METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Jika sejarah migrasi menjadi salah satu akar batik Pekalongan, jalur perdagangan menjadi alasan lain mengapa kain bermotif itu berkembang begitu cepat.
Berada di kawasan pesisir utara Jawa membuat Pekalongan sejak dahulu menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok dan budaya.
Para pedagang dari Tiongkok, Arab, India, Melayu hingga Eropa datang dan berinteraksi di kawasan pesisir. Pertemuan tersebut turut memengaruhi perkembangan batik Pekalongan, terutama dalam warna, motif dan gaya visual.
Berbeda dengan karakter batik pedalaman yang cenderung memiliki pakem kuat, batik pesisir Pekalongan berkembang lebih terbuka terhadap perubahan. Warna-warna cerah dan motif yang beragam menjadi ciri yang mudah dikenali.
Motif seperti Jlamprang, Buketan dan Hokokai menjadi bagian dari perjalanan panjang kreativitas batik Pekalongan.
Baca Juga: PBNC 2026, Panggung Kreatif Anak Muda Pekalongan
Baca Juga: Kota Batik Dunia Terancam Limbah, Ini Langkah Aaf
Sekitar 1850, aktivitas batik di Pekalongan bahkan berlangsung hampir sepanjang hari. Membatik, menjemur, menjual dan mengangkut kain menjadi bagian dari aktivitas masyarakat.
Pasarnya pun tidak berhenti di sekitar Pekalongan. Batik dikirim ke berbagai karesidenan di Jawa, Kalimantan dan Jambi. Bahkan, produk batik Pekalongan disebut telah menembus pasar Eropa, Amerika dan Hindia Barat.
Jejak kuatnya pengaruh batik bahkan terlihat dari sejumlah nama tempat di Pekalongan.
Ponolawen, misalnya, dikaitkan dengan lawen atau benang dan aktivitas penjualan bahan batik. Sorogenen berkaitan dengan kayu yang digunakan sebagai bahan bakar dalam proses produksi.
Di kawasan Krapyak terdapat nama Pasunginan yang dikaitkan dengan kegiatan menggambar atau menyalin sketsa batik. Sementara Ngabangan di Klego berhubungan dengan proses pewarnaan merah dan Medelan di Sampangan dengan pewarnaan biru indigo.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa batik bukan hanya komoditas perdagangan. Aktivitas membatik begitu dekat dengan kehidupan masyarakat hingga memengaruhi penamaan wilayah.
Dari rumah-rumah pembatik, pasar lokal hingga jaringan perdagangan antardaerah dan luar negeri, batik tumbuh menjadi kekuatan ekonomi sekaligus identitas budaya Pekalongan.
Itulah sebabnya julukan Kota Batik melekat kuat. Pekalongan bukan hanya memproduksi batik, tetapi membangun ekosistem batik yang hidup bersama masyarakatnya.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com