METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Di sudut Kota Pekalongan, tepatnya di Kramatsari Gang 2, menjadi tempat tinggal Asmuni Purwanti.
Sebagai ibu rumah tangga, dia tinggal bersama suaminya, Budi Arin.
Pasangan suami istri (Pasutri) ini telah lama menjadi peserta BPJS Kesehatan Mandiri.
Keduanya memilih jalur mandiri untuk membayar iuran tanpa bergantung pada pemberi kerja atau bantuan pemerintah.
Kehidupan mereka yang sederhana, memberikan cerita tentang bagaimana manfaat BPJS Kesehatan dapat dirasakan secara nyata, meski melalui berbagai lika-liku.
Asmuni menceritakan, keberadaan kader JKN, seperti Muhammad Rizqon, sangat membantu dirinya dan keluarga dalam mendapatkan informasi tanpa perlu repot datang ke kantor BPJS.
"Saya sangat terbantu dengan adanya kader JKN. Kalau ada masalah, bisa konsultasi langsung," ujarnya.
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Asmuni adalah ketika anaknya, Diana Safrina, menghadapi kesulitan ekonomi, setelah berpisah dengan suaminya.
Diana yang awalnya rutin membayar iuran BPJS Mandiri, terpaksa menunggak hingga jutaan rupiah.
Namun, keajaiban terjadi. Dengan bantuan dari pemerintah setempat, Diana dan cucu-cucunya berhasil dialihkan menjadi peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang iurannya kini dibayar oleh Pemkot Pekalongan melalui dana APBD.
Purwanti tak lupa menyebut peran Rizqon, kader JKN yang mendampinginya untuk mencari solusi, termasuk mengangsur tunggakan hingga lunas.
"Bagi saya, tanggung jawab itu penting. Kalau sudah jadi peserta, ya harus bayar meski belum pernah menggunakan," kata Purwanti dengan tegas.
Ia juga menambahkan, keberadaan BPJS sangat membantu suaminya yang rutin menjalani perawatan karena penyakit gula.
"Kalau dihitung-hitung, biaya berobat lebih besar dari iuran setiap bulan. BPJS ini sangat membantu kami," tambahnya.
Di balik kemudahan yang dirasakan peserta, ada perjuangan para kader JKN seperti Muhammad Rizqon.
Menjadi kader sejak 2019, Rizqon menghadapi berbagai tantangan di lapangan.
"Sebagian besar peserta yang didatangi sering tidak menerima dengan baik. Ada yang merasa tidak punya utang tapi ditagih," ujarnya sambil tersenyum.
Kisah unik juga datang dari wilayah tempatnya bertugas, yakni Pekalongan Utara dan sebagian Pekalongan Barat.
Rizqon pernah hampir digigit anjing peliharaan salah satu peserta yang menunggak iuran.
"Tetangganya sudah mengingatkan, tapi saya tetap lanjut. Untung pemilik rumah segera keluar dan mengusir anjingnya," kenangnya.
Selain itu, wilayah kerjanya yang sering terendam banjir rob menjadi tantangan tersendiri.
"Kadang harus terbiasa dengan air. Tapi saya selalu mencari solusi dulu sebelum menemui peserta, supaya semuanya bisa berjalan baik," ungkapnya.
Rizqon mengaku menikmati tugasnya sebagai kader karena merasa bermanfaat bagi masyarakat.
"Banyak yang belum mengerti alur BPJS. Saya di sini membantu agar mereka paham dan tidak salah kaprah," tutupnya. (han/web/ida)
Editor : Ida Nor Layla