METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Memproduksi handuk yang ditenun dengan tangan dan berbahan alam, menarik perhatian pasar internasional. Bahkan kini telah berkembang dengan varian produk yang semakin lengkap.
Usaha tenun menenun ini, tidak langsung Berjaya, ketika kali pertama didirikan. Sang bapak, Abdul Kadir mulai merintisnya tahun 1940 dengan menenun handuk secara manual. Tapi sudah memanfaatkan bahan-bahan alam.
Kala itu, dari gang kecil di Jalan Agus Salim, Kota Pekalongan, Abdul Kadir mengawali usahanya dengan hanya dibantu mesin manual dari kayu. Meski Kota Pekalongan dikenal dunianya batik, tapi Abdul Kadir memilih memproduksi tenun handuk.
Setelah 5 tahun bertahan dengan usahanya, tepatnya tahun 1945, Abdul Kadir baru tergugah untuk membuat handuk yang ada mereknya. Sang bapak yang merintis, sang anak yang mengembangkannya. Kini usaha tersebut sudah dilanjutkan oleh Thuraya Abdul Kadir. Usaha ini bernaung secara legal formal pada CV Ridaka. Kini produknya sudah dilengkapi merek, ada tulisan nama dan gambar.
Thuraya pun menceritakan, menenun handuk dengan tangan sebagaimana yang dilakukan orang tuanya dulu, hasil produksinya memang lebih fleksibel. Bahkan bisa dipesan dalam jumlah kecil, dengan warna, ukuran, hingga tulisan atau nama yang bisa disesuaikan satu per satu sesuai permintaan pelanggan. Tak seperti mesin yang harus memproduksi berton-ton.
“Itulah kenapa pengusaha Australia tertarik dengan produk kami. Tahun 1968 itu, kali pertama Ridaka melakukan eskpor handuk” jelas Thuraya yang lebih akrab dipanggil Aya, pada Selasa (7/7/2026).
Titik balik berikutnya dimulai pada tahun 1984, ketika Ridaka mulai memproduksi tenun dengan bahan baku dari alam seperti eceng gondok, pelapah pisang, serat nanas, hingga koran. Semua bahan baku tersebar luas di Indonesia, tak perlu impor bahan mentah dari luar negeri.
Ridaka sendiri membeli bahan alam tersebut dari Mojokerto, Temanggung, Weleri, Comal Pemalang, hingga Grobogan. “Ridaka pun menjadi pelopor yang memanfaatkan bahan-bahan alam menjadi kain tenun di Pekalongan,” tuturnya.
Tak berhenti pada kain tenun, kini Aya, memperbanyak varian produk. Dari bahan-bahan alam tersebut, memproduksi wallpaper, sandal, baju, hingga kerajinan yang dapat dijadikan hiasan rumah. “Semua itu kami ekspor keluar negeri. Mulai Singapura, Jepang, Amerika, Italia, Jerman hingga Perancis,” katanya.
Aya mengaku, banyak konsumen yang memesan produk Ridaka sejak bertahun-tahun silam. Salah satunya adalah pengusaha dari Jepang yang dipasarkan di Amerika.
“Mereka sudah 10 tahun membeli produk kami, khusus untuk wallpaper. Baik wallpaper tenun maupun wallpaper tempat dari pelapah pisang. Bahkan, sudah hampir 20 tahun ekspor ke Eropa,”jelasnya.
Menurut Aya yang membuat Ridaka menjadi incaran pasar internasional, salah satunya adalah bahan tenun yang tak biasa. Menggunakan bahan-bahan alam sehingga tekstur tenun terasa berbeda. “Ini sangat berbeda dengan tekstur ketika menggunakan benang biasa,” jelasnya.
Ketika mengirimkan produk tersebut ke hotel, pengunjung akan merasakan perbedaan bahannya. Termasuk, warna dan tulisan yang jarang berada di hotel-hotel pada umumnya. Hal ini selaras dengan Ridaka yang hampir 70 persen fokus pada pasar ekspor dan sisanya dijual di dalam negeri. (salwa.najaha/ida)
Editor : Ida Nor Layla