METROPEKALONGAN.COM, Semarang- Lini masa media sosial belakangan ini diramaikan oleh tren yang beredar di kalangan influencer dan netizen Indonesia. Bukan tentang review kafe estetik atau fashion gaul, melainkan keseruan—dan jerih payah—para calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) dan Kampung Nelayan Merah Putih. saat mengikuti pelatihan dengan gaya disiplin semi-militer.
Pelatihan yang biasanya diidentikkan dengan acara formal dan kaku ini mendadak viral setelah sejumlah selebgram ternama membagikan momen "penderitaan" sekaligus keseruan mereka selama digembleng di barak fisik.
Beberapa konten kreator terpantau membagikan pengalaman jatuh bangun mereka mengikuti kegiatan ini. Salah satunya adalah Gilang Herlambang melalui akun Instagram-nya @gilang.her. Dikenal dengan konten-kontennya yang selalu menghibur, Gilang mengunggah momen ketika dirinya harus rela bangun subuh, mengenakan seragam loreng komando, dan merayap di lumpur.
"kok bisa mereka rame, padahal dari segala aspek kita sudah menang," ujar gilang
"ya kan lokasi kita terpencil pak," sahut rekannya
"bukan terpencil hiss hiddengem, "emang bisnis kita yang belanja kan ytta"
"Di kita Harga juga lebih murah kalua ada persiden" , ucap Gilang dalam salah satu takarir (caption) unggahannya yang langsung dibanjiri komentar tertawa dari netizen.
Baca Juga: Tidak Hanya di Lahan Pertanian, KDMP di Blora Sasar Lahan Sekolah SDN 1 Jetis
Tak ketinggalan, kreator jenaka algilangi melalui akun @guss_icikk juga membagikan video reels yang berujung fyp (For Your Page). Dengan gaya khasnya yang kocak, ia memperlihatkan bagaimana ekspresi saat melayani pelanggan koperasi desa dengan ciri khas militer
Netizen pun dibuat terpingkal-pingkal melihat transformasi para pesohor internet ini yang biasanya tampil modis, kini harus rela belepotan tanah demi memahami arti disiplin dan kepemimpinan.
Bukan tanpa alasan, metode semi-militer ini diterapkan untuk membentuk mentalitas manajer koperasi desa yang tangguh, jujur, dan punya jiwa kepemimpinan tinggi. Koperasi desa sebagai pilar ekonomi arus bawah dinilai membutuhkan pengelolaan yang disiplin dan transparan agar tidak mudah goyah.
Baca Juga: Tak Tunggu Pasien Datang, Dinkes Kota Pekalongan Aktif Lacak Penyakit Menular di Masyarakat
Melalui pendekatan konten yang kasual dan jenaka dari para influencer, program yang awalnya terkesan berat ini justru mendapat respons positif dari masyarakat luas. Banyak netizen yang mengaku baru tahu kalau mengelola koperasi desa ternyata membutuhkan tanggung jawab dan fisik yang tidak main-main.
Kolom komentar di berbagai platform seperti TikTok dan Instagram penuh dengan reaksi beragam dari warganet. Ada yang tertawa melihat penderitaan idola mereka, namun tidak sedikit pula yang mengapresiasi langkah tersebut.
-
"ketawa ngakak guling² akuu pas galon melayang😂!" tulis salah satu netizen.
- "tolong bang berhenti dulu dech...bikin guwe ngompol tau bang😂😂😅," kata Habibina
-
"Keren! Koperasi desa emang butuh anak muda yang mentalnya baja kayak gini, biar nggak gampang dikorupsi," timpal netizen lainnya.
Tren viral ini membuktikan betapa cerdiknya para kreator digital dalam mengemas isu yang awalnya dianggap kaku dan formal menjadi konsumsi publik yang sangat segar. (dit)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto