada batik. Perikanan, wisata religi, hingga potensi kuliner seperti Kampung Tahu dan Kampung Tempe juga menjadi bagian dari kekayaan ekonomi masyarakat yang terus didorong.
“Potensi-potensi yang ada di masyarakat semuanya kita support. Semua kegiatan masyarakat yang baik, yang masyarakat mandiri maupun yang berhubungan dengan pemerintah, selalu kita support selama kegiatan itu positif dan bermanfaat untuk masyarakat,” jelas Aaf.(han)
Sumber : metropekalongan.com