METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Membatik bukan sekedar keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pemerintah Kota Pekalongan kini mendorong para pembatik memiliki pengakuan kompetensi melalui sertifikasi agar profesi tersebut memiliki nilai tambah sekaligus daya saing yang lebih kuat.
Langkah itu menjadi perhatian Pemkot Pekalongan karena jumlah pembatik di Kota Pekalongan mencapai sekitar 10 ribu orang. Mereka menjadi bagian penting dari ekosistem batik sekaligus kekuatan ekonomi kreatif yang menjaga batik Pekalongan tetap hidup.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (Dindagkop-UKM) Kota Pekalongan, Wismo Aditiyo, mengatakan para pembatik tersebut berada dalam ekosistem sekitar 48 ribu pelaku UMKM di Kota Pekalongan.
“Kurang lebih ada sekitar 10 ribu pengrajin batik, yang terdiri dari berbagai komponen, baik dari sisi pengrajin maupun UMKM yang berkaitan dengan batik,” ujar Wismo. Jumat (2/10/2026).
Menurut Wismo, Pemkot Pekalongan terus berupaya meningkatkan kapasitas para perajin. Dukungan diberikan melalui berbagai program, mulai dari pengembangan kemampuan hingga membuka akses promosi dan pemasaran.
Baca Juga: Kreakota 2026 Dorong Batik Jadi Penopang Ekonomi Kota Pekalongan
Baca Juga: Dari Keraton hingga Jadi Seragam Kerja, Ini Sejarah Batik
Para pelaku usaha binaan Dekranasda Kota Pekalongan juga diberi kesempatan mengikuti berbagai pameran, baik di tingkat lokal maupun nasional. Ruang promosi tersebut menjadi salah satu cara mempertemukan produk batik Pekalongan dengan pasar yang lebih luas.
Tak berhenti pada pameran, Pemkot Pekalongan juga tengah membangun gedung galeri Dekranasda. Bangunan yang sebelumnya merupakan Kantor Eks Batik TV itu direncanakan menjadi outlet bersama bagi para perajin batik dan pelaku kerajinan lainnya.
“Pada tahun ini kami juga sedang membangun gedung galeri Dekranasda, yang sebelumnya merupakan Kantor eks Batik TV. Nantinya bisa digunakan sebagai outlet bersama bagi teman-teman pengrajin yang ada di Kota Pekalongan,” jelas Wismo.
Jika galeri tersebut nantinya berfungsi sebagai outlet bersama, para perajin memiliki ruang tambahan untuk mengenalkan produk tanpa harus mengandalkan promosi secara individual.
Baca Juga: Dulu Batik Hanya untuk Keraton, Begini Sejarahnya
Baca Juga: Sempat Diklaim Cina dan Malaysia, IShowSpeed Temukan Fakta, Batik Asli Indonesia
Di sisi lain, Pemkot Pekalongan juga melihat peningkatan keterampilan sebagai bagian penting dari penguatan ekosistem batik. Pelatihan dan pembinaan diberikan melalui program pemerintah maupun kerja sama dengan berbagai pihak.
Kolaborasi antara Pemkot Pekalongan dengan pihak swasta dan Rumah BUMN, termasuk Rumah BUMN Telkom serta Rumah BUMN BRI, diarahkan untuk memberikan pendampingan sesuai kebutuhan para pelaku usaha.
Bagi Wismo, peningkatan kapasitas tersebut penting agar pembatik dan pelaku UMKM tidak hanya mampu menghasilkan produk, tetapi juga semakin siap menghadapi kebutuhan industri dan pasar yang terus berubah.
Salah satu langkah yang kini terus didorong adalah sertifikasi kompetensi pembatik. Sertifikasi tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap kemampuan seseorang dalam menjalankan pekerjaan sebagai pembatik melalui proses sertifikasi oleh lembaga yang berwenang.
Baca Juga: Siapa yang Ajukan Batik Indonesia ke UNESCO?
Baca Juga: Kenapa 2 Oktober Diperingati sebagai Hari Batik?
“Belum semua pembatik tersertifikasi. Namun, ini menjadi salah satu upaya kita agar mereka memiliki added value atau nilai tambah. Dengan bekerja sebagai pembatik, mereka juga memiliki lisensi sebagai bentuk pengakuan terhadap kemampuan profesinya,” ungkap Wismo.
Bagi pembatik, sertifikasi dapat menjadi penanda bahwa keterampilan yang dimiliki tidak hanya diperoleh dari pengalaman bekerja, tetapi juga mendapatkan pengakuan kompetensi melalui mekanisme sertifikasi.
Upaya tersebut sekaligus menunjukkan arah pengembangan industri batik Pekalongan. Pelestarian tidak hanya dilakukan dengan menjaga motif dan teknik membatik, tetapi juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berada di balik setiap lembar kain batik.
Dengan jumlah pembatik yang mencapai ribuan orang, peningkatan kompetensi diharapkan dapat memperkuat ekosistem batik dari hulu hingga hilir. Pembatik semakin profesional, pelaku usaha memiliki akses pasar lebih luas, sementara produk batik Pekalongan semakin mampu bersaing.
Pemkot Pekalongan berharap pembatik tidak hanya menjadi penjaga tradisi, tetapi juga memiliki posisi yang semakin kuat sebagai tenaga profesional dalam industri batik.(han)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : metropekalongan.com