METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Bagi sebagian orang, berhaji adalah puncak perjalanan spiritual seumur hidup.
Namun bagi 239 jemaah asal Kota Pekalongan, ibadah di Tanah Suci tahun ini tidak hanya soal kesiapan rohani, tapi juga perjuangan menjaga raga yang rentan diterpa gangguan kesehatan.
Mereka adalah bagian dari kelompok Risiko Tinggi (Risti). Yakni, jemaah dengan kondisi fisik yang menuntut pengawasan ketat, terutama mereka yang menderita penyakit kronis seperti hipertensi, yang menjadi momok utama sepanjang ibadah berlangsung.
Baca Juga: Gedung Baru PMI Pekalongan jadi Investasi Besar untuk Layanan Kemanusiaan
Beruntung, kehadiran Petugas Haji Daerah (PHD) Kota Pekalongan menjadi tumpuan harapan.
Di tengah jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia, mereka hadir bak penjaga tak terlihat yang memastikan setiap jemaah tetap sehat.
“Dari total 372 jamaah haji Kota Pekalongan, 239 di antaranya masuk kategori risti, dengan 73 orang berstatus merah (risiko tinggi),” tutur Mahbub Syauqi, salah satu PHD Kota Pekalongan, dalam wawancara melalui sambungan telepon, Jumat 23 Mei 2025.
Baca Juga: Warga Soko Duwet Antusias Ikuti Pelatihan Donat dan Tahu Fantasi Kreatif
Sejak menginjakkan kaki di Tanah Suci, para jemaah ini mendapatkan perhatian ekstra.
Petugas tidak hanya berperan sebagai pendamping medis, tetapi juga menjadi teman berbagi keluh kesah. Terutama bagi mereka yang kelelahan atau tertekan secara mental.
Menurut Mahbub, hipertensi menjadi keluhan kesehatan yang paling dominan.
Baca Juga: Warga Sapuro Kebulen Kompak Bantu TNI Bangun Jalan Lewat Program TMMD
Tekanan darah tinggi dalam kondisi cuaca ekstrem, mobilitas tinggi, dan stres emosional selama berhaji, bisa berakhir pada komplikasi serius jika tidak ditangani dengan cepat.
“Kami menekankan pentingnya deteksi dini dan pendampingan ketat,” ujarnya.
Untuk memastikan kesehatan jemaah haji, terutama mereka yang masuk kategori risiko tinggi, PHD Kota Pekalongan menerapkan sepuluh bentuk layanan intensif selama ibadah haji berlangsung.
Baca Juga: DSA Hadir di RSUD Bendan, Wali Kota HA Afzan Arslan Djunaid Cegah Stroke Sebelum Terlambat
Yang pertama adalah pelayanan Pos Kesehatan Kloter, di mana petugas menyediakan pemeriksaan dan tindakan medis ringan secara langsung di posko kloter.
Hal ini bertujuan agar jemaah mudah mengakses layanan dasar tanpa perlu menempuh jarak jauh.
Kedua, dilakukan kunjungan rutin ke kamar jemaah, terutama bagi mereka yang tidak mampu mendatangi pos kesehatan.
Baca Juga: HA Afzan Arslan Djunaid dan Inggit Rayakan 21 Tahun Pernikahan, Bagikan Tips untuk Keluarga Muda
Kunjungan ini penting untuk menjaga kondisi fisik dan psikologis jamaah secara lebih pribadi.
Ketiga, tim PHD juga aktif memberikan edukasi kesehatan, baik dalam bentuk penyuluhan langsung maupun media leaflet, agar jamaah lebih sadar pentingnya menjaga kebugaran selama beribadah di iklim yang berbeda.
Layanan keempat berupa konsultasi kesehatan yang memberi ruang bagi jemaah untuk bertanya atau mengeluhkan kondisi kesehatannya secara langsung kepada petugas.
Baca Juga: Honorer Lulusan SD-SMP Dapat Kesempatan Ikut Selkom PPPK Tahap 2 Kota Pekalongan
Sementara itu, pelayanan kelima adalah pendampingan rujukan bagi jamaah yang membutuhkan penanganan medis lanjutan di fasilitas kesehatan Arab Saudi, agar proses berjalan lancar dan aman.
Selain itu, disediakan juga pos kesehatan satelit, yakni fasilitas kesehatan tambahan yang ditempatkan di lokasi strategis di luar hotel utama.
Hal ini dimaksudkan agar petugas dapat menjangkau jemaah yang tinggal di hotel pendukung atau berbeda dari pusat kloter.
Baca Juga: Balgis Tinjau Tes PPPK, Pastikan Seleksi Objektif dan Beri Semangat Peserta
Tak kalah penting, petugas juga melakukan pengawasan ketat terhadap makanan katering.
Mereka menggabungkan kualitas dan keamanan pangan untuk mencegah penyakit akibat konsumsi makanan yang tidak layak.
Selain itu, memastikan terdapat pelayanan penyediaan obat, guna ketersediaan obat-obatan yang dibutuhkan jemaah, termasuk obat rutin bagi penderita penyakit tertentu.
PHD juga melakukan kunjungan ke hotel non-utama yang dilakukan demi menjangkau seluruh jamaah tanpa kecuali, memastikan mereka memperoleh layanan kesehatan yang sama baik.
Terakhir, petugas ikut mendampingi jemaah dalam kegiatan umrah dan city tour ke tempat-tempat bersejarah, menjaga mereka tetap aman dan nyaman saat menjalankan ibadah maupun aktivitas di luar hotel.
Menurut Mahbub, pendampingan tidak hanya menyasar sisi medis, tapi juga kenyamanan emosional jemaah.
Baca Juga: Jelang Puncak Haji, Jemaah Haji Diimbau Batasi Aktivitas Fisik dan Umrah Sunah
Banyak di antara mereka yang cemas, panik, atau terlalu lelah hingga lupa menjaga diri. PHD hadir sebagai penyeimbang, menenangkan sekaligus mengarahkan.
“Kami ingin semua jamaah, terutama yang risti, bisa menyelesaikan rangkaian ibadah dengan baik dan pulang dalam kondisi sehat,” ujarnya dengan nada harap. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla