METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Bagi H. Rindiyantono, S.Pd., M.Pd.I., jabatan bukan tujuan akhir perjalanan karier. Pria yang akrab disapa Anton itu memandang posisi sebagai Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kota Pekalongan sebagai amanah untuk melanjutkan pengabdian kepada masyarakat.
Perjalanan karier Anton tidak berlangsung secara instan. Ia mengawali pengabdian sebagai staf di Kementerian Agama Kota Pekalongan, kemudian bertugas di pelayanan kehumasan hingga dipercaya menjadi Kepala Seksi Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU).
Pengalaman dari bawah tersebut menjadi bekal penting ketika Kemenhaj berdiri sebagai kementerian tersendiri. Anton kemudian dipercaya menjadi Kepala Kantor Kemenhaj Kota Pekalongan.
"Perjalanan karier saya terbingkai sebagai perjalanan pengabdian, bukan pencarian jabatan. Saya ditempa, bukan instan," kata Anton.
Selama menjalankan tugas, ia belajar bahwa pelayanan kepada masyarakat tidak cukup hanya mengandalkan regulasi dan administrasi. Setiap berkas, menurutnya, menyangkut amanah dan harapan seseorang.
"Administrasi itu bukan sekadar kertas, tetapi amanah orang. Jamaah haji bukan angka. Mereka adalah tamu Allah yang menitipkan harapan besar kepada kita," ujarnya.
Kini, sebagai kepala kantor pertama Kemenhaj Kota Pekalongan, Anton menghadapi tantangan membangun fondasi lembaga baru. Dengan jumlah SDM yang masih terbatas, ia memilih membangun pola kerja kolaboratif.
Baca Juga: Perempuan Bawa Mobil, Tipu UMKM Pakai QRIS Palsu Hingga Jutaan
Kemenhaj menggandeng Pemerintah Kota Pekalongan dan KBIHU dalam berbagai kegiatan, termasuk pembinaan dan manasik jamaah. Salah satu bentuk sinergi tersebut diwujudkan melalui manasik terintegrasi.
"Kami harus mengubah mindset dari birokrasi tertutup menjadi birokrasi kolaboratif. Tidak mungkin kami bekerja sendiri," katanya.
Kemenhaj menggandeng Pemerintah Kota Pekalongan dan KBIHU dalam berbagai kegiatan, termasuk pembinaan dan manasik jamaah. Salah satu bentuk sinergi tersebut diwujudkan melalui manasik terintegrasi.
"Kami harus mengubah mindset dari birokrasi tertutup menjadi birokrasi kolaboratif. Tidak mungkin kami bekerja sendiri," katanya.
Dalam pelayanan pendaftaran haji, Anton mendorong pelayanan yang sederhana, cepat, dan transparan melalui PLHUT. Setelah melakukan setoran Bipih melalui Bank Penerima Setoran, proses administrasi berikutnya diarahkan agar dapat dilakukan secara terpadu, mulai dari foto hingga input data Siskohat.
Langkah tersebut menjadi penting karena jumlah calon jemaah haji Kota Pekalongan yang masuk daftar tunggu mencapai sekitar 8.950 orang.
Bagi Anton, panjangnya masa tunggu membuat kepastian informasi dan kenyamanan pelayanan menjadi kebutuhan utama masyarakat. "Yang rumit harus dibuat mudah, yang jauh menjadi dekat, dan yang menunggu lama tetap merasa ditemani," tuturnya.
Latar belakang pendidikan Anton sebagai S.Pd. dan M.Pd.I. turut membentuk cara pandangnya dalam memberikan pembinaan kepada calon jemaah.
Ia menyadari jemaah memiliki latar belakang, usia, pengalaman, dan kemampuan yang berbeda. Pada 2026, jemaah Kota Pekalongan yang berangkat berjumlah 344 orang, dengan rentang usia 15 hingga 85 tahun.
Karena itu, metode pembinaan tidak bisa disamaratakan. Untuk jemaah usia produktif, materi dapat disampaikan melalui visual, video simulasi, maupun teknologi digital.
Sementara bagi lansia, pendekatan tatap muka, pengulangan materi, bahasa yang mudah dipahami, serta penggunaan alat peraga menjadi bagian penting. "Jangan sampai ada jamaah yang tertinggal karena malu bertanya," ujarnya.
Anton juga berusaha membuat materi manasik lebih dekat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan. Materi tentang kesabaran dalam antrean, misalnya, dapat dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari masyarakat.
Baca Juga: Jaksa Masuk Sekolah, Kejari Pekalongan Dukung BSAN
Baginya, manasik bukan sekadar membuat jemaah hafal doa dan rukun haji. Tujuan akhirnya adalah membuat mereka memahami makna ibadah sehingga mampu menjalankannya secara mandiri dan tenang di Tanah Suci.
Baginya, manasik bukan sekadar membuat jemaah hafal doa dan rukun haji. Tujuan akhirnya adalah membuat mereka memahami makna ibadah sehingga mampu menjalankannya secara mandiri dan tenang di Tanah Suci.
