METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Musim buah mangga telah tiba di Kota Pekalongan. Sejak awal Juli, pasar-pasar tradisional di wilayah ini dan beberapa titik di jalan protokol, dibanjiri mangga lokal dengan harga lebih murah dari biasanya.
Fenomena ini disambut antusias oleh warga, baik sebagai konsumen maupun penjual yang turut menikmati panen berlimpah.
Ini bukan sekadar panen, tetapi juga momentum memetik kekayaan alam yang menjadi kekuatan ekonomi dan budaya.
“Alhamdulillah musim ini panennya bagus. Mangga Manalagi dan Golek paling banyak dicari pembeli. Harga dari petani sekitar Rp 6.000 sampai Rp 8.000 per kilogram,” kata Siti Munawaroh, 45, pedagang buah di Pasar Banjarsari, Pekalongan Kota, saat ditemui Jumat siang, 25 Juli 2025.
Peningkatan permintaan terasa signifikan dalam dua pekan terakhir.
Para pembeli mengaku senang dengan kualitas buah yang manis dan segar, serta harga yang lebih terjangkau dibandingkan musim di luar panen.
“Saya membeli dua kilogram. Karena istri saya lagi ngidam buah. Katanya rasanya manis banget, apallagi yang jenis Mangga Harum Manis,” kata Alfan, 25, warga Panjang Wetan, usai berbelanja di Pasar Banjarsari pada Jumat 25 Juli 2025.
Fenomena musim mangga ini juga menggerakkan perekonomian lokal. Banyak warga memanfaatkan panen mangga sebagai peluang usaha musiman, mulai dari berjualan mangga keliling.
Bahkan ada yang membuka lapak dadakan hingga menjual olahan seperti rujak mangga dan manisan.
Fenomena musim mangga tahun ini tak hanya memberikan berkah ekonomi, tetapi juga mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan pertanian lokal.
Di tengah gempuran buah impor dan cuaca tak menentu, buah mangga dari Pekalongan tetap menunjukkan kualitas unggul yang patut dibanggakan.
“Buah lokal seperti ini harus kita dukung. Selain lebih segar, kita juga membantu petani kita sendiri,” kata Ari salah satu penjual lapak di Pasar Banjarsari Kota Pekalongan.
Dengan panen yang diprediksi melimpah hingga awal September, warga diimbau memanfaatkan musim mangga ini tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga sebagai sarana edukasi tentang pentingnya ketahanan pangan dan cinta produk lokal. (yanuarilhampangestu/ida)
Editor : Ida Nor Layla