METROPEKALONGAN.COM, Batang – Tradisi sakral warga Desa Gringsing, Kabupaten Batang, dalam melepas keberangkatan calon jamaah haji akhirnya kembali digelar.
Setelah sempat vakum selama beberapa tahun akibat pandemi Covid-19. Kegiatan ini diadakan di Masjid Al-A’la Gringsing, Rabu dini hari (07/05/2025), pukul 03.00 WIB.
Acara ini mendapatkan sambutan hangat dari ratusan warga, meskipun dilaksanakan di waktu yang sangat pagi.
Kebangkitan kembali tradisi ini merupakan hasil musyawarah antara takmir masjid, calon jamaah haji, dan masyarakat, yang merasa rindu dengan momen religius penuh kekhidmatan tersebut.
Menurut Aghus Jamaludin Kharis, anggota takmir Masjid Al-A’la, tahun ini terdapat enam calon jamaah haji dari Desa Gringsing dan satu dari Desa Kebondalem.
Mereka tergabung dalam kloter 26 dan akan berangkat melalui KBIH As-Salam.
Nama-nama jamaah yang dilepas antara lain, Iwan Julianto, Ike Novianti, Sutrisno Sari, Mugi Isniati, Suginem, Kartini, dan Tutik dari Kebondalem.
Dalam acara tersebut, Kepala Desa Gringsing, Murtadho, dan Ketua Takmir Masjid Al-A’la, Murtosidin, secara simbolis melepas keberangkatan calon jamaah haji.
"Selain menjadi tamu Allah, jemaah haji membawa identitas bangsa. Jaga sikap, etika, dan nama baik negara," pesan Murtadho.
Sementara itu, KH Solikhin Syihab, salah satu tokoh masyarakat Gringsing, turut memberikan wejangan keagamaan.
"Ibadah haji akan penuh ujian. Kesabaran adalah kunci agar ibadah kita diterima. Jangan mudah emosi meski berdesakan di Tanah Suci," tuturnya dengan penuh hikmah.
Setelah berpamitan kepada keluarga dan masyarakat, rombongan calon jamaah haji diberangkatkan menuju Masjid YAMP di Kutosari untuk salat Subuh dan berkumpul dengan rombongan dari wilayah lain.
Tepat pukul 06.00 WIB, pelepasan resmi dilakukan oleh Muspika Kecamatan Gringsing, menandai keberangkatan para calon tamu Allah ke Asrama Haji Donohudan.
Kembalinya tradisi pelepasan haji ini tak hanya menjadi simbol kebangkitan spiritual masyarakat, namun juga mempererat kebersamaan warga desa.
Momen sakral yang telah menjadi bagian dari budaya religius mereka sejak puluhan tahun lalu. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla