METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – “Kota batik di Pekalongan, bukan Jogja bukan Solo.” Potongan lirik lagu Slank itu seperti mengingatkan bahwa Pekalongan memiliki perjalanan batiknya sendiri.
Identitas sebagai Kota Batik tidak muncul tiba-tiba, melainkan tumbuh melalui sejarah panjang yang melibatkan migrasi, perdagangan dan kehidupan masyarakat.
Jejak kuat perkembangan batik Pekalongan mulai terlihat pada abad ke-19. Meski tidak ada catatan tunggal yang memastikan kapan pertama kali batik dibuat di Pekalongan, perkembangannya kerap dikaitkan dengan masa setelah Perang Diponegoro sekitar 1825–1830.
Perang tersebut membuat sebagian keluarga keraton Mataram dan para pengikutnya meninggalkan wilayah kerajaan. Mereka menyebar ke berbagai daerah dan membawa keterampilan membatik.
Sebagian bergerak ke wilayah timur dan ikut memengaruhi perkembangan batik di Mojokerto, Tulungagung, Gresik, Surabaya hingga Madura. Sementara pergerakan ke barat turut membawa pengaruh ke Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan.
Baca Juga: PBNC 2026, Panggung Kreatif Anak Muda Pekalongan
Baca Juga: Kota Batik Dunia Terancam Limbah, Ini Langkah Aaf
Di Pekalongan, tradisi tersebut kemudian bertemu dengan budaya masyarakat pesisir yang sudah memiliki aktivitas perdagangan. Perpaduan itu membuat batik berkembang dengan karakter yang lebih dinamis.
Wilayah Pekalongan kota, Buaran, Pekajangan dan Wonopringgo kemudian menjadi kawasan penting dalam perkembangan industri batik.
Batik pun tidak lagi sekadar keterampilan yang dikerjakan untuk kebutuhan keluarga. Produksinya berkembang menjadi pekerjaan dan usaha yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Inilah salah satu fondasi mengapa Pekalongan kemudian dikenal sebagai Kota Batik. Identitas tersebut terbentuk dari perjalanan panjang masyarakat yang menjadikan membatik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Bahkan, perkembangan batik tidak hanya melahirkan produk kain. Ia membentuk jaringan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan dan menciptakan lingkungan sosial yang sangat dekat dengan aktivitas membatik.
Karena itu, ketika nama Pekalongan disandingkan dengan batik, hubungan tersebut bukan sekadar branding daerah. Ada sejarah panjang yang membuat batik menjadi bagian dari identitas kota.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com