Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Buruh Jahit di Pekalongan Jadi Korban Dugaan Penyelewengan Kredit di BRI

Lutfi Hanafi • Selasa, 2 Juli 2024 | 16:40 WIB

PEGANG BUKU TABUNGAN: SGT,42, buruh jahit warga Pekalongan, jadi korban dugaan penyelewengan keuangan di BRI, menunjukkan buku Tabungan yang arus keluar masuknya ganjir.
PEGANG BUKU TABUNGAN: SGT,42, buruh jahit warga Pekalongan, jadi korban dugaan penyelewengan keuangan di BRI, menunjukkan buku Tabungan yang arus keluar masuknya ganjir.

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – SGT, 42, buruh jahit warga Kota Pekalongan menjadi korban dugaan penyelewengan kredit di BRI Pekalongan. Bahkan rekening banknya di BRI diblokir, tapi ada yang memanfaatkan untuk transaksi oleh pihak yang tak dia ketahui.

SGT membeberkan peristiwa yang merugikanya bermula dari niatnya mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp 50 juta ke BRI pada 2021 di BRI Unit Buaran.

Kemudian disetujui dengan kewajiban mengangsur sebesar Rp 1,5 juta per bulan selama jangka waktu tiga tahun. Namun SGT, hanya menerima pencairan uang sebesar Rp 45 juta.

Setelah angsuran berjalan dua tahun, muncul keterlambatan setoran satu bulan. Oleh pihak bank diminta penyelesaian di kantor.

Lalu dirinya diminta menandatangani dokumen pencairan baru Kredit Usaha Pedesaan Rakyat (Kupra) lagi sebesar Rp 50 juta. Dengan angsuran lebih murah sebesar Rp 1,390 juta selama lima tahun.

"Awalnya saya bingung diminta ke kantor untuk menyelesaikan tunggakan satu bulan, malah disuruh tanda tangan pencairan kredit baru,” ucap GT.

Karena masih penasaran, dirinya berinisiatif menanyakan persoalan tersebut ke kantor BRI Tirto dan Wiradesa. Namun membuatnya kaget, karena rekening tersebut ternyata dalam kondisi dibekukan dan menjadi urusan Kantor BRI Buaran.

"Saat masih mengangsur KUR, saldo sisa saya ada Rp 12 juta, namun hingga sekarang tidak bisa diambil karena terblokir,” ucapnya.

Hal yang sama terjadi di akad kredit baru, uangnya tidak bisa diambil. Karena bingung tetap harus mengangsur, akhirnya GT membiarkan saja angsuran kreditnya.

Yang SGT sesalkan, uang transfer dari saudara maupun teman sebesar Rp 3,5 juta dan Rp 1,5 juta ikut lenyap tidak bisa dicairkan. Baik melalui buku rekening maupun ATM. Padahal semua transaksi mulai dari catatan KUR, Kupra dan transfer dari luar, tercatat dalam rekening koran maupun buku tabungan.

Selain persoalan rekening kredit, SGT mengungkapkan di rekening BRI lainnya juga terdapat banyak keganjilan. Seperti pada 2021 ada uang masuk sebesar Rp 274 juta yang kalau ditambahkan dengan saldo mengendap sebesar Rp 25 juta totalnya menjadi Rp 299 juta.

Kemudian di periode yang sama, ada penarikan uang sebesar Rp 298 juta, tanpa diketahui dari mana asalnya. Kemudian di 2023 juga ada uang masuk lagi entah dari mana sebesar Rp 164.729.500.

Lalu di periode yang sama ada lagi penarikan uang Rp 10,7 juta. Lalu masih banyak lagi transaksi janggal yang tidak bisa disebutkan semuanya, namun dirinya tidak bisa mengakses rekening sendiri.

"Saya ini pegang buku dan ATM, tapi tidak tahu siapa yang menjadikan rekening atas nama saya digunakan transaksi oleh orang lain yang tidak diketahui,” ucapnya.

Selain itu, SGT juga bingung tercatat sebagai nasabah di kantor BRI Buaran tapi di buku tabungan tercetak Kantor BRI Tirto. Lantaran takut dan khawatir, SGT meminta bantuan hukum ke LBH Adhyaksa agar didampingi untuk menyelesaikan persoalan kredit yang diduga fiktif tersebut.

Sementara itu Kepala Cabang Bank BRI Pekalongan Purwanto saat dihubungi melalui sambungan telepon mengaku belum mengetahui adanya kasus tersebut dan ia pun meminta izin untuk mengeceknya.

"Saya belum mengetahui itu, maaf saya cek dulu ya mas, saya cek dulu," katanya sambil menutup pembicaraan. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#penyelewengan #bri #LBH Adhyaksa #kredit #pekalongan