Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Meninggal di Nusakambangan, Guru Cabul Ini Wariskan Luka Mendalam

Lutfi Hanafi • Senin, 7 Juli 2025 | 03:35 WIB
SEKOLAH - Di sekolah ini, kasus pencabulan siswa oleh guru setempat pernah terjadi.
SEKOLAH - Di sekolah ini, kasus pencabulan siswa oleh guru setempat pernah terjadi.

METROPEKALONGAN.COM, Batang – Bayangan kelam dari kasus pencabulan yang sempat mengguncang dunia pendidikan Indonesia kembali menyeruak.

Agus Mulyadi, 39, mantan guru agama SMP di Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, yang pada tahun 2022 lalu divonis 20 tahun penjara karena terbukti melakukan tindak pencabulan puluhan siswinya, meninggal dunia di Lapas Nusakambangan, Sabtu 5 Juli 2025.

Kabar duka datang tanpa peringatan.

Pihak Lapas menyampaikan, Agus meninggal akibat serangan jantung dan sempat dilarikan ke RSUD Cilacap sebelum dinyatakan meninggal dunia.

Jenazahnya langsung diantar ke kampung halamannya di Dukuh Pesalakan, Desa Sambongsari, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal.

Kemudian dimakamkan pada malam harinya.

Di tengah keheningan rumah duka, tampak seorang perempuan paruh baya menahan air mata sambil memeluk ketiga anaknya.

Dialah W, istri Agus, yang kini menjadi tulang punggung keluarga dengan membuka les kecil-kecilan di rumah.

“Anak bungsu kami lahir saat dia sudah di penjara,” katanya pelan.

Nama Agus Mulyadi menjadi momok menakutkan dalam dunia pendidikan usai terbongkarnya kasus pencabulan yang ia lakukan terhadap siswi-siswinya yang semuanya masih di bawah umur.

Modusnya begitu rapi, menggunakan kedekatan sebagai guru agama dan pembina OSIS.

Pelaku melakukan aksi bejatnya di ruang musala, ruang OSIS, bahkan saat jam pelajaran berlangsung.

Tak hanya itu, korban juga dipaksa mengirim video pribadi dengan dalih "praktik mandi besar".

Penolakan berujung ancaman nilai buruk atau intimidasi secara emosional. Teror itu membuat banyak siswi bungkam.

Hingga saja suatu hari, salah satu orang tua siswa menemukan isi percakapan mencurigakan di ponsel anaknya, sebuah pesan pendek yang membongkar semua kebusukan tersebut.

“Waktu itu cuma tiga siswi yang berani buka suara. Tapi setelah diselidiki lebih lanjut, jumlahnya tembus puluhan,” kata salah satu penyidik dari Polda Jateng yang saat itu menangani kasus.

Kematian Agus disambut dengan reaksi beragam. Bagi sebagian warga dan keluarganya, ini adalah kepergian yang menyedihkan.

Namun, bagi korban dan keluarganya, ini adalah momen getir yang mengaduk kembali luka lama.

“Pak Agus memang sudah meninggal, tapi efek psikologisnya masih kami rasakan hingga sekarang,” tutur salah satu korban yang masih enggan disebutkan namanya. 

Pihak sekolah, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), hingga Kak Seto kala itu turun tangan memberikan trauma healing kepada para korban.

Namun, proses pemulihan batin bukan perkara instan. Sebagian korban kini tumbuh dengan luka batin yang tak mudah sembuh.

Baca Juga: Guru Honorer di Pemalang Diduga Cabuli 4 Siswa SD, Polisi Tangkap dan Jerat Hukuman Berat 

Meninggalnya Agus Mulyadi tak serta merta menghapus jejak gelap masa lalunya.

Ia mungkin telah tiada, namun luka yang ia tinggalkan masih membekas pada korban dan dunia pendidikan.

Tragedi ini menjadi cermin bahwa kepercayaan adalah tanggung jawab besar, yang jika dikhianati, dampaknya bisa abadi. (han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Gringsing #smp #nusakambangan #guru cabul #batang #guru agama