METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - keprihatinan terhadap hasil panen sayuran yang kerap dihargai rendah mendorong Kelompok Urban Farming Nawasena di Kelurahan Pasirkratonkramat, Kota Pekalongan, mencari cara baru agar hasil budidaya tidak sekadar dijual sebagai sayuran segar.
Sejumlah tanaman yang selama ini dibudidayakan, seperti seledri, pakcoy, dan lidah buaya, mulai dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah. Salah satu yang tengah digarap adalah shampo herbal berbahan tanaman lokal.
Ketua Urban Farming Nawasena, Rohani, mengatakan gagasan tersebut berangkat dari kondisi hasil panen yang belum seluruhnya terserap pasar. Ketika dijual dalam kondisi segar, harga sejumlah komoditas relatif rendah sehingga keuntungan yang diperoleh kelompok juga terbatas.
Baca Juga: Disdukcapil Kota Pekalongan Gencar Penuhi Identitas Warga
"Kami berpikir bagaimana hasil panen ini bisa diolah menjadi produk yang lebih awet sekaligus memiliki nilai tambah," ujar Rohani, pada Senin (10/8/2026).
"Kami berpikir bagaimana hasil panen ini bisa diolah menjadi produk yang lebih awet sekaligus memiliki nilai tambah," ujar Rohani, pada Senin (10/8/2026).
Dari persoalan itu, tanaman yang sebelumnya hanya berakhir di pasar sayuran mulai diberi nilai ekonomi baru. Seledri, lidah buaya, dan bidara dipilih sebagai bahan utama pengembangan sampo herbal yang kini masih dalam tahap penyempurnaan.
Rohani menuturkan, pengembangan produk tersebut dilakukan setelah dirinya memperoleh pengalaman melalui pelatihan pembuatan produk herbal. Bahan tanaman diolah melalui proses perebusan dan penghalusan dengan penggunaan bahan herbal yang disebut mencapai hampir 50 persen.
Produk tersebut saat ini dipasarkan secara terbatas dengan harga promosi Rp15 ribu per botol. Sebelum dipasarkan lebih luas, kelompok masih melakukan berbagai uji coba kepada anggota dan sejumlah pengguna untuk mendapatkan masukan terkait formulasi dan kualitas produk.
Baca Juga: Partisipasi PAUD Kota Pekalongan Capai 100 Persen
"Insyaallah lebih aman karena tidak mengandung silikon maupun paraben. Kami menggunakan tanaman yang memang memiliki manfaat untuk kesehatan rambut dan kulit kepala," jelasnya.
"Insyaallah lebih aman karena tidak mengandung silikon maupun paraben. Kami menggunakan tanaman yang memang memiliki manfaat untuk kesehatan rambut dan kulit kepala," jelasnya.
Tak berhenti pada sampo, Urban Farming Nawasena juga menyiapkan sejumlah produk turunan lain. Di antaranya gel lidah buaya dan minyak herbal yang diharapkan dapat memperluas pemanfaatan tanaman hasil budidaya sekaligus menciptakan sumber pendapatan baru bagi anggota.
Kelompok yang beranggotakan 12 orang tersebut melihat pengolahan hasil panen sebagai jalan untuk mengatasi persoalan klasik pertanian skala masyarakat, yakni ketika produksi melimpah tetapi harga jual justru rendah. Dengan mengubah bahan mentah menjadi produk olahan, nilai ekonomi tanaman diharapkan dapat meningkat.
Lurah Pasirkratonkramat, Dwi Indah Widyastuti, mengapresiasi inovasi yang dikembangkan masyarakat tersebut. Menurutnya, kreativitas mengolah hasil urban farming menjadi produk turunan menjadi langkah positif untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi warga.
Baca Juga: Gedung Baru Pemkot Pekalongan Capai 60 Persen
Namun, ia menilai pengembangan produk masih membutuhkan dukungan lintas sektor. Pendampingan terkait penelitian, pengujian mutu, keamanan produk, perizinan, hingga pemasaran dinilai penting agar produk masyarakat dapat berkembang dan memiliki daya saing.
Namun, ia menilai pengembangan produk masih membutuhkan dukungan lintas sektor. Pendampingan terkait penelitian, pengujian mutu, keamanan produk, perizinan, hingga pemasaran dinilai penting agar produk masyarakat dapat berkembang dan memiliki daya saing.
"Kami berharap ada dukungan dari dinas terkait maupun lembaga yang berwenang untuk memberikan pendampingan, penelitian, hingga membantu proses perizinan sehingga produk yang dihasilkan memenuhi standar dan dapat dipasarkan lebih luas," tandasnya.
Di sisi lain, pengembangan urban farming di wilayah tersebut juga menjadi bentuk adaptasi masyarakat terhadap kondisi lingkungan. Kelurahan Pasirkratonkramat memiliki potensi pemberdayaan mulai dari kelompok tani, peternakan hingga pertanian perkotaan, tetapi aktivitas budidaya menghadapi tantangan genangan dan banjir yang dapat mengganggu produktivitas.
Masyarakat kemudian memanfaatkan konstruksi sederhana berbahan bambu untuk menempatkan tanaman di area yang rawan tergenang. Ke depan, pengembangan greenhouse juga disiapkan untuk membuat kegiatan budidaya lebih terlindungi dan berkelanjutan.
Dwi berharap inovasi berbasis tanaman lokal tidak berhenti sebagai produk kelompok. Kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan dunia usaha dinilai diperlukan agar hasil urban farming dapat memiliki rantai nilai yang lebih panjang, dari budidaya, pengolahan, legalisasi, hingga pemasaran.(han)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto Sumber : metropekalongan.com