METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Lahan pekarangan yang tidak seberapa luas ternyata bisa melahirkan cerita berbeda. Di Krapyak Lor, Kota Pekalongan, bunga telang, rosella, pandan hingga tanaman kebun lainnya tidak sekadar tumbuh menghijau, tetapi mulai disulap menjadi minuman bernilai ekonomi melalui artisan botanical tea.
Inovasi tersebut lahir dari kolaborasi Rendjana & Co. dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Aisyiyah Krapyak Lor.
Keterbatasan lahan urban farming justru menjadi pemantik untuk mencari cara agar hasil kebun memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Bunga telang menjadi salah satu bahan yang menarik perhatian. Tanaman yang kerap tumbuh di pekarangan dan dianggap biasa itu kemudian dikembangkan menjadi bahan botanical tea dengan berbagai perpaduan rasa.
Owner Rendjana & Co., Muhammad Nur Zamsi Hasan, mengatakan kolaborasi bermula dari melihat potensi hasil kebun KWT yang masih bisa dikembangkan lebih jauh, terutama melalui pengolahan pascapanen.
Baca Juga: Bayi Terlantar Pekalongan Disiapkan Dirujuk ke Panti di Salatiga
Baca Juga: UMKM Pekalongan Go Digital, Pasar Kini di Genggaman
“Renjana & Co. merupakan produsen artisan botanical tea. Kami memanfaatkan bahan dari kebun sendiri dan berkolaborasi dengan KWT Aisyiyah.
Telang yang selama ini sering dianggap tanaman liar ternyata memiliki banyak manfaat, salah satunya sebagai pewarna alami,” ujarnya, Jumat (14/8/2026).
Dari sana, telang tidak lagi berhenti sebagai hasil kebun. Bahan tersebut diracik melalui teknik blending bersama lemon, sementara rosella dipadukan dengan berbagai bahan botanikal lain untuk menciptakan karakter rasa yang berbeda.
Bagi Zamsi, pengolahan menjadi kunci ketika lahan produksi terbatas. Hasil kebun yang sedikit tetap bisa memberikan nilai ekonomi lebih besar apabila tidak langsung dijual sebagai komoditas mentah.
“Kalau hanya menghasilkan satu komoditas, nilai tambahnya tentu terbatas. Maka kami mencoba melakukan blending, sehingga hasil kebun tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai jual dan berpotensi dipasarkan lebih luas,” katanya.
Baca Juga: Diskon 17 Persen, Ini Daftar Kereta di Daop 4 Semarang
Baca Juga: Saring Informasi Sebelum Bereaksi, Polres Pekalongan Kota Bekali Pelajar Paham AI
Eksperimen rasa pun dilakukan secara bertahap. Rendjana & Co. menjalankan proses riset dan pengembangan dengan melibatkan konsumen terbatas untuk mendapatkan masukan mengenai komposisi dan cita rasa.
Dari proses tersebut, sekitar 15 varian telah dikembangkan. Produk-produk itu nantinya akan dirilis secara bertahap melalui sejumlah kanal penjualan.
Bukan hanya soal rasa, proses produksi juga memperhatikan bagaimana bahan dari kebun diperlakukan sejak awal. Bunga telang dan rosella dipanen, kemudian dikeringkan menggunakan sinar matahari.
Setelah kadar airnya berkurang, bahan dikumpulkan dan dicacah. Selanjutnya, setiap bahan diracik sesuai formulasi sebelum dikemas menjadi produk siap seduh.
Baca Juga: Antrian IGD Jadi Sorotan, RSUD Bendan Tambah 114 Bed
Baca Juga: Panen Keempat, 56 Hektare Lahan Bekas Genangan Air Rob, Kini Berhasil Produktif
Konsep yang ditawarkan pun dibuat sederhana tetapi menarik. Satu kemasan artisan botanical tea berisi tujuh tea bag yang dikemas dengan konsep “7 Day Tea”.
Untuk varian premium, harganya sekitar Rp25.000 per kemasan. Sedangkan varian basic diproyeksikan berada di kisaran Rp20.000.
