METROPEKALONGAN.COM, Batang – Aksi sekelompok remaja yang hendak tawuran berakhir tragis setelah dihajar warga dan pekerja proyek di kawasan Kawasan Industri Terpadu (KIT) Batang, Senin sore 19 Mei 2025.
Keempat remaja tersebut digelandang ke Mapolsek Gringsing usai menonton membawa senjata tajam.
Insiden terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Sekitar 30 remaja diduga berasal dari sejumlah sekolah di Kendal melaju konvoi ke arah barat sambil membunyikan knalpot bising.
Baca Juga: Promo Film, Maxime Bouttier Belanja Batik Pekalongan untuk Luna Maya
Beberapa di antaranya bahkan masih mengenakan seragam sekolah dan membawa senjata tajam berukuran panjang.
Gerombolan itu sempat berhenti di sekitar Pasar Plelen, kemudian bergabung dengan rombongan lain dan kembali melaju ke kawasan KIT sambil menampilkan suara motor mereka.
Aksi mereka memancing sumber daya warga yang kemudian berinisiatif memblokir jalan dan mencoba membubarkan rombongan tersebut.
Baca Juga: Wawalkot Pekalongan Balgis Diab : Kampung KB Jangan Hanya Seremonial dan Gimmick Digital
Ketegangan memuncak saat warga, dibantu pekerja proyek di sekitar lokasi, melakukan kenyamanan.
Remaja-remaja itu lari tunggang langgang. Empat orang berhasil diamankan beserta motor dan senjata tajam yang mereka bawa.
Namun sebelum diserahkan ke polisi, mereka sempat merasakan "salam olahraga" dari warga yang kesal.
Baca Juga: Dai Kamtibmas dan Pelatih Silat, Dua Polisi Pekalongan Raih Penghargaan
“Suaranya bising banget dari arah timur, sudah bikin resah. Saya lihat ada yang bawa sajam, langsung saya teriak minta warga bantu,” ujar Tri Kamto, salah satu warga yang ikut melakukan penangkapan.
Polisi dari Polsek Gringsing datang tak lama kemudian dan segera mengamankan keempat remaja tersebut untuk mencegah amuk massa yang lebih parah.
Dari keterangan yang dihimpun, rombongan remaja itu mayoritas pelajar dari beberapa sekolah di Kabupaten Kendal.
Baca Juga: Komunitas Jeep BJC yang Siaga Bencana dan Getol Promosi Wisata Batang
Salah satu remaja berinisial L, 16, siswa kelas X SMK, mengaku hanya ikut-ikutan karena diajak teman lewat pesan singkat.
“Saya nggak kenal semuanya. Diajak ngumpul aja katanya solidaritas,” ucap L dengan wajah lebam, duduk lesu di ruang Polsek.
SU, 55, ayah L, tak mampu menyembunyikan kekecewaannya.
Saat menjenguk sang anak di kantor polisi, pria yang sehari-hari bekerja serabutan itu menangis sesenggukan.
“Saya banting tulang biar dia sekolah, tapi malah begini. Saya kecewa sekali,” keluh SU lirih.
Hingga tengah malam, keempat remaja masih menjalani pemeriksaan di Mapolsek Gringsing. Kapolsek Gringsing AKP Agus Windarto menyatakan masih mendalami kasus tersebut.
Baca Juga: Pulang Mancing, Warga Pecalungan Tewas Diseruduk KA Argo Sindoro di Perlintasan Tak Berpalang
“Masih kami proses. Untuk sanksinya, nanti kami akan memberlakukan sesuai aturan yang berlaku,” singkatnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras bahwa solidaritas buta bisa berujung pada celaka—terutama jika berakhir pada aksi brutal dan menyiarkan hukum.
Warga pun berharap ada tindakan tegas agar kasus serupa tidak terulang. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla