METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Stok ikan beku tak hanya menumpuk di gudang penyimpanan di Juwana Pati. Di Kota Pekalongan juga sama.
Ratusan ton stok ikan menumpuk di Gudang lantaran belum terjual. Karena daya beli masyarakat melemah.
“Daya beli ikan drop banget, kami hampir kolaps,” kata pemilik usaha ikan Isnaini Rahullah Khumaini saat ditemui di kantor perusahaannya PT Nelayan Samudra Jaya di Jalan Seruni Krapyak Lor Pekalongan Utara.
Saat diajak masuk ke dalam gudang penyimpanan ikan, ada ratusan ton ikan beku yang menumpuk.
Ada berbagai macam jenis ikan yang sebenarnya siap jual. Baik untuk pasar ekspor maupun lokal Pekalongan hingga luar pulau.
Walaupun ada sebuah truk besar yang sedang mengangkut ikan untuk ekspor, Isnaini mengaku, jumlah penjualannya terbilang sangat kecil dibanding produksinya.
Hal ini tidak sebanding dengan biaya produksi yang dikeluarkan.
“Kami melakukan penangkapan sendiri, mengolah, membekukan, dan menyimpan. Semua proses dilakukan di sini,” jelasnya.
Bahkan pada kesempatan tertentu, pihaknya bisa memproduksi ikan hingga ratusan ton lebih.
Akan tetapi, penjualan hanya bisa antara 2 hingga 3 ton saja. Sisa ikan terpaksa disimpan kembali ke dalam gudang.
Biaya produksi ikan yang cukup besar, kata Isnaini, adalah solar. Yakni untuk bahan bakar melaut dan cold storage yang dimilikinya. Hal ini berpengaruh dengan harga ikan yang dia jual.
“Harapannya, Pemilu 2024 ini dapat pemimpin yang amanah. Sehingga kami bisa mendapatkan solar yang murah dan mudah,” harapnya.
Di perusahaannya, Isnaini memiliki tiga unit gudang utama untuk penyimpanan ikan. Gudang paling kecil untuk proses pembekuan dari ikan segar menjadi ikan beku, agar awet tersimpan.
Gudang tersebut, membutuhkan suhu minus 50 derajat celcius.
Sedangkan dua gudang lainnya, khusus untuk penyimpanan ikan. Membutuhkan suhu minus hingga 30 derajat celcius. Dan suhu ini harus terjaga selama 24 jam, agar ikan tetap awet.
“Semoga usai Pemilu, kondisi negara kondusif dan ekonomi semakin meningkat. Diiringi daya beli masyarakat yang naik lagi,” harapnya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla