METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Jantung berdebar, tangan berkeringat, suara bergetar saat harus berbicara di depan banyak orang. Kondisi itu masih menjadi momok bagi banyak orang, mulai dari pelajar, pegawai kantoran, pedagang, pelaku UMKM, ASN, hingga content creator. Namun, rasa grogi tersebut ternyata bisa dilatih dan diatasi.
Kesempatan itu akan hadir melalui Professional Speaking Class, sebuah workshop public speaking interaktif yang mengusung konsep fun, praktis, profesional, dan anti membosankan. Kegiatan ini akan digelar di Parkside Mandarin Hotel Pekalongan pada Minggu, 19 Juli 2026, pukul 09.00-12.00 WIB.
Dengan biaya pendaftaran Rp150 ribu, peserta akan mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda karena lebih banyak praktik dibanding teori.
Workshop ini menghadirkan dua narasumber bersertifikat nasional, yakni Rizqiya S.M., CPS, CT, Certified Communication Trainer BNSP RI, dan Farah Farhat, S.Sos., CPS, Certified Public Speaking BNSP RI.
Baca Juga: Parkside Mandarin Hotel Pekalongan Angkat Seafood Lokal, Hadirkan Sensasi Jimbaran di Pantura
Sales Executive Parkside Mandarin Hotel Pekalongan, Vinsensia Saras, mengatakan kelas ini terbuka untuk seluruh masyarakat tanpa memandang profesi. Menurutnya, kemampuan berbicara di depan umum saat ini menjadi salah satu keterampilan penting di berbagai bidang pekerjaan.
"Di dalam kelas nanti peserta akan lebih banyak praktik berbicara di depan audiens, belajar tips mengurangi rasa cemas, hingga bagaimana menyampaikan pesan secara efektif," ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Tak hanya itu, peserta juga berpeluang mendapatkan kesempatan menjadi master of ceremony (MC) atau pemandu acara. Pasalnya, Parkside Mandarin Hotel Pekalongan kerap menerima permintaan dari klien yang membutuhkan MC untuk berbagai kegiatan.
"Hotel sering mendapat permintaan bantuan mencarikan MC. Jika peserta memiliki kemampuan yang baik, tentu data kontak mereka bisa kami simpan dan kami hubungi ketika ada kebutuhan," jelas Saras.
Baca Juga: Bukber Mewah Hanya Rp 99 Ribu di Parkside Mandarin Hotel Pekalongan
Ia menegaskan, kelas tersebut bukan hanya untuk calon pembicara profesional. Bahkan seorang MC berpengalaman pun masih bisa mengalami rasa gugup ketika tampil di hadapan publik.
"Semua orang boleh ikut. Kemampuan berbicara yang baik akan membantu seseorang dalam bernegosiasi, menyampaikan ide, hingga membangun hubungan dengan orang lain. Intinya adalah bagaimana pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik," tambahnya.
Sementara itu, pemateri Rizqiya mengungkapkan bahwa metode pembelajaran dalam workshop lebih menitikberatkan pada praktik langsung.
"Sebanyak 60 persen materi berupa praktik. Public speaking tidak akan berkembang jika hanya belajar teori. Setiap peserta dipastikan mendapat kesempatan tampil secara personal," katanya.
Tak berhenti di situ, setiap peserta juga akan memperoleh feedback tiga arah, yakni dari pemateri, sesama peserta, dan evaluasi diri. Menurutnya, metode tersebut membuat peserta lebih cepat mengetahui kelebihan sekaligus aspek yang perlu diperbaiki.
Baca Juga: Ida Murlija Lega, Uang Rp1,5 Miliar Miliknya Yang Terendam Rob Dapat Diselamatkan
Senada dengan itu, Farah Farhat menjelaskan bahwa kelas ini sangat relevan diikuti oleh mahasiswa, pekerja, ASN, guru, pelaku UMKM, hingga content creator yang ingin meningkatkan kemampuan komunikasi.
Ia menilai kesalahan yang paling sering dilakukan pemula adalah terlalu fokus menghafal materi sehingga tampil kaku dan kehilangan alur pembicaraan.
"Solusinya bukan menghafal kata per kata, tetapi memahami inti materi, berlatih secara bertahap, dan membangun koneksi dengan audiens. Berlatih bersama peserta lain juga menjadi cara efektif untuk meningkatkan rasa percaya diri," jelasnya.
Melalui workshop berdurasi tiga jam tersebut, peserta diharapkan mampu membawa pulang bekal komunikasi yang dapat langsung diterapkan dalam dunia kerja, bisnis, organisasi, maupun kehidupan sehari-hari. Dengan suasana belajar yang interaktif dan penuh praktik, rasa gugup perlahan akan berganti menjadi keberanian untuk tampil percaya diri di depan siapa pun.(han/dit)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto