METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Potensi besar Mata Air Rogoselo menjadi perhatian serius Perumda Tirtayasa Kota Pekalongan. Sumber air yang memiliki debit sekitar 60 liter per detik tersebut dinilai masih belum mampu dimanfaatkan secara optimal karena terdapat selisih debit yang diperkirakan mencapai 24 liter per detik di sepanjang jalur transmisi.
Kondisi itu memunculkan keprihatinan Direktur Perumda Tirtayasa Kota Pekalongan Muhammad Affan. Ia mendorong agar jalur Mata Air Rogoselo kembali dioptimalkan sehingga potensi air yang selama ini belum tersalurkan dapat dikembalikan ke sistem pelayanan pelanggan.
Melalui Ketua Tim Optimalisasi Jalur Mata Air Rogoselo, M. Yan Eka Adiptya, menyampaikan bahwa pembenahan tersebut bukan semata mengejar tambahan debit. Lebih jauh, langkah itu diarahkan untuk mengembalikan fungsi jalur transmisi agar air dari sumber dapat mengalir secara maksimal hingga Menara Kantor Perumda Tirtayasa.
“Mata Air Rogoselo memiliki nilai historis dan strategis bagi Perumda Tirtayasa. Bahkan, sumber ini dapat dikatakan sebagai salah satu landmark sumber air Perumda Tirtayasa Kota Pekalongan,” kata Adip panggilan akrabnya, Kamis (20/8/2026).
Baca Juga: Dokter RSUD Bendan Juara 1 Medis Tanggap Bencana
Menurut dia, berdasarkan data 2026, debit sumber Mata Air Rogoselo berada di kisaran 60 liter per detik. Namun, hasil pengamatan awal pada jalur transmisi menunjukkan adanya selisih debit sekitar 24 liter per detik antara sumber dengan debit yang dapat dimanfaatkan pada titik tertentu.
Menurut dia, berdasarkan data 2026, debit sumber Mata Air Rogoselo berada di kisaran 60 liter per detik. Namun, hasil pengamatan awal pada jalur transmisi menunjukkan adanya selisih debit sekitar 24 liter per detik antara sumber dengan debit yang dapat dimanfaatkan pada titik tertentu.
Potensi kehilangan tersebut kini menjadi fokus penelusuran tim. Pemeriksaan dilakukan secara bertahap menggunakan handheld flow meter untuk mengetahui perubahan debit di sejumlah titik sepanjang jalur.
“Target kami adalah mengembalikan potensi sekitar 24 liter per detik tersebut agar dapat dimanfaatkan secara optimal,” ujarnya.
Jika potensi tersebut berhasil dikembalikan, manfaatnya diproyeksikan dapat dirasakan pelanggan di sejumlah wilayah pelayanan, antara lain Buaran Kradenan, Pringlangu, Medono, Bendan hingga Kraton.
Optimalisasi debit juga diharapkan membuat sistem pelayanan air bersih lebih stabil. Dengan pengaturan tekanan dan distribusi yang lebih baik, air diharapkan dapat mengalir lebih merata hingga wilayah pelayanan yang berada lebih jauh dari sumber.
Namun, Perumda Tirtayasa memilih tidak terburu buru melakukan pembangunan infrastruktur berskala besar. Tahap awal difokuskan pada pemetaan dan identifikasi titik persoalan berdasarkan data lapangan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah mengembalikan fungsi BPT atau Bak Pelepas Tekan. Bangunan tersebut berperan mengendalikan tekanan air pada jaringan transmisi, terutama pada sistem yang memanfaatkan aliran gravitasi dari wilayah dengan elevasi lebih tinggi menuju kawasan yang lebih rendah.
Optimalisasi debit juga diharapkan membuat sistem pelayanan air bersih lebih stabil. Dengan pengaturan tekanan dan distribusi yang lebih baik, air diharapkan dapat mengalir lebih merata hingga wilayah pelayanan yang berada lebih jauh dari sumber.
Namun, Perumda Tirtayasa memilih tidak terburu buru melakukan pembangunan infrastruktur berskala besar. Tahap awal difokuskan pada pemetaan dan identifikasi titik persoalan berdasarkan data lapangan.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah mengembalikan fungsi BPT atau Bak Pelepas Tekan. Bangunan tersebut berperan mengendalikan tekanan air pada jaringan transmisi, terutama pada sistem yang memanfaatkan aliran gravitasi dari wilayah dengan elevasi lebih tinggi menuju kawasan yang lebih rendah.
Selain itu, Perumda Tirtayasa berencana menambah sejumlah titik manhole inspeksi pada jalur transmisi. Fasilitas tersebut akan memudahkan pemeriksaan jaringan, pengukuran tekanan dan debit, sekaligus mempercepat penanganan ketika terjadi gangguan.
Dari sisi kualitas, Mata Air Rogoselo juga menjadi sumber yang terus dipantau. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan, kualitas air disebut dapat memenuhi parameter persyaratan sesuai Permenkes Nomor 2 Tahun 2023, dengan pemantauan tetap dilakukan secara berkala.
Upaya menjaga sumber air tidak berhenti pada aspek teknis. Perumda Tirtayasa juga menaruh perhatian terhadap kondisi lingkungan di sekitar mata air dan daerah tangkapan air.
Penghijauan serta penanaman vegetasi menjadi bagian dari upaya menjaga kelembapan tanah dan membantu mempertahankan cadangan air. Dengan demikian, keberlanjutan Mata Air Rogoselo diharapkan tidak hanya ditopang jaringan perpipaan, tetapi juga ekosistem di kawasan sumber air.
Perawatan jaringan pun diarahkan menggunakan prinsip preventive maintenance. Pemeriksaan rutin akan dilakukan terhadap sumber air, pipa transmisi, BPT, manhole serta titik titik yang berpotensi mengalami gangguan.
Data hasil pemeriksaan nantinya dapat menjadi rekam historis kondisi jalur Rogoselo. Dengan basis data tersebut, perubahan debit maupun tekanan dapat lebih cepat dikenali sehingga tindakan teknis bisa dilakukan sebelum gangguan berkembang menjadi persoalan pelayanan.
Risiko longsor dan pergerakan tanah juga menjadi perhatian karena jalur transmisi melewati kawasan dengan kondisi geografis tertentu. Monitoring lapangan akan terus dilakukan, terutama pada titik yang dinilai memiliki potensi mengganggu jaringan pipa.
Jika potensi tambahan sekitar 24 liter per detik berhasil dikembalikan, kapasitas tersebut diproyeksikan berpotensi mendukung pelayanan hingga sekitar 1.500 sambungan rumah. Meski demikian, angka tersebut masih berupa proyeksi dan penambahan pelanggan tetap harus memperhatikan kemampuan jaringan distribusi serta kebutuhan air.
Dari sisi pelayanan, optimalisasi Rogoselo diharapkan mampu memperbaiki tekanan dan kontinuitas aliran. Sistem gravitasi yang menjadi bagian dari jalur tersebut juga memiliki keunggulan karena tidak sepenuhnya bergantung pada energi listrik dan pompa.
Untuk jangka pendek, hingga Agustus 2026, Perumda Tirtayasa masih berkonsentrasi pada pengumpulan data serta pemetaan kondisi jalur Mata Air Rogoselo. Tahap berikutnya diarahkan pada penanganan titik titik yang telah teridentifikasi.
Memasuki awal 2027, Perumda Tirtayasa menargetkan hasil optimalisasi mulai direalisasikan secara bertahap. Sasaran utamanya adalah mengembalikan potensi debit yang selama ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.
Dalam jangka panjang, Mata Air Rogoselo diharapkan tidak hanya menjadi sumber air baku dengan potensi debit besar, tetapi juga menjadi sumber air yang dikelola secara berkelanjutan.
Dengan jaringan transmisi yang lebih terkontrol, pemeliharaan yang terencana serta perlindungan kawasan sumber air, keprihatinan terhadap potensi air yang belum termanfaatkan diharapkan berubah menjadi peluang untuk memperkuat pelayanan air bersih bagi masyarakat Kota Pekalongan.(han)
Sumber : metropekalongan.com