Pembinaan pun tidak berhenti pada kegiatan manasik yang dilakukan Kemenhaj. Anton mendorong KBIHU menjadi bagian dari pembinaan lanjutan agar proses belajar jemaah berlangsung secara berkelanjutan.
Di tengah kesibukan membangun lembaga baru, Anton tetap berusaha menjaga keseimbangan antara pekerjaan, keluarga, dan kehidupan pribadi.
Ia membagi waktunya berdasarkan prioritas. Pagi menjadi waktu untuk beribadah dan menata pikiran, siang untuk pelayanan masyarakat, sementara sore digunakan untuk evaluasi bersama tim.
Ia juga menerapkan prinsip delegasi.Sebagai pimpinan, Anton tidak ingin semua pekerjaan dikerjakan sendiri. "Tugas saya memastikan sistem berjalan, tim memahami SOP, dan koordinasi dengan KBIHU berjalan," katanya.
Untuk menjaga kebugaran, Anton memilih aktivitas sederhana berupa jalan kaki. Ia terkadang berjalan di sekitar lingkungan maupun Lapangan Mataram Kota Pekalongan sambil menyapa warga.
Menurutnya, aktivitas sederhana itu bukan hanya menjaga tubuh tetap bugar, tetapi juga membuatnya lebih dekat dengan kondisi masyarakat.
Untuk menjaga kejernihan pikiran, mengaji dan berbincang santai dengan tim menjadi kebiasaannya. Ia meyakini tidak semua solusi lahir dari ruang rapat.
Keluarga juga menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya. Di kantor ia berstatus sebagai kepala, tetapi di rumah ia kembali menjadi suami dan ayah.
Baca Juga: Warga Bantarbolang Krisis Air, Bidpropam Polda Jateng kirim 25.000 Liter
Anton berusaha menjaga waktu bersama keluarga dengan cara sederhana, seperti makan malam tanpa telepon genggam atau mengantar anak dan istri ketika akhir pekan. "Jabatan Kepala Kantor ini sementara, tetapi jabatan sebagai suami dan ayah itu sampai akhir hayat," ujarnya.
Anton berusaha menjaga waktu bersama keluarga dengan cara sederhana, seperti makan malam tanpa telepon genggam atau mengantar anak dan istri ketika akhir pekan. "Jabatan Kepala Kantor ini sementara, tetapi jabatan sebagai suami dan ayah itu sampai akhir hayat," ujarnya.
Sebagai kepala kantor pertama, Anton tidak ingin meninggalkan sekadar nama. Ia ingin membangun sistem yang tetap berjalan setelah masa kepemimpinannya berakhir.
Ada tiga hal yang menjadi arah pengabdiannya, yakni memperkuat fondasi kelembagaan, membangun pelayanan yang semakin ramah bagi lansia dan penyandang disabilitas, serta menciptakan ekosistem pembinaan jemaah secara berkelanjutan.
Ia berharap pelayanan haji di Kota Pekalongan tidak hanya dikenal cepat, tetapi juga manusiawi.
Konsep One Day Service, menurutnya, harus berkembang menjadi One Heart Service. Artinya, persoalan administrasi dapat diselesaikan dengan cepat, tetapi jemaah juga mendapatkan rasa nyaman dan ketenangan.
Anton juga ingin jemaah yang telah pulang dari Tanah Suci mampu menjadi penggerak kebaikan di lingkungan masing-masing.
"Saya tidak ingin dikenang sebagai kepala kantor yang membangun ini dan itu. Saya ingin ketika 10 tahun lagi pelayanan jemaah lansia semakin ramah, orang mengatakan bahwa ini adalah sistem yang dulu dirintis," katanya.
Untuk sekitar 8.950 calon jemaah yang masih berada dalam daftar tunggu, Anton memahami bahwa masa penantian bukan perkara mudah.
Dengan kuota sekitar 344 jemaah pada 2026, antrian keberangkatan masih panjang. Namun, ia mengajak masyarakat tidak hanya menghitung waktu tunggu, tetapi memanfaatkannya untuk mempersiapkan diri. "Jangan menunggu berangkat baru menjadi haji, tetapi jadilah haji sejak saat menunggu," ujarnya.
Ia mengajak calon jemaah memperbaiki ibadah dan hubungan dengan keluarga serta lingkungan, memperdalam ilmu tentang haji, dan menjaga kesehatan. Anton juga mengingatkan masyarakat agar memperoleh informasi langsung dari Kemenhaj dan tidak menggunakan jasa calo.
Bagi Anton, perjalanan menuju Tanah Suci sebenarnya telah dimulai sejak seseorang mendaftarkan diri. Masa tunggu adalah kesempatan untuk memantaskan diri sebelum panggilan itu tiba.
Bagi dirinya sendiri, amanah sebagai Kepala Kemenhaj Kota Pekalongan bukan tentang mengejar jabatan atau meninggalkan nama besar.
"Jabatan ini amanah, bukan warisan. Yang harus kita wariskan adalah kemudahan untuk umat, bukan nama untuk diri sendiri," tegasnya.(han)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto Sumber : metropekalongan.com