METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Dibalik tembok tinggi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Pekalongan, pada Sabtu pagi 31 Mei 2025, ada suasana yang berbeda.
Bukan ketegangan atau keluh kesah yang terasa.
Melainkan kedamaian, ketulusan, dan harapan yang terpancar dari wajah-wajah para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) atau narapidana (napi) saat mengikuti Kebaktian Paskah bersama jemaat lintas gereja.
Baca Juga: Jepang Jowo Siap Guncang Red Box Pekalongan, Wibu dan Cosplayer Merapat!
Tepat pukul 09.00 WIB, aula Rutan menjadi tempat bernaung spiritualitas.
Lagu-lagu pujian dinyanyikan, lantunan doa dinaikkan, dan Firman Tuhan dikumandangkan dengan penuh pengharapan.
Di tengah masa pembinaan, enam orang WBP Kristiani meresapi setiap rangkaian ibadah, seolah menemukan kembali cahaya dalam lorong kehidupan yang pernah gelap.
Baca Juga: Gairah Sepak Bola Tak Pernah Tua, Wali Kota Cup U-40 Jadi Ajang Nostalgia dan Silaturahmi
Acara yang berlangsung hingga pukul 11.15 WIB ini tidak hanya dipenuhi oleh jemaat dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) Pekalongan, namun juga melibatkan Gereja Bethel Mawar Sharon (GBM), AGAPE, GEPEMBRI, dan FGBMFI.
Kolaborasi lintas gereja itu menyampaikan satu pesan kuat, pemulihan jiwa adalah tugas bersama.
“Sinergi ini menjadi jembatan pengharapan bagi saudara-saudara kita di dalam rutan,” ujar Pendeta Deo Sugondo dari GKI Pekalongan dalam sambutannya.
Baca Juga: Tanggul Jebol di Perbatasan Pekalongan Banjir Makin Parah, Minta Gubernur Turun Tangan
Di hadapan para WBP, Pendeta Deo menyampaikan pesan kebangkitan Kristus sebagai simbol bahwa setiap orang, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan kesempatan kedua.
Baginya, pelayanan seperti ini adalah panggilan gereja untuk hadir tidak hanya di altar, tetapi juga di ruang-ruang pemulihan sosial.
Suasana ibadah terasa menyentuh saat salah satu WBP memberikan kesaksian iman, menceritakan bagaimana proses hukum yang dijalaninya justru menjadi titik balik untuk mengenal kasih dan pengampunan Tuhan.
Baca Juga: Aroma Mistis Kali Kuto, Korban Tenggelam Ditemukan, Urban Legend Menggema
Momen itu disambut haru oleh jemaat dan pelayan gereja yang hadir.
Acara ditutup dengan doa syafaat dan pembagian bingkisan Paskah, sebagai wujud nyata kasih dan kepedulian yang menyertai makna kebangkitan.
Bukan sekadar pemberian materi, tetapi bentuk pengingat bahwa di balik jeruji, ada hati-hati yang masih layak dikasihi dan disemangati.
Baca Juga: Puluhan Atlet Bulutangkis Perebutkan Kejuaraan Wali Kota Cup 2025
Menurut M Anang Saefulloh, Kepala Sub Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Pekalongan, kegiatan keagamaan seperti ini merupakan bagian dari pembinaan kepribadian yang terus diperkuat.
Ia menegaskan pentingnya dimensi spiritual dalam membentuk karakter baru bagi warga binaan.
“Kami percaya, pembinaan spiritual adalah fondasi penting untuk membangun harapan baru. Melalui ibadah ini, kami berikan ruang bagi mereka untuk berubah secara utuh,” jelasnya.
Baca Juga: Kelengkeng Mengubah Wajah Desa Kalisalak, Ini Mimpi Manis Menjadi Desa Buah
Bagi jajaran Rutan Pekalongan, pembinaan bukan hanya soal disiplin, tetapi juga menyentuh batin, membuka pintu maaf, dan mendorong semangat perubahan.
Kebaktian Paskah di Rutan Pekalongan bukan hanya perayaan iman, melainkan kisah tentang transformasi manusia, tentang bagaimana dinding penjara tak mampu menahan tumbuhnya pengharapan.
Dengan dukungan banyak pihak, terutama komunitas gereja, semangat Paskah menjadi nyata—menyapa, menguatkan, dan menyala kembali di hati yang sempat meredup. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla