Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Dari Usaha Berkah ke Kelas Dunia, Syamsul Huda Angkat Batik Perada Pekalongan

Lutfi Hanafi • Jumat, 26 Desember 2025 | 21:08 WIB
MEMBUAT POLA BATIK - Pemilik Perada Batik, Syamsul Huda turun langsung membuat pola batik, sebelum dilakukan prose mencanting oleh para pengrajinnya, di galerinya, Krapyak Pekalongan Utara.
MEMBUAT POLA BATIK - Pemilik Perada Batik, Syamsul Huda turun langsung membuat pola batik, sebelum dilakukan prose mencanting oleh para pengrajinnya, di galerinya, Krapyak Pekalongan Utara.

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Di Kota Pekalongan, yang dikenal sebagai World’s City of Batik, nama Syamsul Huda kini identik dengan kebangkitan batik Perada. Yakni, batik dengan sapuan warna emas yang sempat dianggap kuno, namun kembali bersinar lewat jenama Perada Batik.

Dari usaha rumahan yang dijalani dengan prinsip berkah, Huda berhasil membawa Perada tumbuh profesional, modern, dan berdaya saing global, berkat konsistensi proses serta pendampingan Bank Indonesia (BI).

Huda bukan pengusaha batik yang lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh di Sugihwaras, kini masuk wilayah Kelurahan Kauman, Pekalongan Timur, lingkungan yang kental dengan tradisi membatik.

Kakek buyutnya adalah pembatik, meski usaha itu terputus di generasi orang tua yang memilih menjadi guru.

Namun, kecintaan Huda pada batik sudah muncul sejak kecil—ia akrab dengan aroma malam dan aktivitas merada sepulang sekolah.

Setelah lulus dari Universitas Pekalongan (Unikal) pada 1998, Huda sempat memperdalam batik di Yogyakarta. Namun, jalannya berbelok.

Ia justru merintis usaha kriya tenun. Bahkan dipercaya memproduksi kain sutra untuk Gusti Pembayun, putri tertua Sultan Keraton Yogyakarta.

Dari dunia tenun inilah, Huda mulai mengenal pasar ekspor. Namun sempat gagal, karena produk tenunnya tidak dibayar oleh pembeli yang dinyatakan pailit akibat krisis Eropa awal 2008 hingga 2010.

Titik balik terjadi saat ia dikenalkan dengan maestro batik Iwan Tirta. Alih-alih memuji tenunnya, Iwan justru menegur, “Kamu orang Pekalongan, kenapa tidak membatik?” Kalimat sederhana itu tertanam kuat.

Dorongan tersebut berlanjut pada 2009, ketika Huda kembali bertemu Iwan Tirta dalam Pekan Batik International di Kota Pekalongan.

Keduanya berkorespondensi desain batik, hingga wafatnya sang maestro. Kurang dari setahun kemudian menjadi pemantik tekad Huda untuk ikut melestarikan batik secara serius.

Pada 2011, Perada Batik resmi berdiri. Nama “Perada” diambil dari teknik batik emas Prada, yang dikerjakan manual dengan canting. Batik ini memanfaatkan emas sebagai elemen motif, menghadirkan kesan mewah sekaligus elegan, cocok untuk acara formal, pernikahan, dan busana koleksi.

BATIK PRADA - Inilah salah satu seni batik Prada, berupa batik degan sentuhan warna emas, yang membuat kesannya semakin berkelas dan mewah.
BATIK PRADA - Inilah salah satu seni batik Prada, berupa batik degan sentuhan warna emas, yang membuat kesannya semakin berkelas dan mewah.

Perada tidak hanya menjual kain atau busana, tetapi juga nilai. Huda mengembangkan batik berbasis ramah lingkungan, memanfaatkan Tenun ATBM serat kayu eucalyptus (benang tencel) yang dipadukan dengan katun dan rayon, serat bambu, hingga kain mori.

Pewarnaan dilakukan dengan pewarna alam seperti indigo dan mahoni, maupun chemical terkontrol. Diversifikasi produk dilakukan lewat kriya, home décor, hingga daur ulang kertas semen yang di-finishing dengan proses batik.

Prinsip usaha berkah menjadi fondasi. “Yang penting karyawan bisa mocoki (mendapat gaji) tiap minggu,” menjadi pegangan awal Huda sebelum mengenal manajemen modern. Sehingga selama usaha, tidak pernah menghitung, besaran biaya usaha, untung berapa, dan seperti apa pola manajemen usahanya.

Kini, sekitar 350–400 perajin terlibat dalam produksi Perada Batik, 60 persen di antaranya perempuan, baik in-house maupun outsourcing.

Pelatihan rutin dilakukan agar kualitas dan karakter Perada tetap terjaga, sekaligus membuka ruang regenerasi bagi anak muda agar batik tetap menjadi pilihan profesi.

Di balik geliat bisnisnya, Huda menempatkan keluarga sebagai sumber energi. Bersama sang istri, Prasetyani Rahmawati (Ibu Ani), ia membangun usaha dari rumah, melewati masa jatuh bangun. Dua anaknya tumbuh menyaksikan langsung perjuangan orang tua mereka.

Putri sulungnya, drg. Rania Azzahra, alumni UMY, telah menyelesaikan masa internsip dan kini bersiap melanjutkan pendidikan spesialis. Sementara putra keduan, M. Rafi Ilma, mahasiswa Manajemen Bisnis Undip semester 5, yang memiliki cita-cita melanjutkan studi S2 di Tiongkok.

Nilai keberanian mengambil keputusan dan berpikir global yang ditanamkan Huda di usaha, juga ia wariskan dalam pendidikan anak-anaknya.

Ujian terbesar datang saat pandemi Covid-19. Penjualan Perada Batik anjlok hingga tersisa sekitar 5 persen dari kondisi normal.Namun, Huda mengambil keputusan yang jarang dilakukan, tetap produksi penuh selama dua tahun pandemi.

FASHION SHOW – Salah satu penampilan koleksi Perada Batik Pekalongan pada event Fashion Show International.
FASHION SHOW – Salah satu penampilan koleksi Perada Batik Pekalongan pada event Fashion Show International.

Ia menjual berbagai aset pribadi demi mempertahankan karyawan dan proses produksi. Alasannya sederhana namun filosofis.

“Batik tulis canting itu tidak bisa diburu-buru. Ia butuh waktu, ketelatenan, dan proses panjang,” ujar Huda.

Masa pandemi justru dimanfaatkan sebagai jeda untuk menumpuk stok. Selain itu, Huda tidak ingin karyawannya menganggur. Dengan prinsip usaha berkah, dia ingin dapur keluarga karyawannya tetap ngebul. "Kasihan kalau mereka sampai berhenti kerja dan tidak ada pendapatan," serunya.

Keputusan itu menjadi bom waktu yang meledak saat pandemi mereda. Stok Perada langsung terserap pasar hingga kekurangan barang. Langkah ini mengejutkan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, yang berkunjung pada 16 September 2021.

Lebih membanggakan, seluruh pembiayaan dilakukan tanpa pinjaman bank, melainkan dari hasil penjualan aset pribadi. Perada Batik pun dijadikan contoh kebangkitan UMKM nasional di masa pandemi.

Perjalanan Perada semakin terarah sejak Huda masuk binaan Bank Indonesia (BI) pada akhir 2019 melalui KPw BI Tegal.

Awalnya, Perada menarik perhatian Ririn Perry Warjiyo, istri Gubernur BI Perry Warjiyo, saat bazar di Jakarta. Dari sanalah rekomendasi pembinaan dimulai.

Bank Indonesia membuka cara pandang Huda terhadap manajemen usaha, pencatatan keuangan, hingga pemasaran digital.

Ia mengikuti pelatihan on-boarding penjualan daring, SIAPIK Bank Indonesia, untuk pencatatan keuangan akuntabel, desain fesyen, hingga optimalisasi AI. BI Tegal juga aktif mempromosikan Perada Batik dalam kegiatan Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2021–2025.

Salah satu keputusan strategis Huda adalah membangun website toko digital sendiri sejak 2020.

Menurutnya, toko digital mandiri harus menjadi prioritas utama, sementara lokapasar hanya pelengkap. Analisis itu membuatnya diganjar Penghargaan UKM Cerdas dan Berkarya No.1 di KKI Bank Indonesia 2021.

Pembinaan BI juga terbukti ketika Huda harus menjalani operasi dan bed rest selama dua bulan. Tanpa kehadirannya, usaha tetap berjalan normal. Sistem manajemen yang detail membuat perusahaan seolah “berjalan sendiri”.

Baca Juga: Gedung Baru DPRD Kabupaten Pekalongan Bakal Dilengkapi Pojok UMKM

Konsistensi Perada Batik mengantarkan berbagai prestasi, antara lain Inacraft Award 2010, Inacraft Emerging Award 2012, UNESCO Award of Excellence for Handicraft 2012, hingga Best Wastra Brillianpreneur BRI 2023.

Pada 2025, Perada tampil di sejumlah ajang internasional seperti Mad Mood Milano, Mediterranean Fashion Week, Serbia Fashion Week, dan International Award Fashion for Good di Italia.

Pada 5 Desember 2025 kemarin, Perada Batik juga turut ambil bagian dalam Fashion Open Air di Berlin Jerman. Yang patut menjadi catatan, penghargaan dari Unesco miliknya, turut menjadi salah satu alasan, Kota Pekalongan bisa mejadi Kota Kreatif Dunia sejak tahun 2014.

Bagi Syamsul Huda, batik bukan sekadar produk fesyen, melainkan seni, doa, dan keberkahan. Dari Pekalongan, ia membuktikan bahwa UMKM berbasis budaya, jika dikelola dengan nilai, sistem, dan pendampingan yang tepat, mampu naik kelas hingga panggung dunia—tanpa kehilangan jiwanya.

Kini, Perada Batik beroperasi dari Perumahan Limas Raya, Pekalongan Utara, dengan outlet di Batik Bedjo Thamrin City Jakarta dan beberapa outlet lain di luar kota.

Harga produk berkisar Rp 1 juta hingga Rp 30 juta, menyasar segmen menengah atas yang menghargai proses dan cerita. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#manajemen #bi tegal #cerdas #toko digital #BI KPw Tegal #bi #ukm #batik #batik Prada #SIAPIK Bank Indonesia #mandiri #Perada Batik #bank indonesia (bi) #bank indonesia #pekalongan