METROPEKALONGAN.COM Batang - Di balik rimbunnya hutan jati Alas Roban, Desa Kemiri Barat, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, berdiri sebuah rumah galeri yang menyimpan kisah perjuangan UMKM kreatif.
Dari tempat inilah BJO Furface tumbuh. Yakni sebuah merek lokal yang mengolah kayu jati Subah menjadi karya seni bernilai internasional.
BJO Furface ini digagas Bejo Prichatianto yang alumnus Universitas Negeri Semarang (Unnes) jurusan Teknik Sipil.
Lulus kuliah pada 2017, Bejo memilih jalur berbeda dari harapan kebanyakan orang tua.
Alih-alih menjadi pegawai atau bekerja di perusahaan, ia pulang kampung dan membangun usaha berbasis seni dan kreativitas.
Kecintaan Bejo pada seni telah tumbuh sejak remaja.
Ia mulai mengenal kerajinan kayu sejak SMP, semakin serius saat SMA, dan kian mendalam ketika kuliah.
Selepas wisuda, Bejo “mengembara” ke Yogyakarta, menyusuri pusat-pusat seni dan kerajinan, bertemu seniman serta perajin lintas disiplin.
Dari perjalanan itu, Bejo kembali pada satu kesimpulan, yakni kayu jati adalah primadona dunia perkayuan.
Indonesia, khususnya Jawa Tengah dan Batang, memiliki jati berkualitas tinggi yang sudah dikenal sejak era kerajaan.
Namun Bejo sadar, jika bermain di mebel, Jepara masih unggul.
Jika hanya membuat kerajinan pajangan, persaingan terlalu padat.
Ia pun mencari celah, mengolah limbah kayu jati, memadukannya dengan epoxy resin, lalu memberinya sentuhan seni, dan menjadikannya produk yang bisa dikenakan dan digunakan.
“Kerajinan biasanya hanya dipajang. Saya ingin karya yang dipakai, dipakai dengan bangga, bahkan menjadi bagian dari fesyen,” ujarnya.
Dari gagasan itu, BJO Furface melahirkan produk-produk unik seperti tas kayu resin, sandal kayu, kalung, gelang, dompet, hingga tatakan notebook.
Selain itu, BJO Furface juga memproduksi jam dinding, meja, nampan, dan perlengkapan rumah tangga lainnya.
Setiap produk dibuat handmade, mengandalkan karakter alami serat kayu dan abstraksi resin.
Karena berbasis seni, tidak ada produk yang benar-benar sama.
“Ini bukan sekadar fesyen, tapi karya seni. Setiap potong kayu punya cerita sendiri,” kata Bejo.
Di awal berdiri, seluruh proses produksi dikerjakan Bejo sendiri, dibantu tenaga borongan jika ada pesanan.
Perlahan, kerja sama mulai tumbuh, pemasaran dilakukan secara online dan melalui mitra toko di Yogyakarta, menyasar wisatawan.
Namun saat usaha mulai merangkak naik, pandemi Covid-19 datang menghantam.
Permintaan turun drastis, pameran berhenti, dan aktivitas produksi sempat terhenti.
“Waktu pandemi, usaha benar-benar terpukul. Hampir berhenti,” kenang Bejo.
Kebangkitan datang pada 2021. Di tengah keterbatasan, Bejo justru mendapatkan kerja sama langsung dengan perusahaan besar di Jakarta. Momen itu menjadi titik balik penting.
“Dari situ saya sadar, ternyata produk kampung juga bisa masuk perusahaan besar,” ujarnya.
Sejak kerja sama tersebut, BJO Furface kembali bangkit. Produksi meningkat, jaringan pasar meluas, dan kepercayaan diri tumbuh.
Dari sebelumnya bekerja sendiri, Bejo mulai merekrut karyawan secara bertahap.
Kini, BJO Furface mempekerjakan 25 karyawan, mayoritas warga sekitar.
Dari usaha rumahan, berkembang menjadi unit produksi kreatif yang berkelanjutan.
Saat ini, produk BJO Furface telah hadir di berbagai lokasi prestisius, antara lain Sarinah Thamrin, Grand Indonesia, Senayan City, Kelapa Gading Mall, Summarecon Mall, Sogo, hingga Tangs Mall Singapore.
Produk BJO Furface juga tersedia di Bandara Ngurah Rai Bali dan Bandara Soekarno-Hatta.
BJO Furface menjalin kerja sama dengan Kawan Lama Group, menjadi pemasok merchandise Garuda Indonesia, serta memiliki distributor eksklusif di Turki, Dubai, dan Eropa.
Produk-produk BJO Furface telah diekspor ke Singapura, Polandia, dan sejumlah negara lainnya.
Dalam fase kebangkitan pascapandemi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Tegal memainkan peran strategis.
BI memberikan pendampingan berkelanjutan, mulai dari manajemen keuangan, pemasaran digital, onboarding marketplace, pelatihan AI, hingga pencatatan keuangan melalui SIAPIK.
Baca Juga: Tutup 2025 Bareng DJ Aloy, CDC Pekalongan Siap Gebrak 2026
Bank Indonesia juga membekali BJO Furface dengan pelatihan ekspor melalui Export Coaching Program (ECP) 2025 serta memfasilitasi keikutsertaan dalam pameran nasional dan internasional seperti IFEX Jakarta, Trade Expo Indonesia (TEI), dan KKI.
Tak hanya itu, BI juga memfasilitasi sarpras mesin CNC ukir, sesuai kebutuhan Bejo untuk meningkatkan kapasitas usahanya.
“BI bukan sekadar mengajak pameran. Pembinaannya dikawal, intens, dan berkelanjutan. Bahkan beberapa kali datang langsung ke tempat produksi,” tegas Bejo.
BJO Furface kini dikenal sebagai salah satu UMKM ekonomi kreatif unggulan Kabupaten Batang.
Dari rumah galeri di tengah hutan jati, karya-karyanya menembus mal prestisius dan pasar ekspor.
Kisah BJO Furface menjadi bukti bahwa UMKM bisa bangkit dari pandemi, bahkan naik kelas, jika berani berinovasi dan didukung pendampingan yang tepat.
“Pandemi sempat menghentikan langkah kami. Tapi dengan inovasi, kemitraan, dan dukungan Bank Indonesia, kami bisa bangkit dan melangkah lebih jauh,” pungkas Bejo Prichatianto. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla