METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Ada satu alasan penting mengapa batik Pekalongan mampu bertahan melewati perubahan zaman: pengrajinnya tidak berhenti berinovasi. Dari generasi ke generasi, motif baru terus lahir mengikuti selera pasar.
Batik Pekalongan tumbuh dalam lingkungan usaha yang banyak diwariskan secara kekeluargaan. Anak-anak dari keluarga pembatik sejak kecil telah mengenal proses produksi, perdagangan hingga karakter pasar.
Ketika memasuki usia dewasa, pengetahuan tersebut kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Jaringan tenaga kerja, pemasok bahan hingga pasar ikut berpindah dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Namun, warisan saja tidak cukup. Pengusaha batik Pekalongan juga dikenal mampu membaca selera konsumen.
Ketika batik Solo dan Yogyakarta mengalami persaingan ketat pada era 1950-an, batik Pekalongan justru mampu mendapatkan ruang di pasar dengan permainan warna dan motif yang lebih beragam.
Baca Juga: Batik Pekalongan Mendunia Berkat Jalur Perdagangan
Baca Juga: Kenapa Pekalongan Disebut Kota Batik? Ini Awalnya
Sejumlah motif baru pun lahir dengan nama yang dekat dengan zamannya. Ada Gadis Bali, Putri Irian, Taruna Purba, Rindu Malam, Bunga Sakura, Mahkota, Gembira Ria, Benhur, Michiko, Coca Cola, Sri Lanka, Sayonara, Nurlaila hingga Jamila.
Nama-nama tersebut menunjukkan bagaimana batik Pekalongan tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga berani mengikuti perkembangan selera masyarakat.
Karakter itu membuat batik Pekalongan mampu menjangkau pasar yang lebih luas. Produksi massal dengan harga relatif terjangkau membuatnya dekat dengan berbagai lapisan masyarakat.
Kekuatan lain adalah kemampuan pelaku usaha memperluas pasar. Batik Pekalongan dipasarkan hingga berbagai daerah, termasuk Demak dan Kudus.
Perjalanan tersebut membuat batik Pekalongan memiliki karakter berbeda. Ia hidup dari tradisi, tetapi terus bergerak mengikuti zaman.
Karena itulah julukan Kota Batik tidak hanya berkaitan dengan masa lalu. Sebutan tersebut juga menggambarkan kemampuan masyarakat Pekalongan menjaga warisan sekaligus menciptakan sesuatu yang baru.
Batik tetap hidup karena diwariskan, tetapi juga bertahan karena terus berubah. Dua hal inilah yang membuat Pekalongan memiliki alasan kuat untuk mempertahankan identitasnya sebagai Kota Batik.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com