METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Persoalan pertemanan dan cinta monyet di usia remaja berujung pada insiden kekerasan yang membuat seorang siswa SMP Negeri 6 Kota Pekalongan harus menjalani perawatan di RSUD Bendan.
Perselisihan yang bermula dari komunikasi di media sosial itu berkembang menjadi pertemuan di lingkungan sekolah hingga terjadi kontak fisik.
Korban berinisial F (15), siswa kelas 9 SMPN 6 Kota Pekalongan, sempat mengalami penurunan kesadaran hingga koma setelah insiden tersebut. Kondisinya kini mulai membaik dan masih berada dalam pemantauan tim medis.
Peristiwa itu terjadi pada Kamis (13/8/2026) saat jam istirahat pertama, sekitar pukul 09.30 WIB. Berdasarkan klarifikasi awal pihak sekolah, persoalan bermula dari hubungan pertemanan F dengan seorang siswi berinisial R.
Kedekatan tersebut kemudian diduga memicu persoalan dengan mantan pacar R yang masih bersekolah di lingkungan yang sama. Komunikasi melalui media sosial menjadi salah satu pemicu ketegangan sebelum akhirnya persoalan tersebut dibawa ke lingkungan sekolah.
Baca Juga: UMKM Pekalongan Go Digital, Pasar Kini di Genggaman
Perwakilan SMPN 6 Kota Pekalongan, Qurratiani, didampingi Kepala SMPN 6 Kota Pekalongan Ikasari Dewi, menjelaskan pihak sekolah telah melakukan klarifikasi terhadap siswa maupun orang tua yang terlibat.
Perwakilan SMPN 6 Kota Pekalongan, Qurratiani, didampingi Kepala SMPN 6 Kota Pekalongan Ikasari Dewi, menjelaskan pihak sekolah telah melakukan klarifikasi terhadap siswa maupun orang tua yang terlibat.
"Ini memang berkaitan dengan pergaulan. Si anak memiliki teman dekat, dan teman dekat itu lawan jenis. Sementara temannya tadi masih punya cerita dengan mantan," ujar Qurratiani saat ditemui di RSUD Bendan, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, F sebelumnya berkomunikasi dengan siswa yang merupakan mantan pacar R. Komunikasi tersebut diduga muncul karena F merasa R masih mendapat gangguan.
Persoalan kemudian berkembang setelah pesan-pesan yang dikirim F dinilai sebagai bentuk ancaman oleh pihak lain. Informasi itu selanjutnya disampaikan kepada beberapa siswa kelas 9.
Baca Juga: Antrian IGD Jadi Sorotan, RSUD Bendan Tambah 114 Bed
Pada hari kejadian, F kemudian diminta datang untuk bertemu dan membicarakan persoalan tersebut. Pertemuan berlangsung di lingkungan sekolah, termasuk di sekitar kamar mandi sekolah.
Pada hari kejadian, F kemudian diminta datang untuk bertemu dan membicarakan persoalan tersebut. Pertemuan berlangsung di lingkungan sekolah, termasuk di sekitar kamar mandi sekolah.
"Pada awalnya mengundang si anak ini untuk bertemu, untuk mengonfirmasi maksudnya apa dari WA itu. Tapi karena mungkin ada persinggungan fisik yang pada akhirnya saling tidak terima, maka terjadi kontak fisik," jelas Qurratiani.
Pihak sekolah menyebut terdapat tiga siswa dalam pertemuan tersebut. Namun, berdasarkan hasil klarifikasi awal, dua orang yang melakukan kontak fisik dengan F.
Kekerasan tersebut diduga dilakukan menggunakan tangan kosong. Salah satu siswa yang terlibat diketahui memiliki prestasi di bidang bela diri taekwondo.
"Ya, kebetulan anak itu punya prestasi memang di bidang bela diri," kata Qurratiani.
Baca Juga: Parah!! 1.900 Pegawai Kemensos Terindikasi Terlibat Judol
Setelah kejadian, F pulang ke rumah. Kondisinya kemudian memburuk hingga keluarga membawa korban ke RSUD Bendan Kota Pekalongan untuk mendapatkan penanganan medis.
Setelah kejadian, F pulang ke rumah. Kondisinya kemudian memburuk hingga keluarga membawa korban ke RSUD Bendan Kota Pekalongan untuk mendapatkan penanganan medis.
Dokter spesialis bedah saraf RSUD Bendan Kota Pekalongan, dr. Bair Ginting, Sp.BS, mengatakan saat pertama tiba di rumah sakit, kondisi F sempat mengalami koma atau penurunan kesadaran berat.
"Waktu pasien masuk, saya dilaporkan kondisinya itu koma. Kemudian setelah diberikan obat-obatan dan oksigen, kondisinya perlahan membaik," kata dr. Bair.
Hasil pemeriksaan CT-scan memberikan kabar yang relatif melegakan. Dokter tidak menemukan perdarahan maupun memar pada otak korban.
"Hasil CT-scan-nya cukup baik, artinya tidak ada perdarahan atau tidak ada memar di sana," jelasnya.
Baca Juga: Miris, Tantangan Hafalan Al Quran Berhadiah Miras di Festival Musik Jakarta
Dokter menduga penurunan kesadaran yang dialami korban berkaitan dengan benturan keras pada bagian kepala.
Dokter menduga penurunan kesadaran yang dialami korban berkaitan dengan benturan keras pada bagian kepala.
Sementara terkait informasi adanya kemungkinan retak pada tulang tengkorak, dokter menjelaskan kondisi tersebut perlu dilihat berdasarkan hasil pemeriksaan secara menyeluruh.
Retakan tulang tengkorak akibat benturan, menurut dokter, tidak selalu menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Risiko yang lebih serius justru apabila terjadi perdarahan di dalam otak.
"Retak tulang tengkorak itu bukan sesuatu yang berbahaya atau sesuatu yang mengancam jiwa. Yang berbahaya justru kalau terjadi perdarahan di dalam otaknya," terang dr. Bair.
Meski kondisi F mulai membaik dan sudah dapat membuka mata, kemampuan komunikasinya masih belum sepenuhnya pulih. Tim medis masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisinya.
Di sisi lain, pihak sekolah menyatakan keselamatan korban menjadi prioritas. Sekolah juga telah memanggil orang tua dari siswa yang terlibat untuk mendapatkan keterangan sekaligus melakukan klarifikasi.
"Pagi ini tadi sudah kami undang semua. Baik si anak yang menjadi temannya maupun anak-anak yang beradu fisik dengan si anak F. Pihak orang tua dari yang kontak fisik juga sudah kami undang," ujar Qurratiani.
Sekolah mengaku mengetahui kejadian tersebut setelah menerima laporan dari orang tua korban pada Kamis siang, setelah F pulang sekolah. Dari laporan awal, korban mengalami luka fisik setelah terlibat kontak dengan dua siswa lainnya.
Qurratiani menegaskan, pihak sekolah tidak ingin terburu-buru menyimpulkan persoalan sebelum seluruh keterangan dikumpulkan. Terlebih, akar masalahnya diduga berawal dari dinamika pertemanan dan hubungan remaja yang kemudian berkembang menjadi konflik.
"Prioritas saat ini keselamatan anak. Yang kedua, tahapan kami adalah mengkonfirmasi semua orang atau anak-anak yang kebetulan menjadi trigger kejadian ini," katanya.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan relasi dan komunikasi di kalangan remaja dapat berkembang menjadi konflik apabila tidak diselesaikan secara tepat.
Komunikasi melalui media sosial yang awalnya dianggap sepele pun dapat memicu salah paham ketika dibawa ke lingkungan pergaulan sekolah.
Kini, perhatian utama tertuju pada pemulihan kondisi F. Sementara pihak sekolah masih menelusuri rangkaian kejadian dan melakukan pembinaan terhadap siswa yang terlibat bersama orang tua masing-masing.(han)
Sumber : metropekalongan.com