Saat 60 Ribu Warga Pekalongan Hidup dari Batik

Lutfi Hanafi • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 12:51 WIB
MEMBATIK : Hingga kini masih banyak generasi tua pembatik di Kota Pekalongan yang amsih setia mencating, membuat batik tradisional.(Onyengradar/Shutterstock)
MEMBATIK : Hingga kini masih banyak generasi tua pembatik di Kota Pekalongan yang amsih setia mencating, membuat batik tradisional.(Onyengradar/Shutterstock)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Jauh sebelum batik menjadi ikon wisata dan identitas daerah, kain bermotif itu sudah menjadi sumber penghidupan masyarakat Pekalongan.

Pada awal 1950-an, sekitar 60.000 penduduk Kota Pekalongan disebut memiliki mata pencaharian yang berkaitan dengan industri batik.

Jumlah tersebut diperkirakan mencapai sekitar dua pertiga penduduk kota pada masa itu. Membatik bukan lagi sekadar pekerjaan sampingan, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan ekonomi masyarakat.

Batik dikerjakan dari rumah, kemudian berkembang menjadi industri dengan jaringan pemborong, pedagang dan pekerja. Aktivitas produksi bahkan meluas ke wilayah sekitar seperti Wiradesa, Kedungwuni, Buaran dan Wonopringgo.

Perdagangan batik juga menjangkau wilayah yang jauh dari Pekalongan. Pedagang dari Padang, Mandailing, Banjarmasin dan berbagai daerah lain menjadi bagian dari jaringan pemasaran.

Baca Juga: Batik Pekalongan Mendunia Berkat Jalur Perdagangan

Baca Juga: Kenapa Pekalongan Disebut Kota Batik? Ini Awalnya

Pasar batik Pekalongan juga merambah Padang, Belawan-Deli, Medan, Palembang, Singapura hingga Penang.

Data industri yang dikutip dari Veldhuisen dalam buku Batik Belanda memperlihatkan posisi Pekalongan sebagai salah satu pusat batik penting. Pada 1870, terdapat 103 industri batik cap di Pekalongan.

Jumlah itu berada di bawah Surakarta yang tercatat memiliki 331 industri dan Surabaya 129, tetapi lebih tinggi dibandingkan Yogyakarta yang memiliki 100 industri.

Menariknya, dalam laporan 1955, Pekalongan tercatat memiliki 113 industri batik. Sementara Surakarta turun menjadi 225, Yogyakarta 69 dan Surabaya 53.

Kemampuan Pekalongan bertahan menunjukkan bahwa industri batik di kota ini memiliki daya adaptasi yang kuat.

Baca Juga: Pertempuran 3 Oktober 1945, Saat Warga Pekalongan Lawan Jepang

Baca Juga: Piala Batik Pekalongan, Kicau Mania Dongkrak Ekonomi

Salah satu kuncinya adalah kemampuan pengusaha membaca perubahan selera konsumen. Ketika warna dan desain baru mulai diminati, pengusaha batik Pekalongan ikut beradaptasi.

Batik kemudian tidak hanya diproduksi untuk kelompok tertentu. Produk massal dengan harga relatif terjangkau membuat batik Pekalongan mampu menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.

Dari sinilah batik menjadi lebih dari sekadar warisan budaya. Batik menjadi roda ekonomi yang menghubungkan pembatik, pengusaha, pedagang, pekerja produksi hingga konsumen.

Sejarah tersebut menjadi salah satu alasan kuat mengapa Pekalongan layak menyandang identitas sebagai Kota Batik.(han)

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : metropekalongan.com
sejarah batik pekalongan Mengapa Pekalongan Disebut Kota Batik Kota Batik Pekalongan batik pekalongan