Di balik produk tersebut, ada aktivitas urban farming yang dijalankan KWT Aisyiyah Krapyak Lor. Ketua KWT Aisyiyah Krapyak Lor, Nur Rahmah, mengatakan kelompok tersebut berdiri pada 4 Oktober 2024 dengan membawa semangat Gerakan Lumbung Hidup Aisyiyah.
Konsepnya sederhana, yakni memanfaatkan lahan yang tersedia di sekitar rumah untuk menghasilkan berbagai tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan sekaligus memiliki potensi ekonomi.
“Di kebun kami ada berbagai tanaman, mulai dari sayuran, buah-buahan, ketela, singkong, talas, hingga tanaman yang dapat diolah menjadi minuman seperti telang, rosella, serai, dan pandan,” jelasnya.
Baca Juga: Parah!! 1.900 Pegawai Kemensos Terindikasi Terlibat Judol
Baca Juga: Polres Pemalang Ajari Pelajar Gunakan AI Secara Bijak
Kebun yang terbatas tidak membuat aktivitas bercocok tanam berhenti. Justru keragaman tanaman menjadi modal untuk dikembangkan menjadi berbagai produk.
KWT Aisyiyah Krapyak Lor sebelumnya mencatat prestasi dengan meraih juara pertama Gerakan Lumbung Hidup Aisyiyah tingkat Kota Pekalongan. Prestasi tersebut berlanjut dengan raihan juara ketiga di tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Namun, bagi Nur Rahmah, capaian tersebut bukan menjadi garis akhir. Tantangan berikutnya adalah bagaimana hasil kebun dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih nyata bagi anggota kelompok.
“Dari kebun sebenarnya sudah banyak hasilnya, tetapi kami membutuhkan inovasi agar hasil tersebut memiliki nilai jual lebih. Dari situlah kemudian kami berkolaborasi dengan Renjana & Co. untuk mengembangkan telang menjadi botanical tea,” ungkapnya.
Baca Juga: Miris, Tantangan Hafalan Al Quran Berhadiah Miras di Festival Musik Jakarta
Baca Juga: Kuliner dan Hiburan Jadi Andalan Pajak Kota Pekalongan
Kolaborasi itu kemudian diarahkan pada konsep kebun inti-plasma. Kebun milik KWT menjadi kebun inti, sedangkan anggota kelompok didorong menanam bunga telang di pekarangan rumah masing-masing.
Dengan pola tersebut, produksi tidak hanya bergantung pada satu lahan. Ketika tanaman telang berkembang di berbagai pekarangan anggota, hasil panennya dapat diserap untuk mendukung kebutuhan bahan baku botanical tea.
Sosialisasi penanaman telang kepada anggota KWT telah dilakukan pada 2 Agustus 2026. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas sumber bahan baku sekaligus menjaga keberlanjutan produksi.
Dari kebun yang terbatas, sebuah gagasan besar sedang diracik. Bunga telang dan rosella yang tumbuh di pekarangan tidak lagi sekadar menjadi tanaman penghias atau hasil panen rumah tangga. Melalui kreativitas, teknik blending, pengemasan dan pengembangan pasar, hasil kebun itu menjelma menjadi artisan botanical tea dengan beragam varian rasa.
Bagi KWT Aisyiyah Krapyak Lor, model ini juga membuka peluang baru. Pekarangan rumah yang sebelumnya hanya menjadi ruang hijau dapat berubah menjadi bagian dari rantai produksi.
Sementara bagi Rendjana & Co., keberadaan bahan baku lokal memberi ruang untuk terus bereksperimen dengan rasa dan komposisi. Telang, rosella, pandan, serai dan tanaman lainnya dapat dikembangkan menjadi minuman dengan karakter yang berbeda.
Pendampingan dan dukungan sejumlah pihak, termasuk Dinas Pertanian dan Pangan serta mitra lainnya, turut menjadi bagian dalam perjalanan pengembangan hasil urban farming tersebut.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com