Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Setelah Dilakukan Revitalisasi, Pasar Kedungwuni Justru Sepi Pembeli, Banyak Kios Tutup

Magang • Sabtu, 5 Juli 2025 | 04:00 WIB
KIOS TUTUP : Suasana Pasar Kedungwuni tampak lengang dengan deretan kios yang tertutup pada Jumat 4 Juli 2025.
KIOS TUTUP : Suasana Pasar Kedungwuni tampak lengang dengan deretan kios yang tertutup pada Jumat 4 Juli 2025.

METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Tiga tahun pasca direvitalisasi, Pasar Kedungwuni Kabupaten Pekalongan justru mengalami penurunan aktivitas perdagangan.

Banyak kios terlihat tutup dan sepi pembeli. Berbeda dengan kondisi pasar sebelum dibongkar dan dipindahkan ke lokasi baru yang jauh lebih ramai.

Nusroh, seorang pedagang pakaian yang telah lama berjualan di Pasar Kedungwuni, menilai, meskipun penataan pasar saat ini lebih rapi karena pengelompokan jenis dagangan oleh pemerintah, namun kondisi ini justru menyebabkan pengunjung enggan masuk ke dalam pasar.

Baca Juga: Pedagang Ikan Hias Pasar Kuripan Keluhkan Sepi Pembeli

"Dulu kalau orang membeli sayur, ikan, biasanya sekalian mampir ke kios baju. Sekarang tidak. Pasar memang terlihat rapi, tapi pengunjung jadi malas, karena terpisah-pisah lokasinya," kata Nusroh saat ditemui, Kamis 4 Juli 2025.

Nusroh membandingkan kondisi saat ini dengan masa sebelum refleksi, dulu pembeli membeludak, terutama saat hari pasaran.

"Sebelum dibongkar, jalan depan pasar macet dan sangat ramai. Sekarang hari Jumat justru lengang. Saya kangen suasana dulu," dia.

Baca Juga: Pedagang Resmi Pasar Loak Kuripan, Kalah Saing dengan Pedagang Liar Pinggir Jalan

Kondisi sepi ini diperparah dengan maraknya jualan online yang lebih praktis dan ekonomis. Konsumen kini lebih memilih berbelanja dari rumah, dibandingkan datang langsung ke pasar.

Fenomena serupa juga dialami oleh Ibu Sri, pedagang sayur yang telah berjualan di Pasar Kedungwuni selama lebih dari 50 tahun. Menurutnya, pendapatan hariannya kini menurun tajam.

Dulu di pasar darurat bisa habis 10 kg cabai per hari. Sekarang di pasar baru, 2 kg saja kadang tidak habis, katanya.

Baca Juga: Dulu Hanya Loper Batik, Kini Produk Batik Ahmad Musa Tembus Pasar Internasional

Semakin terpuruk lagi, kini bermunculan pedagang ilegal yang bebas berjualan di area luar pasar, termasuk di jalan dan taman, tanpa membayar lapak resmi.

Pembeli pun lebih memilih belanja di luar daripada masuk ke dalam pasar.

"Ada tulisan larangan berjualan di taman dan jalan, tapi itu hanya formalitas. Coba lihat setiap pukul 6 pagi, penjual ilegal itu memenuhi jalan. Kami yang membayar lapak jadi seperti tidak dihargai," keluh Ibu Sri.

Baca Juga: Petakan Kopi Berkualitas di Kabupaten Batang, Bawa Nikmatnya Kopi Lokal ke Pasar Nasional

Untuk bisa menempati los resmi di pasar, pedagang harus membayar Rp 250 ribu dan membayar retribusi harian sebesar Rp 9.000.

Sementara banyak ruko kosong dibiarkan terbengkalai karena minimnya minat.

Apalagi ada ruko yang hanya dipatok sewa Rp 500 ribu per tahun, namun tetap tidak laku.

Baca Juga: Bukan Sekadar Pasar Murah, Kota Pekalongan Rayakan Toleransi Lewat Gelaran Pasar Sosial BKSGK

Kondisi ini menimbulkan desakan dari para pedagang agar ada evaluasi dari pemerintah daerah.

“Kami berharap ada pengaturan ulang atau solusi konkret agar aktivitas perdagangan di Pasar Kedungwuni kembali hidup seperti dulu,” kata Ibu Sri. (rifkahsaffanah/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#revitalisasi pasar #Pasar Kedungwuni #kabupaten pekalongam